
Siska segera berlalu pergi dari tempat itu, dia sangat senang merasa menang dari istri pertama, sedikit menggunakan ilmu hitam untuk memancing sang suami agar tidak menceraikannya. Dia sangat hati saat mendengar percakapan antara Zufar dan juga Suci, hingga memutuskan untuk meminta saran dari salah seorang teman. Sebuah cara instan yang langsung bisa merasakan khasiatnya. Seluruh perkataan pasti akan dituruti, dan apapun yang menjadi keinginannya juga akan terkabulkan dengan sangat cepat.
Kini dia tidak tertarik untuk memfitnah kakak madunya, lebih menyukai bermain secara cantik dengan sedikit pengetahuan yang disarankan oleh temannya. Dia membuka rice cooker khusus yang dipersiapkan, mengambil nasi yang ada di dalam. Menghirup aroma nasi yang tersamarkan, tidak akan ada yang tahu mengenai niatnya menambahkan sesuatu ke dalamnya. "Dengan begini, mas Zufar akan menjadi milikku selamanya, perlahan Suci akan tersingkirkan." Batinnya seraya masuk ke dalam kamarnya setelah menyiapkan segalanya.
"Mengapa lama sekali?" gerutu Zufar seraya memeluk Siska dari belakang, mencium leher memancing gairah dari wanita dalam dekapannya.
"Aku hanya mengambilkan makanan untuk Mas saja, dan tak sengaja bertemu dengan mbak Suci."
"Kamu istriku yang sangat pengertian, aku mencintaimu," ungkap Zufar mencium lembut leher jenjang Siska. "Apa hubungannya dengan Suci?"
"Satu set perhiasan yang Mas berikan padaku, apa itu milik mbak Suci?" tanyanya yang masih terngiang perkataan kakak madunya membuat hati terasa kesal juga marah.
"Iya, itu benar." Jawab Zufar santai dan juga enteng.
Siska sangat kesal hingga menghempaskan kedua tangan Zufar, menatap pria itu dengan tajam. "Itu perhiasan bekas, apa aku semurah itu menerima perhiasan dari istri pertama mu, Mas."
"Sama saja, kalian berdua adalah istriku."
__ADS_1
"Jangan samakan aku dengannya, itu sama saja kamu tidak menghargaiku dengan memberikan perhiasan yang sudah di pakai mba Suci."
"Lalu, kamu ingin apa?"
"Aku ingin perhiasan baru, yang paling mahal diantara perhiasan mbak Suci. Jika itu tidak terjadi? Kamu tidur di luar!" tegas Siska yang mendorong tubuh suaminya, cemberut dengan wajah yang murung.
Zufar menghela nafas, kembali membujuk istrinya dengan kata-kata manis, berharap kemarahan Siska berkurang. Sikap yang sekarang bertolak belakang, seakan tak bisa marah dengan perlakuan sang istri yang membentak dirinya, akibat mengkonsumsi nasi kangkang pemberian istri kedua, membuatnya begitu mencintai wanita itu dan tidak menyukai apapun jika istri keduanya marah. "Baik, aku akan membelikan perhiasan baru. Berikan perhiasan itu, biar aku kembalikan!" ujarnya seraya menadahkan sebelah tangannya.
Siska mendongakkan kepala dan segera berdiri, menatap wajah sang suami dengan penuh amarah. "Kamu memintanya padaku? Barang yang sudah sampai di tangan tidak akan aku kembalikan! Jangan berdebat, cepat habiskan makanannya, Mas. Jangan ada yang tertinggal walau sebutir nasi, aku sudah memasak nasi dengan berusaha keras." tegas Siska yang mulai memerintah, berlaku seenaknya.
Zufar mengangguk patuh, membuat Siska mengulas senyum tipis yang tidak diketahui siapa pun. "Hah, akhirnya aku bisa bernafas lega. Mas Zufar sekarang ada dalam kendaliku, akulah ratu di rumah ini." Batinnya sumringah.
Dia tersenyum bahagia karena rasa yang sangat lezat. "Rasanya pas, aku akan meminta izin pada mas Zufar untuk membuka usaha." Gumamnya yang sangat bahagia.
Tak lama, terdengar suara langkah kaki yang berjalan menuju dapur. Zufar mengikuti kemana aroma yang sangat menggugah selera, mulut yang ingin mencicipi kue buatan istri pertama. "Tumben kamu buat kue, ada acara apa?" tanyanya seraya memotong kue dan mencicipinya, rasa yang sangat memanjakan lidah.
"Apa Mas suka?"
__ADS_1
"Sangat enak, mengapa membuat kue sangat banyak?"
Suci tersenyum mendengar suami yang menyukai kue buatannya. "Aku ingin membuka toko kue online, Mas."
"Mengapa?"
"Hanya meluangkan hobi."
"Tapi kamu sedang mengandung," tukas Zufar.
"Aku tidak masalah dengan itu, dan akan menjaganya dengan sangat baik. Beri aku izin buka usaha kecil-kecilan, hanya lewat online dan akan di bantu kurir." Tutur Suci dengan penuh harap, dia sangat ingin mandiri.
"Hem, tapi awas! Jaga kandunganmu dengan sangat baik, jika terjadi sesuatu aku akan mengusirmu dari sini!"
Suci tersentak kaget dengan apa yang dikatakan oleh suaminya, perubahan yang cukup drastis. "Mengapa Mas Zufar berubah? Apa yang sebenarnya terjadi?" pikirnya di dalam hati.
"Apa kamu tidak dengar apa yang aku katakan?" ketus Zufar.
__ADS_1
"Iya Mas, aku akan menjaganya dengan sangat baik."
"Hem, bagus. Oh ya, antar ke kamar Siska. Dia pasti menyukai kue buatanmu!"