
Dokter datang kerumah, membuat semua orang tampak panik terutama Suci yang mencemaskan keadaan sang suami. "Aku menemukannya pingsan, cepat periksa suamiku, Dokter!" pintanya dengan mata yang berair.
"Baik, mundurlah!" titah sang dokter yang mulai menjalankan tugasnya.
Suci segera mundur, meremas kedua tangannya yang menandakan jika dirinya sangatlah panik. Berada di samping suaminya, ingin mengetahui bagaimana kondisi terkini, terlihat cara kerja sang dokter yang begitu lihai dalam merawat pasien. "Ba-bagaimana kondisi suamiku, Dok?"
"Biar lebih jelasnya, sebaiknya suami anda di bawa ke rumah sakit. Saya tidak bisa mengatakan secara pasti, sebaiknya dibawa ke rumah sakit."
"Apa begitu parah, Dok?"
"Maafkan aku yang tidak bisa menebaknya, ini diperlukan beberapa tes untuk memastikan apa yang terjadi."
"Lakukan yang terbaik untuk suamiku, Dok."
"Hem, saya akan melakukan semaksimal dan semampunya. Anda hanya berdoa untuk keselamatan pasien, saya akan menghubungi ambulans dulu." Kata sang dokter yang segera menjauh untuk menghubungi ambulans dan beberapa perawat.
"Ya allah…ya Tuhanku, berikan kesembuhan untuk suamiku. Aamiin." Lirihnya yang mengingat untuk menghubungi mertuanya yang menginap di rumah putra keduanya.
Beberapa kali dia mencoba untuk menghubungi ibu mertuanya, tetapi tidak tersambung. Kembali mencoba lagi dan lagi, kesabarannya berbuah masih, akhirnya telepon itu diangkat. "Assalamualaikum, ma."
"Wa'alaikumsalam Nak, ini belum pagi. Ada apa menelepon mama?"
"Ma-mas Zufara…Mas Zu-Zufar."
"Ada apa dengannya?"
__ADS_1
"Cepatlah datang ke rumah sakit terdekat."
Suci terpaksa memutuskan sambungan telepon, di saat mendengar sirine mobil ambulans yang berhenti di depan rumah. Beberapa orang berpakaian putih datang, membawa tubuh Zufar menggunakan tandu.
Mereka beranjak dari tempat itu dan segera melarikan Zufar ke rumah sakit.
Dia sangat panik, dan tidak bisa berpikir jernih. Perasaan yang bercampur aduk, kesedihan yang kembali menghampirinya. "Bertahanlah Mas, demi aku!" lirihnya menggenggam sebelah tangan sang suami dan menempelkannya di pipi.
Sesampainya di rumah sakit, beberapa orang menyambut kedatangan mereka dengan brankar, menunggu kedatangan pasien yang darurat. "Cepat angkat tubuh pasien!" titah sang dokter dan dipatuhi oleh para perawat yang segera memberi penanganan terbaik.
Suci tidak tahu apa yang akan dia lakukan, hanya menangis dan berdoa untuk keselamatan suaminya, mengikuti kemana semua orang itu mendorong brankar. "Mas, buka matamu!" lirihnya sembari menyeka air mata yang mengalir deras di pipi, mengikuti langkah yang setengah berlari tidak menghiraukan kondisi tubuhnya yang belum pulih akibat keguguran.
"Sebaiknya anda menunggu di luar!" ucap suster yang hendak menutup pintu.
"Tolong, patuhi peraturannya. Tunggu diluar dan jangan mengganggu tim medis!"
"Tapi Sus__."
Belum sempat Suci menyelesaikan perkataannya, lebih dulu pintu tertutup. Cairan bening di pipi membuat matanya sembab, ujian yang menimpanya selalu datang bertubi-tubi.
Dua orang yang berlari menuju lokasi, Tini yang datang bersama dengan Mirza menghampiri Suci.
"Apa yang terjadi, Nak?"
Suci menoleh dan menghamburkan pelukannya. "Mas Zufar ada di dalam ruangan itu."
__ADS_1
"Tapi, apa yang terjadi?" tanya Mirza yang tak mengerti apapun, raut wajah yang bingung karena selama ini kakaknya terlihat sehat.
"Aku juga tidak tahu, a-aku menemukannya mas Zufar yang sudah tergeletak di lantai."
Tini hanya termenung, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Tenangkan dirimu, Sayang. Zufar pasti baik-baik saja!"
"Aku sangat takut!"
"Tenanglah, ada aku disini."
Suci sangat takut, kali pertama suaminya yang begitu tak berdaya. "Apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya yang mengontrol kesedihannya.
Tak lama, dokter segera keluar setelah melakukan serangkaian tes dan juga memeriksa keadaan pasien. Pintu terbuka, dan dengan cepat mereka mengelilingi pria yang mengenakan jas putih itu. "Bagaimana dengan kondisi suamiku, Dokter" desaknya dengan kedua mata yang terpancar harapan di sana.
"Apa yang terjadi dengan anak saya?"
Dokter menghela nafas. "Saya belum bisa mengatakannya sekarang, tunggulah beberapa saat hingga hasilnya keluar." Katanya dan segera pergi mengambil hasil lab.
Cukup lama mereka menunggu, terutama Suci yang bolak-balik menunggu kedatangan dokter dan juga hasil mengenai kesehatan dari suaminya. Hingga kedua matanya berbinar, saat dokter itu berjalan menghampiri mereka berdoa agar tidak terjadi masalah serius.
"Ini hasilnya!" dokter menyerahkan amplop yang berisi hasil kondisi dari zufar.
Suci segera meraihnya dan membuka amplop, membuka kertas yang berlipat dan mulai melihat hasilnya. Kedua pupil mata yang membesar, mulut yang menganga, dan tatapan kosong. Laporan itu mengatakan, jika zufar sakit kanker otak stadium akhir.
"Pasien telah mengidap kanker otak stadium akhir, dan cukup sulit untuk menyembuhkannya. Bahkan hidupnya divonis hanya bertahan tak lebih dari enam bulan saja."
__ADS_1