Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 52 - Tabah


__ADS_3

Zufar tak berdaya dengan penyesalannya, kehilangan janin yang tidak dia inginkan, tidak menerima anak perempuan. Mengintip di celah pintu kamar, melihat sang istri yang sangat sedih kehilangan calon anaknya. "Dia masih sedih, apa yang harus aku lakukan untuk menghiburnya?" batinnya.


Zufar kembali ke ruang kerjanya, melihat laporan yang baru saja dikirim oleh asistennya. Terdengar suara dering dering ponsel, dengan cepat dia meraih benda pipi itu dan mengangkat telepon setelah melihat siapa yang menghubunginya. 


"Halo."


"Halo Tuan, apa laporan itu sudah di lihat?" 


"Hem, aku baru saja ingin melihatnya."


"Ada kabar bagus, Tuan."


"Katakan."


"Tuan Simon tidak memutuskan kerjasama dan ingin melanjutkannya, jadi kita tidak mempunyai kerugian untuk proyek ini."


"Hem, atur pertemuanku dengannya!" 


"Baik, Tuan."


Zufar kembali meletakkan ponselnya di atas meja, memainkan pulpen seraya berpikir mengenai sikap pemimpin dari perusahaan SA Group. "Ini aneh, aku mendengar jika pimpinan Simon sangatlah kejam sepertiku, dan tidak akan menerima konsekuensi di saat aku tidak hadir saat pertemuan itu. Apa yang membuatnya begitu tertarik dengan kerjasama ini? gumamnya. 

__ADS_1


****


Suci berusaha untuk melupakan kesedihannya, menyadari jika tindakannya salah yang larut dalam kesedihan. Dia tak ingin terlihat rapuh dan bangkit dalam keterpurukan, mengawali harinya dengan lapang dada. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tuturnya yang tidak bisa melakukan apapun selain di kamarnya. 


Suci memutuskan untuk duduk di atas balkon, menikmati udara dingin yang menyentuh kulit, dan menerpa wajahnya. Mendongakkan kepala menatap indahnya langit yang dihiasi bintang berkelap-kelip, tak terasa air matanya jatuh dengan sendirinya. "Kapan aku bisa merasakan bahagia? Mulai sejak aku dilahirkan hingga sekarang, hanya hidup dari simpati beberapa orang." Rintihnya di dalam hati. Ingin rasanya dia menghilang, tapi dia juga ingin menggapai kebahagiaan.


Terdengar suara ketukan pintu, dengan cepat dia menyeka air matanya. 


"Suci, apa kamu sudah tidur?" 


Suci melangkahkan kakinya gontai, menguatkan hati dan mulai menerimanya. Segera membukakan pintu dan melihat seorang pria tampan menatapnya dengan nanar. "Ada apa Mas?" lirihnya pelan, berusaha untuk tidak menangis lagi.


"Apa aku boleh masuk?" 


Zufar berjalan masuk ke kamar, duduk di sofa yang tersedia, menatap wajah sang istri yang masih terlihat sedih. "Aku minta maaf, apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan ku?" berharap jika dia mendapatkan kesempatan.


Suci terdiam, lidah seakan keluh untuk mengatakan apa yang dia inginkan. Selama ini dia hanya bisa sabar dengan perlakuan sang suami yang begitu egois, masih menunduk tak ingin menatap wajah suaminya. 


"Ku mohon, jangan seperti ini. Jika kamu diam, bagaimana aku memahaminya!" ujar Zufar yang gusar, tak tahu mau bertindak.


"Apa kamu mencintaiku, Mas?" 

__ADS_1


"Pertanyaan apa itu? Tentu saja aku mencintaimu," jawab Zufar dengan cepat.


"Harusnya kamu memahami apa yang aku inginkan, setelah kita melewati hari-hari yang sulit."


"Aku bukan manusia yang bisa membaca pikiran, katakan saja!"


"Aku hanya ingin kamu mengerti perasaanku, hanya itu saja!"


"Baiklah, aku akan mencoba semampuku. Aku minta maaf, dan berikan aku kesempatan untuk memperbaikinya." 


"Baiklah, aku memaafkanmu, Mas."


Zufar tersenyum dan segera memeluk tubuh istrinya dengan erat, seakan tak ingin terlepas. Tak lupa dia juga mengecup kening sang istri dengan sangat lembut. "Aku mencintaimu, istirahatlah." 


Suci menganggukkan kepala dan memejamkan mata, Zufar menemani sang istri tertidur, membelai rambut panjang dan lebat dengan lembut. Beberapa saat kemudian, dia menatap wajah teduh istrinya yang sudah terlelap dari tidurnya. "Maafkan aku!" lirihnya dan kembali mengecup kening, mematikan lampu setelah menyelimuti istrinya. 


Zufar keluar dari kamar, kembali menuju meja kerja dengan perasaan tak menentu. Duduk di kegelapan malam, sengaja tak menghidupkan lampu. 


Seperempat malam, Suci terbangun dari tidurnya, meraba di sebelahnya yang masih kosong. Dia menoleh dan tidak terlihat siapapun, celingukan dengan menyusuri pandangannya di dalam kamar. "Dimana Mas Zufar?" 


Suci segera beranjak dari tempat tidur, mengenakan kerudung yang menutupi dada. Perasaannya sangat tak menentu, memaksakan diri mencari di setiap sudut ruangan, berharap jika dia menemukan suaminya. Satu persatu memeriksa ruangan, tapi tak menemukannya. "Aku belum  memeriksa di ruang kerja." Dia menarik nafas dalam dan segera mencari keberadaan Zufar, membuka pintu dan sangat terkejut melihat keadaan suaminya yang tergeletak di lantai. 

__ADS_1


"Mas Zufar." Pekiknya yang memaksakan diri untuk berlari, menghampiri sang suami dan memeluk tubuh lemas itu. "Bertahanlah Mas, aku akan menelepon dokter." Dengan cepat, dia meraih ponsel suaminya, menghubungi dokter dari rumah sakit terdekat. 


Suci menangis melihat kondisi suaminya yang terlihat sangat pucat, sangat panik dengan situasinya saat ini. "Seseorang, tolong bantu aku!" lirihnya yang memanggil pelayan.


__ADS_2