
Suci menjalani harinya dengan rasa bersalah, menganggap jika kepergian dari Simon karena dirinya yang pernah membentak pria malang itu, hidup dalam penyesalan merupakan suatu hal yang amat menyakitkan. Dia sungguh tersiksa dan bahkan menghitung sudah kepergian dari pria bermata biru, sulit menjelaskan secara kata-katanya.
Kini, dirinya fokus pada perusahaaan dan komputer yang berada di hadapannya, sedikit demi sedikit dia bisa mempelajarinya walau membutuhkan waktu dan juga kesabaran asisten Doni.
Suci melirik jam tangan miliknya yang sudah masuk waktu Dzuhur, sebagai umat beragama dan juga taat. Segera beranjak dari kursinya, segera berwudhu dan menjalankan perintah yang semestinya dilakukan oleh umat muslim.
Bentangan sajadah dan mulai melakukan mendirikan sholat sebanyak empat rakaat, dia begitu khusyuk dalam menjalankan kewajiban. Usai sholat, tak lupa berdzikir dan menyebut nama Allah SWT. Seketika hatinya merasa tenang dan juga tentram, hal ini salah satu manfaat ketika menjalankan lima sholat fardhu sesuai anjuran nabi.
Menadahkan kedua tangannya, bergemelut dengan sang khalik, mencurahkan seluruh yang ada di hati. Mendoakan semua orang dan hanya menyelipkan untuknya sedikit, karena semua nikmat yang diberikan oleh Tuhannya melebihi dari kata cukup.
Selesai menjalankan segalanya, Suci kembali ke ruangannya. Dimana wajah yang terlihat cerah setelah menyelesaikan perintah dari sang khalik, berbeda dengan wajah orang-orang yang lalai dan lebih mementingkan dunia, wajah mereka terlihat sangat kusam walaupun sudah bermake up.
"Assalamu'alaikum, apa aku boleh masuk?"
"Wa'alaikumsalam, masuklah."
__ADS_1
Suci melihat siapa yang datang, dan ternyata itu adalah asistennya almarhum suaminya dan sekarang telah menjadi asisten sekaligus tangan kanan dan juga guru. "Kakak."
"Baru selesai sholat, ya?" ucap asisten Doni. yang di anggukkan kepala oleh Suci, membenarkan perkataan itu.
"Kakak sudah sholat?" tanya Suci yang selalu mengingatkan pria yang sangat berjasa baginya.
"Hem, aku kesini ingin mengantarkan berkas. Kamu harus menandatangani nya!"
Suci menghela nafas dan segera meraih berkasnya, menandatangani beberapa lembar. "Bagaimana dengan proyek yang kita jalani dengan perusahaan SSA Group?"
"Sebentar lagi akan selesai, hanya dibutuhkan tanda tangan asli dari tuan Simon. Namun, keberadaannya tidak ada yang tahu."
"Sudahlah, jangan membuat dirimu terpuruk dengan kepergian pria itu. Berusahalah untuk melupakannya," terang asisten Doni.
"Hem, semoga aku bisa melewatinya. Bagaimana kondisi Rasidha saat ini? Bukankah dia yang lebih terluka dengan kepergian ayah angkatnya?"
__ADS_1
"Itu benar, dia bahkan lebih murung akhir-akhir ini. Bahkan sang pengasuhnya sudah kehabisan cara untuk membuat gadis kecil itu untuk mengerti."
"Hem, apa ada lagi yang harus aku tandatangani?" Suci menatap nya dengan sekilas, dan kembali menundukkan pandangannya.
"Tidak, semua sudah selesai. Memangnya ada apa?" asisten Doni menautkan kedua alisnya, bingung akan maksud dari bos wanitanya.
"Aku ingin bertemu dengan Rasidha, akulah penyebab tuan Simon pergi dan akan mengambil alih untuk menjadi ibunya hingga pria bermata bisa itu kembali."
"Baiklah, sesuai yang kamu inginkan."
"Terima kasih," ucap Suci yang ingin beranjak dari kursi, dia sangat merindukan gadis kecil dan menjadi obat di kala begitu banyak pekerjaan hari-hari ini.
Sedangkan asisten Doni tersenyum melihat punggung dari bos wanita yang sudah dianggap seperti adik sendiri. "Andai aku punya adik sepertinya, mungkin aku menjadi kakak yang paling beruntung." Batinnya yang sangat sedih, mengingat di masa lalu saat menggendong adiknya yang masih bayi. Akibat kelalaiannya yang menjaga adik perempuannya, dan pengaruh ekonomi membuat mereka terpisah. "Jika adikku masih hidup, dia pasti berusia sama dengannya." Lirihnya pelan sembari menyeka air matanya, melalaikan amanat sang ibu sebelum tiada.
Asisten Doni segera pergi menuju ruangannya, dimana dirinya mengingat perkataan dari bos sekaligus muridnya untuk menjalankan ibadah. Semenjak kedatangan Suci di kantor, banyak perubahan dalam dirinya yang selalu saja mengerjakan dan menjalankan kewajiban sebagai umat muslim.
__ADS_1
Asisten Doni menyelesaikan sholat dengan begitu khusyuk, menadahkan tangannya. "Ya allah…ya Rabb, berikan hamba petunjuk untuk bisa bertemu dengan adik hamba, Intan. Hanya dia yang hamba miliki sekarang, Aamiin." Dengan cepat dia menyeka air mata, tak ingin jika ada orang lain yang tahu mengenai kerapuhan nya. Selama ini, orang berpikir dirinya adalah sebuah mesin, bekerja sepanjang hari tanpa menikmati hidup. Dia juga terkenal kejam, jika ada orang lain yang tidak bekerja dengan baik. Ketegasan itulah yang membuat perusahaan milik almarhum Zufar berkembang dengan sangat baik.
"Intan, kemana pun kamu berada, kakak akan menemukan mu." Lirihnya yang sedih, sudah mencari kemana-mana tapi tidak menemukannya. Penyesalan terdalam seorang kakak ialah kehilangan adik nya, terpisah oleh takdir maupun maut.