Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 70 - Pembagian warisan


__ADS_3

Tiga hari kemudian, Suci tidak bersemangat untuk keluar dari rumah, melakukan apapun dan lebih mengurung dirinya di dalam kamar. Mengenang momen romantis bersama dengan suaminya, dia memegang sebuah foto pernikahan, dan mengusap wajah almarhum suaminya tetesan bulir bening dari pelupuk mata. Kembali membasahi kedua pipinya, dunianya seakan runtuh bahkan tak ada obat yang bisa menyembuhkannya dalam waktu dekat.


Terdengar suara gedoran pintu dari luar, semua orang mulai khawatir dengan kondisi Suci saat ini. Jarang makan membuat Tini begitu khawatir dengan menantunya, dia tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang dia sayangi, begitu membekas dan juga terkesan di hati. "Sayang, buka pintunya, nak. Mama ingin bicara, jangan mengurung dirimu dalam kesepian di dalam kamar. Ayo, keluarlah!" bujuknya yang sangat khawatir. 


Seseorang menghampiri Tini karena dirinya juga merasa mengkhawatirkan kakak iparnya. "Bagaimana, Ma?" tanya Mirza yang begitu penasaran.


Tini menggelengkan kepalanya dengan lesu, segera mengalihkan pandangan ke sembarang arah dan mundur. "Tidak ada jawaban dari dalam, Mama sangat takut jika terjadi apa-apa padamu, Suci. dobrak pintunya!" 


Mirza menganggukkan kepala dan segera mendobrak pintu, melakukannya dengan beberapa kali sentakan dan akhirnya terbuka. Mereka melihat seorang wanita yang sangat pucat duduk di sisi ranjang, melihat sebuah foto yang mereka yakini itu foto pernikahan. Tini menghampiri menantunya dengan membawa nampan yang berisi makanan di tangan, sedih di saat melihat foto yang dipeluk. 


"Makanlah! Sudah tiga hari kamu belum makan dan tidak teratur, jangan menyiksa dirimu sendiri. Belajar ikhlas dan menerima semua takdir yang diberikan Allah kepada hambaNya, yang menguji tidak akan melewati batas kemampuan seseorang."


Suci kembali meneteskan air mata, dia tidak sanggup untuk melanjutkan kehidupan yang terasa murung dan suram, walaupun zufar selalu memberikan dan menorehkan luka di hati tetapi perasaan cintanya jauh lebih besar. 

__ADS_1


"Jangan menahan tangisanmu, Ayo menangislah di samping Mama. Menangis sepuas hati, tapi setelah itu jangan bersedih lagi!" ucapan Tini berhasil membuat Suci luluh dan menangis dalam pelukan nya, melepaskan segala beban yang ada di pundak.


"Apa bagusnya Zufar dibandingkan aku? Pria penyakitan itu hanya membuat Suci menangis. Baru saja aku ingin mengeluarkan kartu As untuk membongkar kejahatan dia, tapi salahnya dia sudah meninggal dunia. Hah, semua rencanaku gagal." batin Mirza yang sangat jengkel.


Setelah merasa semuanya baik-baik saja, Suci mulai menghapus dan mencegah air mata yang ada di pipinya mata yang sembab menjadi saksi bisu dari kesedihan yang di jalani olehnya kehendak tuhan yang tidak bisa dilawan. 


"Apa kamu sudah merasa baik-baik saja sekarang? " Tini mengelus pucuk kepala dari menantunya memberikan kekuatan satu sama lain dan mengikhlaskan kepergian dari Zufar Rasyid Habibi. 


"Amanat apa yang kamu?" 


"Begini Nyonya, Sebelum saya ingin menyampaikan amanat itu bisakah kita untuk duduk ke kursi dan berpikir dengan jernih."


"Baiklah! Ayo Suci, kita pergi ke ruang tamu!" ajak Tini.

__ADS_1


Mirza, Tini, dan juga Suci mereka memilih untuk duduk tak berjauhan, ingin menyelesaikan permasalahan amanat yang dimandatkan kepada asisten Doni. 


"Saya kesini untuk membacakan surat wasiat yang sudah ditulis sebelumnya," jelaskan pengacara untuk tidak ada kesalahpahaman lagi.


"Jangan berbelit-belit, katakan saja apa inti dari amanat itu!" cetus Mirza yang sudah tidak sabar.


Asisten Doni hanya bisa mengelus dada dengan sabar, menghadapi sikap Mirza. "Ini mengenai permasalahan wasiat, mendiang almarhum tuan Zufar. Dia lah menulis jika setengah dari hartanya menjadi milik istrinya Suci Az-Zahra, empat puluh persen untuk ibu Tini, sisanya sepuluh persen menjadi tabungannya di akhirat. Dia sisakan diserahkan dan disumbangkan kepada panti asuhan."


"Apa? Pasti surat wasiat itu salah, kamu pasti merubahnya. Mengapa tidak ada namaku di dalam surat itu?" protes Mirza yang menatap tajam asisten Doni. "Mengapa Suci mendapatkan lima puluh persen, sementara ibuku hanya empat puluh persen saja?" 


"Masalah itu tidak bisa saya kendalikan, mendingan Tuan jangan berburuk sangka lah orang lain. Karena semuanya sudah jelas, kami akan pergi dari sini!" asisten Doni dan juga pengacara segera berlalu pergi dari tempat itu, mengingat mereka sudah menjalani pekerjaan yang berselimut amanat dengan sangat baik. 


Suci sangat terkejut jika suaminya memberikan wasiat lima puluh persen dari harta, padahal dia tidak membutuhkan itu melainkan kehadiran dari Zufar. "Apa gunanya harta itu jika aku sangat kesepian?" batinnya seraya tersenyum miris.

__ADS_1


__ADS_2