
Seorang anak kecil berlari ke arah Suci dan memeluknya dengan erat, seakan mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Pelukan yang terjadi beberapa detik dan kembali melepaskannya dengan melemparkan wajah tersenyum bahagia. Gadis kecil yang selalu menyukai kehadirannya, bagai sudah lama mengenal.
"Rasidha, mengapa menatapku begitu?" tanya Suci yang tersenyum, selalu mengajak anak kecil itu untuk berkomunikasi. Dia tahu, jika tidak akan mendapatkan jawabannya, karena trauma masa lalu.
Dengan cepat gadis kecil itu menggelengkan kepala, menyentuh wajah Suci dengan linangan air mata. Menatap lekat dan saling berkontak mata, membuat keduanya hanyut dalam perasaan masing-masing. "Jangan menangis, apa Rasidha tak mau makan? Bergabunglah bersama yang lain," ucapnya sambil menyeka air mata gadis berusia lima tahun.
Rashida kembali menggeleng dengan tidak bersemangat, sudah lama dia tidak merasakan suapan dari seorang ibu. Suci memahami hal itu, dan segera mengambil sepiring makanan dan menyuapinya penuh kasih sayang. "Tak mau makan? Tak masalah, Ibu akan menyuapimu," tuturnya yang memperagakan mulut terbuka agar gadis kecil itu mengikutinya.
Satu suapan berhasil masuk ke dalam mulut, Rasidha sangat senang hingga memeluk Suci dengan erat. Kali ini air matanya yang keluar, bisa merasakan menyuapi seorang anak kecil.
"Ya Tuhanku…inilah rasanya menjadi seorang ibu? Rasa sakitku berkurang semenjak anak ini mendekatiku, bagaimana aku bisa pergi?" batinnya yang sedikit sedih.
Suapan demi suapan lolos masuk kedalam mulut kecil itu, seakan mereka saling melengkapi satu sama lainnya.
"Siapa saja yang melihat pasti mengira kamu ibunya Rasidha," ucap seseorang yang menarik perhatian.
Suci menoleh ke sumber suara, terlihat seorang bersorban menghampiri mereka. "Tuan Zaid?"
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Zaid yang menyambut pelukan Rasidha, menyamakan tinggi dengan si gadis kecil. "Apa perut ini sudah kenyang?" tanyanya sembari melepaskan pelukan, hanya mendapatkan balasan berupa anggukan kepala sebanyak satu kali.
__ADS_1
"Aku baru saja selesai menyuapi dia makan, anak-anak lain begitu lahap. Tapi Rasidha belum makan apapun sejak pagi," jelas Suci seraya menundukkan kepala.
Zaid menganggukkan kepala, tersenyum dari balik sorban yang menutupi wajahnya. "Kalian terlihat serasi."
"Apa terlihat seperti itu?"
"Ya, itu benar. Tampak kamu sudah menyesuaikan diri di sini," celetuk Zaid.
"Aku merasa nyaman disini, tapi tak akan berlangsung lama."
"Apa aku boleh tahu alasannya?"
"Secepat itu?" Zaid sangat terkejut dengan kepergian Suci yang sebentar lagi meninggalkan yayasan itu. Terlukis raut wajah kecewa, mengalihkan perhatiannya kepada Rasidha.
"Lupakan saja!" cetus Suci.
"Hem, Rasidha…aku harus pergi, bermainlah dengannya dulu." Ucap Zaid yang di anggukkan kepala oleh gadis kecil itu.
Zaid melangkahkan kakinya masuk ke dalam yayasan, seperti biasa menyumbangkan sebagian gajinya untuk membantu anak-anak yang sudah kehilangan keluarga. Sementara Suci kembali bermain dengan Rasidha dan juga mengundang anak-anak lainnya.
__ADS_1
Bermain dengan anak-anak membuatnya lupa akan waktu yang sudah petang, melangkahkan kaki menuju kamar yang hanya muat untuk dua orang saja. Melihat suasana tempat sederhana itu, hatinya merasa tersentuh karena selama ini dia hidup berkecukupan. "Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Hanya tersisa empat hari lagi, apa aku sudah siap dengan masalah ini?" gumamnya yang menutupi mulut menggunakan tangannya.
Memegang perut yang masih rata dan tersenyum bahagia, dia sudah mendapatkan jawaban dari doanya. "Aku akan kembali, memberikan identitas mu dan juga kasih sayang seorang ayah." Air mata kembali menetes saat merelakan semua yang terjadi padanya.
Suci tak menghiraukan bagaimana sang suami telah mengkhianatinya, yang terpenting anaknya mendapatkan kasih sayang yang adil.
Di malam hari, bentangan sajadah dan memakai mukenah. Beribadah kepada sang pencipta, berdoa agar dirinya kuat dalam menjalani rumah tangga.
****
Seorang pria tidak bisa tidur di saat perkataan seorang wanita yang masih terlintas di pikirannya, entah mengapa dia merasa kecewa dengan keputusan itu. "Mengapa dia pergi begitu cepat? Apa ini karena suaminya? Mengapa aku bisa tertarik dengan wanita yang sudah bersuami?" begitulah yang ada di pikirannya, baru saja dia mempunyai arah untuk hidup, tapi hal itu kembali direnggut olehnya.
"Apa aku pria yang tak pantas untuk dicintai? Perkenalan singkat membuatku ikut terlena, aku menyukai kepribadiannya dan juga suaranya di saat membaca buku tebal itu, sangat syahdu terdengar." Monolognya dengan tatapan sendu, kegalauan hati.
"Kamu berubah semenjak menyukai wanita muslim itu," celetuk Felix yang duduk di sebelah sahabatnya.
"Aku masih sama," elaknya.
"Benarkah? Kemana Simon yang terkenal bengis dan juga kejam? Semenjak kamu menyelamatkan gadis kecil itu, dan perkenalan singkat membuatmu berubah. Apa kamu sekarang sudah mempunyai hati? Bukankah kamu memusuhi agama muslim?"
__ADS_1
Simon sangat marah mendengar perkataan itu, dia ingin menyangkal kebenaran. "Jika kamu mengatakannya lagi? Jangan salahkan leher itu terlepas dari tubuhmu." Ancamnya.