
Kini asisten Ben telah mengerti apa yang terjadi antara mereka, sebuah fakta mengenai masa lalu bosnya yang terbongkar. "Jangan terlalu menilai dengan cepat, Nona. Tuan Simon bukanlah seperti itu, aku akui jika dia memang kejam dan membunuh orang lain. Itu disebabkan oleh profesinya dan dia juga sudah berhenti menjadi tentara. Tuan Simon sudah banyak berubah menjadi lebih baik," ucapnya yang mencoba untuk menjelaskannya.
Suci terdiam mencoba untuk mencerna perkataan dari asisten Ben, dia tidak bisa mengabaikan perkataan dari pria di sebelahnya yang tengah fokus mengemudikan mobil. "Bagaimana kondisi Rasidha?"
"Dia baik, tuan menjaganya dengan sangat baik. Gadis kecil itu aman dan sangat sehat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Apa Rasidha tahu akan hal ini?"
"Tidak, bahkan wajah tuan Simon dia tidak tahu."
"Tapi, mengapa?"
Asisten Ben segera menghentikan mobil di pinggir jalan, menatap Suci dengan serius. "Jangan katakan ini pada orang lain, apa Nona ingin berjanji denganku?"
Rasa penasaran yang begitu besar membuat Suci menganggukkan kepala dengan cepat, ingin mengetahui mengapa hal itu bisa terjadi.
__ADS_1
"Kedua orang tua Rasidha dibunuh oleh tuan Simon di saat bertugas, tepat di hadapan anak kecil itu yang sangat ketakutan melihat kekejamannya. Sorot mata dari Rasidha membuat tuan bergetar hebat, apalagi air mata yang mengalir menyadarkannya. Dia tidak membunuh anak itu dan mengawasi dari jauh, gadis kecil itu kembali ke rumahnya yang hampir rata akibat ulah tuan. Memperhatikan kondisi rumah itu dan melihat gadis kecil yang tidur di tengah ayah dan ibunya yang sudah tiada, bahkan tak menghiraukan apapun lagi."
"A-apa? Sungguh malang nasib dari putriku, mengapa pria itu sangat kejam? Memisahkan anak dari orang tuanya," tutur Suci yang menangis, mendengar kehidupan Rasidha yang sangat kejam.
"Tuan Simon merasa hatinya sangat sakit, kali pertama dia merasakan hatinya tergerak dan luluh dengan air mata Rasidha. Sejak saat itu dia tidak membunuh orang lagi, gadis kecil yang membuat perubahan dalam dirinya. Setelah menyadari kesalahannya, tuan memutuskan untuk mendekati Rasidha dan membawanya ke yayasan. Tidak mungkin dia membawanya ke markas militer, dan menutupi wajahnya dengan sorban. Gadis kecil itu masih mengingat siapa orang yang membunuh orang tua kandungnya." Jelas asisten Ben, mencoba untuk mengungkapkan segalanya, bermaksud jika wanita di sebelahnya mengerti.
"Mengapa dia melakukan hal ini, apa kamu yakin jika ucapanmu itu adalah kebenaran?" selidik Suci yang belum bisa mempercayai sepenuhnya.
"Takdir dan lingkungan yang membuat tuan seperti itu, aku sudah lama mengenalnya. Ambisinya yang ingin masuk menjadi tentara dan diangkat sebagai komandan militer, membuatnya sangat kejam. Hasil yang dicapai karena ibunya yang tidak pernah menganggap keberadaannya, dan dianggap sebagai pembawa sial. Kehidupanlah yang merubah seseorang, hidupnya tidak pernah merasakan kebahagiaan."
Suci masih mendengar, dia sangat antusias dengan perkataan asisten Ben yang kembali menjalankan mobil.
"Jangan terlalu takut padanya, waspada boleh tapi jangan berlebihan. Tuan Simon sebenarnya sangat baik, kedatangan Rasidha bagai cahaya di dalam kehidupannya."
"Kamu benar, bagaimana dengan Rasidha?"
__ADS_1
"Dia tidak tahu, dan jangan sampai gadis kecil itu tahu. Itulah sebabnya tuan Simon selalu menutupi wajah jika berhadapan dengan Rasidha. Dia tidak ingin jika ada orang yang mengenali wajah seorang komandan tentara Israel, terutama anak angkatnya itu."
"Astaghfirullah, aku sudah su'udzon dengannya." Lirih Suci yang menyadari kesalahannya. "Bagaimana dengan ibunya, apa kamu pernah bertemu?"
"Tidak, aku tidak tahu wajah ibu tuan Simon. Entah dia masih hidup atau sudah tiada, tetapi atasanku itu telah menganggapnya mati."
Suci menghela nafas, masih mengingat perlakuan nya tadi pada pria itu. Tapi mau bagaimana lagi? Jika pria itu merupakan komandan militer yang sangat ditakuti, sebuah kenangan pahit dari pria itu. Dirinya merasa bersalah dengan sikapnya yang terbilang cukup kasar, berusaha untuk meminta maaf nantinya.
****
Seorang pria yang menghabiskan waktunya di arena ring tinju, menantang beberapa orang untuk menghadapinya. Menghadapi tiga orang sekaligus, menggunakan arena tertutup semakin membuat penonton bersorak.
Pria itu melirik ketiga lawannya, dengan gerakan cepat menyerang dan menggunakan properti yang tersedia. Simon tak tahu tujuannya yang hilang, menghadapi mautnya sendiri. Satu persatu lawannya tumbang dan juga pingsan, tetapi dirinya mengalami luka yang cukup serius. Semua orang bertepuk tangan dengan sangat meriah, melihat kekuatannya yang bisa menaklukkan tiga orang sekaligus.
Simon merasa tak puas, walau dirinya di cap sebagai pemenang. Luka di tubuhnya sebagai hukumannya yang telah menghabisi begitu banyak orang yang tak bersalah, menghabiskan waktu sepanjang malam di arena pertandingan.
__ADS_1
Di subuh hari, Simon memutuskan pulang saat mengingat Rasidha yang ada di rumah. Kembali menutupi wajahnya dengan sorban agar tidak mendapat kebencian yang mendalam dari anak angkatnya.
Sesampainya di rumah, dia berjalan masuk ke kamar putrinya itu. Namun, dia mendengarkan alunan syahdu Rasidha yang membaca Al-Qur'an membuatnya diam bagai patung.