Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 26 - Bersikap romantis


__ADS_3

Di Palestina, seorang gadis kecil duduk termenung di reruntuhan bangunan yang hampir rata. Begitu banyak kenangan di reruntuhan itu, tempat tinggalnya sewaktu memiliki keluarga yang lengkap. Meratapi nasibnya yang sekali lagi kehilangan orang yang dicintainya, pertemuan singkat yang membuat Rasidha begitu menyukai Suci yang terlihat mirip dengan ibunya yang telah tiada. 


Menggenggam  liontin yang baru saja dia lepas, melihat ukiran unik yang bertuliskan "Suci" dalam bahasa arab. Menggenggamnya dengan erat dan menempelkan di dadanya, sedikit mengurangi rasa kerinduan kepada ibu relawannya. Bulir cairan bening mengalir deras, sesekali sesegukan mengingat perpisahan yang terjadi tiga hari yang lalu. 


Seseorang bersorban duduk di sebelah gadis itu, mengetahui perasaan Rasidha yang kehilangan Suci, dan entah berapa lama mereka akan bertemu kembali. "Paman tahu, pasti merindukan Ibu Suci?" tutur Zaid yang mencoba untuk menghibur gadis kecil itu. 


Rasidha membalas dengan anggukan kepala, terdengar isak tangis membuat Zaid tak tahan dan memeluk tubuh mungil itu. Dia juga merasa kehilangan, pertemuan singkat yang harus lepaskan, mengingat Suci berstatus suami orang. "Aku juga merindukannya," batinnya yang mencoba untuk tegar.


"Sudahlah, jika tiba masanya kita akan bertemu dengannya. Eh, apa yang ada di genggamanmu?" 


Rasidha segera menunjukkan sebuah liontin berukiran khas, hadiah pemberian Suci dan kenangan indah. 


"Liontinnya sangat indah, darimana kamu mendapatkannya?" tanya Zaid yang penasaran, melihat liontin bertuliskan nama "Suci". "Apa ini punyanya?" Rasidha menganggukkan kepala dengan sangat antusias, segera mengambil liontin itu dan memasangnya di leher.


Zaid merasa luka lamanya kembali terbuka, selalu menemukan Rasidha di reruntuhan rumah. Rasa bersalah karena sudah membunuh kedua orang tua gadis kecil itu, namun dia sudah berusaha untuk menebus kesalahan dengan cara merawat gadis kecil dengan sangat baik, memberikan kasih sayang layaknya keluarga. "Semua orang mencarimu, lebih baik kita bergabung dengan mereka!" 


Rasidha menggelengkan kepala, menggerakkan tangannya menolak ajakan pria yang mengenakan sorban. Dia masih ingin berlama-lama di sana, hanya melepas rasa kerinduan akan keluarganya. Menatap wajah pria dewasa di sebelahnya, sedang memperhatikan sesuatu. 


"Mengapa melihatku seperti itu?" 


Rashida hanya menggeleng, dan berlari menuju arah ke yayasan, meninggalkan Zaid seorang diri. "Apa dia mengenali wajahku?" gumamnya yang sangat takut jika hal itu sampai terjadi, tidak bisa menerima kebencian dari gadis itu. 

__ADS_1


****


Selama beberapa hari, Zufar tidak pergi ke kantor, lebih memilih bersama istri pertamanya dan memanjakan semampunya. Dia bahkan tak memperbolehkan Suci untuk turun dari tempat tidur, menjadikan dirinya sebagai sandaran. 


"Jika Mas selalu berada di sini, bagaimana dengan Siska?"


"Ada Mama yang menjaganya, aku sudah melihat keadaannya, dan dia baik-baik saja." Sahut Zufar sembari menyuapi sang istri. 


"Tapi dia juga butuh kamu, mengandung benih darimu, Mas." Suci mencoba untuk mengarahkan sang suami untuk bersikap adil, karena keputusan itu sudah di ambil oleh Zufar di saat memutuskan menikahi Siska secara diam-diam setahun yang lalu. 


"Nanti aku melihat keadaannya, sekarang habiskan makananmu. Mulai hari ini aku akan bekerja di kantor, asistenku itu tidak bisa diharapkan. Banyak pekerjaan yang terbengkalai, dan aku harus turun tangan." 


"Aamiin, sudah waktunya sholat ashar." Zufar melirik jam di tangannya yang sudah waktunya menghadap sang Khalik. 


"Kita sholat bersama ya Mas, sudah lama tidak berjamaah," seru Suci yang sangat bersemangat dan antusias.


"Tapi…kondisimu?" 


"Kita bukan sedang berperang, Mas." 


"Iya…iya, aku tahu. Hari ini kamu menang, kita sholat berjamaah sesuai permintaanmu." Pasrah Zufar yang membuat keduanya tersenyum, momen yang sudah lama mereka lewati.

__ADS_1


Zufar membantu Suci, menggendong tubuh sang istri, menemani saat mengambil air wudhu. Setelah itu, kedua nya membentangkan dua sajadah, dimana pria itu menjadi imam untuk makmumnya. Sholat yang khusyu, dalam keheningan suasana. Menghadap kepada sang Rabb, menjalankan kewajiban sebagai umat islam. 


Usai salam, tak lupa untuk berdzikir dan berdoa. Menadahkan kedua pasang tangan, dengan doa yang di panjatkan masing-masing individu. "Ya Allah, berikan keberkahan dalam setiap jalan yang kami tempuh. Kuatkan pondasi rumah tangga yang hampir retak, berikan keridhaan kepada kami agar tetap berjalan pada apa yang engkau kehendaki. Aamiin," gumam Suci di dalam hati, mengusap wajah menggunakan kedua tangannya.


Suci merangkak ke samping sang suami, segera meraih tangan dan menciumnya. Sedangkan Zufar membalasnya dengan mencium kening sang istri. Keduanya tampak romantis, mereka tersenyum bahagia, pria itu juga mengelus perut yang masih rata, tak lupa mengecupnya juga. "Cepatlah lahir, Nak. Ayah sudah tidak sabar menunggu kelahiranmu."


"Ayah harus menunggu delapan bulan lagi untuk menemuiku," sahut Suci yang menirukan suara balita. 


"Oh, benarkah? Apa tidak bisa di percepat?" 


"Tidak, aku masih dalam pertumbuhan. Jadi, bersabarlah hingga waktunya tiba."


"Hah, sayang sekali." Keluh Zufar yang berpura-pura merajuk. 


Sepasang mata tengah melihat keromantisan dua sejoli, kemarahan di hati terpancar lewat tatapannya. Meremas ujung pakaiannya, dan menggertakkan gigi mencoba untuk tetap bersabar. "Semenjak kehadiran mbak Suci, aku terlantar. Seluruh prioritas mas Zufar hanya tertuju padanya, apa mereka tidak memikirkan bagaimana perasaanku yang terluka?" gumam Siska yang geram.


"Apa sekarang kamu mulai mengintip mereka?" celetuk seseorang membuat Siska segera menoleh ke sumber suara.


"Mama, sejak kapan berdiri di situ?" 


"Sejak kamu mengoceh tak jelas."

__ADS_1


__ADS_2