Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 68 - Tolong, lepaskan aku!


__ADS_3

Suci tersentak kaget saat mendengar suara dari kamar mandi, meraba bagian di sebelahnya dan tidak merasakan keberadaan suaminya. "Mas Zufar?" dia sangat terkejut, dan segera berlari menuju kamar mandi. Melihat suaminya yang terus saja mengeluarkan sisa-sisa makanan dari dalam mulutnya, hal itu membuatnya sangat panik dan segera membantu suaminya. 


Zufar segera menoleh, di saat merasakan dua tangan memegang pundaknya. Dia tak sanggup dengan apa yang dirasakan saat ini, wajah yang sangat pucat dan kedua tungkai kaki yang lemas. "Mas," Suci segera membantunya untuk menopang tubuh yang hampir saja terkulai.


Setelah selesai, Suci membopong tubuh suaminya dan membawa untuk berbaring di atas tempat tidur. Menguatkan diri yang menumpu berat badan sang suami, dan meletakkannya secara perlahan. 


"Bertahanlah, Mas!" Suci meraih ponselnya dan menghubungi asisten Doni, dan juga pihak rumah sakit. 


Suci menangis melihat kondisi suaminya yang tidak ingin pengobatan, bahkan seharian mereka menghabiskan waktu bersama. "Maafkan aku, Mas." Lirihnya yang sesegukan.


Pandangan penglihatan Zufar menurun, tapi dia tahu jika istrinya sedang mengkhawatirkan dirinya. Segera dia menyeka air mata dan tersenyum lembut, tidak ingin jika ada kesedihan. "Janganlah bersedih untukku, kuatkan aku dengan senyumanmu." Lirihnya. 


"Aku sangat mencemaskanmu, Mas. Masih banyak hal yang belum kita selesaikan."


"Sepertinya itu tidak akan mungkin terlaksanakan, terima kasih sudah menemaniku selama delapan tahun. Kamu begitu sabar menghadapi sikapku yang selalu berubah-ubah, tapi percayalah! Aku hanya mencintaimu." 


Suci semakin meneteskan air matanya, melihat kondisi Zufar yang sangat parah. "Aku akan menelepon pihak rumah sakit, semoga saja mereka datang lebih cepat." Selanya yang segera meraih ponsel, namun tangannya ditahan oleh. 


"Itu tidak akan membantu, sakitku tidak bisa di sembuhkan dan sepertinya…sepertinya," Zufar tak dapat melanjutkan perkataannya, karena rasa sakit di kepala. 

__ADS_1


"Jangan menghalangiku untuk menelepon dokter, aku tidak sanggup melihatmu begini Mas!" desak Suci yang kembali mencari kontak di ponsel, ingin meminta bantuan.


Lagi dan lagi, Zufar menahan niatnya itu. Dia hanya ingin di sisa-sisa akhir hidupnya bersama dengan sang istri tercinta, menggelengkan kepala. 


"Kenapa kamu begitu keras kepala Mas? Jangan hentikan aku kali ini!" 


Dengan cepat Zufar meraih ponsel itu dan melemparnya ke lantai di sembarang arah, membuka Suci terkejut dan juga shock. "Tetaplah berada di sini dan jangan hubungi siapapun," lirih pria yang terbaring lemah diatas tempat tidur. "Mendekatlah!" 


Suci mematuhi ucapan suaminya, Zufar mengecup keningnya dengan sangat lembut dan juga kecupan di bibir. "Aku mencintaimu, maafkan aku yang tidak bisa lagi menjagamu."


"Mas__."


Air mata kembali berderai, saat mendengar kata-kata perpisahan yang tak sanggup dia dengar. Hanya bisa menggelengkan kepala, tanpa bersuara, seolah tenggorokan tercekat membuat lidah menjadi kaku. Menggenggam tangan suaminya dengan sangat erat, berada di sisi suami sambil mengenang kenangan indah bersama. "Jangan tinggalkan aku, Mas. Aku sangat mencintaimu!"


"Aargh," Rasa sakit yang dirasakan Zufar semakin menjadi-jadi, menggenggam erat tangan istrinya untuk memberi kekuatan. "Aku tidak ingin air mata itu menetes, jangan jadikan kepergianku sebagai kelemahanmu. Jalani kehidupanmu yang baru!"


"Apa yang Mas bicarakan? Sudah cukup mengatakan omong kosong, aku tidak akan membiarkan Mas pergi!" pekik Suci yang tak terima dengan perpisahan yang sebentar lagi. 


Zufar tersenyum, mengusap kepala istrinya dengan lembut. "Ikhlaskan kepergianku!"

__ADS_1


"Tidak Mas, jangan tinggalkan aku." Suci menangis sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat, tak sanggup dengan kehidupan yang mempermainkannya. Begitu banyak cobaan yang selalu diterima, kepergian dari calon anaknya begitu membuatnya terpuruk.


"Tolong, lepaskan aku!" Zufar tak sanggup dengan penyakitnya, nafas yang tersengal-sengal membuat dirinya pasrah akan panggilan dari sang khalik. "Tuntun aku!" lirihnya. 


"Asyhadu An-la ilaha illallah," Suci menuntun suaminya dengan linangan air mata, tidak sanggup untuk melihat sang suami yang sakaratul maut.


"Asyhadu An-la….ilaha__." Zufar mengulang kalimat tauhid dan sedikit kesulitan untuk mengucapkannya,


"Asyhadu An-la ilaha illallah," Suci kembali mencobanya lagi. 


"Asyhadu An-la…ilaha illallah."


"Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah." Sambung Suci yang diikuti oleh cairan bening di matanya. 


Zufar berusaha untuk mengucapkan kalimat syahadat, tetapi lidahnya tak sampai untuk menyelesaikannya, nyawa terlebih dulu di cabut menghentikan waktu dan juga dunia Suci.


Suci termenung dengan tubuh lemah itu, dia tak menyangka akan kepergian sang suami yang menghentikan dunianya. "Mas Zufar," pekiknya yang memeluk jenazah suaminya. "Mas, jangan tinggalkan aku. Buka matamu, aku tidak bisa hidup tanpamu, Mas. Ku mohon, 


jangan lakukan ini padaku." Desaknya sembari mengguncang tubuh yang tak bernyawa.

__ADS_1


__ADS_2