
Seseorang masih saja mengintai Suci dengan niat yang buruk, siapa lagi jika bukan Mirza dan juga Siska yang masih memiliki dendam di masa lalu. Mereka tidak menerima perlakuan dari Zufar yang begitu memihak istrinya dan membawa cinta mereka hingga mati.
Rasa cinta yang ada di hati Mirza kian menipis, karena dia hanya mencintai uang dan juga posisi. Sementara Siska juga menginginkan hal yang sama, namun dia tak bisa hidup jika Suci masih hidup. Menerima tawaran untuk bersekutu, dan tidak membiarkan siapapun untuk menghalangi jalannya.
"Persetan dengan rencana dari pria ini, aku akan membunuhnya," batin Siska yang tersenyum licik, menemukan sebuah cara yang efektif ketika berada di dalam mobil.
Keduanya masih mengintai, bahkan menunggu jika targetnya selesai makan di restoran. Melihat target yang sudah keluar, membuat Siska bergerilya bebas dengan menjalankan rencananya untuk membunuh Suci, dengan mengumpan seorang anak kecil yang ikut dengan sang target.
Siska menyunggingkan senyuman dan menancap gas, sengaja menjalankan mobilnya ingin menyerempet gadis kecil.
Rasidha tidak sadar dengan mobil yang melaju ke arahnya, Suci melihat hal itu dan mendorong tubuh anak angkatnya dan juga Nadia. Tidak menghiraukan dirinya dengan mengorbankan nyawa untuk putri angkatnya, hingga dirinya tertabrak dan terlempar beberapa meter.
__ADS_1
Pangan kian mengabur dan juga buram, melihat samar Rasidha yang menghampirinya sembari menggoyangkan tubuhnya. Suci tersenyum dan menyentuh pipi putrinya, namun kedua matanya terpejam.
Deg
Rasidha segera berdiri dan melihat ibu nya sudah terseret, tubuh yang bergelimang darah dan bahkan mengotori jalanan benar-benar membuatnya shock dengan bibir yang pucat.
"Ibu," pekiknya yang menghampiri Suci. Dia menangis histeris di kala melihat sang ibu sudah memejamkan mata. "Jangan tinggalkan aku, Ibu. Ku mohon, buka mata Ibu!" rintihnya yang menangis histeris.
Nadia sangat terkejut dan segera meminta tolong, banyak orang yang menghampiri mereka dan mengerubungi Suci yang tidak sadarkan diri.
Beberapa pengawal yang mengawasi, sangat terkejut jika Suci penuh dengan darah. Mereka lalai dengan tugas dan salah satu menelepon Zaid dan juga asisten Doni. Mereka segera mencari mobil yang menabrak ,mencari hingga dapat karena kecepatan mobil bukanlah suatu hal yang masalah besar bagi mereka. Karena kelalaian mereka membuat kehidupan Suci terancam, dan berjanji pada diri mereka sendiri untuk tidak melepaskan sang pelaku.
__ADS_1
Sementara Mirza sangat terkejut, dan masih membayangi jika Suci ada di depan mobil mereka. Hal itu membuatnya sangat shock dan bahkan menarik rambutnya sendiri, tak bisa berkata-kata. Dia segera menoleh ke samping dengan raut wajah yang sangat marah dan murka. "Apa yang kamu lakukan ini bukanlah rencananya, mengapa kamu menabrak wanita yang aku cintai?" protesnya yang berteriak, dia sangat panik saat melihat kondisi mantan kakak iparnya bersimbah darah.
"Persetan dengan semua rencanamu, yang penting Suci telah tiada dan akulah yang menjadi pembunuhnya. Bukan hanya aku, kamu juga terlibat dalam rencana ini. Setidaknya aku mempunyai teman untuk masuk ke dalam penjara."
"Argh, wanita brengsek. Berani sekali kamu melakukan itu padaku." Mirza tak bisa mengontrol emosinya dan menampar pipi Siska, dan mereka berdebat di dalam mobil bahkan melupakan ada beberapa mobil yang mengejar mereka.
"Apa kamu pikir aku takut denganmu, hah? Aku tahu kamu sangat licik, tapi aku adalah ratunya licik. Rencanamu begitu lamban dan tidak akan membuat aku tenang, dan sekarang hanya ingin menunggu berita dari kabar kematian Suci. Suka ataupun tidak, yang penting aku sudah menjalankannya misiku ini." Tukas Siska yang begitu puas dan tidak menghiraukan beberapa orang yang mengajarkan mereka.
Siska terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh karena terdesak di saat beberapa peluru mengenai jendela belakang mobil dan itu sangat membuat mereka takut, segera menghentikan perdebatan itu. Siska melihat kaca spion, beberapa mobil mengikuti mereka dan menembak mengenai bodi mobil.
"Astaga…mereka banyak sekali dan juga bersenjata," racau Mirza yang menoleh ke belakang. "Ini semua karenamu, pikiran dangkal mu malah membuat kita terjebak. Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Cukup sulit untuk menghindar.
__ADS_1
"Aku tidak peduli, dan aku akan berusaha untuk kabur." Putus Siska mengambil jalanan di sisi kiri, dimana jalan yang ditempuh sangatlah berbahaya dan juga di sisi kiri ada jurang. Keduanya melirik kaca spion dan masih diikuti oleh beberapa mobil, beberapa orang duduk di jendela dan menembak bagian penting mobil.
Para bawahan yang melindungi Suci, Nadia dan Rashida, mengejar bahkan kelompok dari asisten Doni juga ikut mengejar. Mereka menembak bagian ban hingga mobil yang dikendarai oleh Siska dan juga Mirza kehilangan keseimbangan dan masuk ke dalam jurang.