
Zufar kembali membaca pesan yang dikirimkan lewat ponsel istri pertamanya, ada kejanggalan dari isi pesan. Kemarahan yang meluap terhenti dengan cepat, dia segera membaca pesan dan melihat foto dan melakukan zoom agar terlihat jelas. "Suci tidak pernah mengatakan ini, dan foto nya juga tidak asli. Apa dia dalam masalah?" monolognya yang sangat terkejut, karena terlalu cepat emosi membuatnya berpikiran sempit.
Dia kembali menghubungi ponsel Suci tapi tak terhubung, hal itu semakin membuatnya curiga dan ada yang tidak beres. Segera menelpon sang asisten untuk menemuinya, ingin membahas hal itu dengan cepat.
Pintu terbuka, Zufar segera menyambut asisten dengan ramah membuat sang bawahan mengerutkan kening. "Ada apa Tuan?"
"Begini, aku ingin kamu melacak nomor istriku."
"Baik Tuan, beri aku waktu untuk melacaknya."
"Hem, lakukan dengan cepat."
Asisten Doni segera bertindak dengan cepat, kemampuannya dalam melacak tidak perlu diragukan lagi, hanya melacak nomor ponsel membuat pekerjaannya semakin mudah. Mengutak-atik komputer dengan jari-jari yang sangat cepat, pandangan fokus ke depan di saat memasukkan beberapa kode. "Dapat!" ucapnya yang bersemangat, membuat Zufar sedikit tersenyum lega.
"Bagus, jika tuan Simon datang dan menanyai mu? Katakan saja aku ada masalah yang tidak bisa ditinggal, dan kamu urus selama aku pergi. Jangan lupa untuk untuk menghubungi polisi!" titah Zufar yang berlari keluar ruangan menuju lokasi tempat sang istri berada.
****
Siska tersenyum bahagia, dia sudah berhasil menjalankan rencananya. Senyum yang mengembang di wajah kembali sirna disaat Suci tiba-tiba terbangun. Dia sangat kesal dan juga geram, melirik kayu yang berada tak jauh darinya. Melayangkan kayu itu hendak memukul kakak madunya, tapi hal itu tak terjadi. Wanita berhijab mencoba untuk mempertahankan dirinya, melawan ketidakadilan dengan sekuat tenaganya.
__ADS_1
Dengan cepat Suci menghindar, menatap mata madunya yang tak menduga sang pelaku.
"Siska, kamu?"
"Kenapa? Kamu terkejut?" sahut Siska yang tertawa menyeramkan, berjalan menghampiri wanita berhijab dan memainkan kayu yang ada di tangannya.
"Aku tidak menyangka, kamulah yang menjebakku. Apa niatmu yang sebenarnya? Kamu bahkan menodai makanan mas Zufar, apa tujuanmu?" tanya Suci yang sangat marah, kini dia tahu mengenai maksud dari adik madunya.
"Aku ingin menjadi istri satu-satunya, dan menguasai harta mas Zufar," ungkap Siska dengan santai.
Tak sengaja Suci melihat perut madunya yang rata, dia sangat terkejut. "Jadi kamu membohongi semua orang?"
"Jangan memfitnah mas Zufar," cetus Suci yang marah dengan perkataan dari adik madunya.
Siska tertawa menyeramkan karena wanita itu bingung, sangat menyukai jika kakak madunya dalam kesulitan. "Memangnya kenapa? Apa ada masalah? Terserah jika kamu percaya atau tidak, tapi satu hal yang harus kamu ketahui adalah mas Zufar tidak akan percaya padamu." Terdapat nada penekanan dan juga ancaman.
Seakan waktu terhenti beberapa saat, membuatnya tak mengerti apapun. Suci mencoba untuk memahami apa yang tengah direncanakan oleh adik madunya. "Apa maksudmu?" selidiknya.
"Tentu saja memfitnah dirimu, permainan baru saja dimulai." Tutur Siska tertawa bahagia, dan memperlihatkan sebuah foto di ponsel. Foto Suci bersama dengan pria lain di ranjang, dia tertawa puas mengenai kemenangannya.
__ADS_1
"Itu bukan aku!"
"Memang, apa yang tidak bisa dilakukan pada zaman yang canggih? Hanya mengedit fotomu saja."
"Apa? Kenapa kamu tega Siska?" Suci sedih dengan apa yang dilakukan oleh adik madunya.
"Aku tidak punya pilihan." Siska mengangkat kedua bahunya dengan enteng, tak ada rasa bersalah yang terlihat di wajahnya.
Siska tak sabar untuk melenyapkan saingannya, melayangkan kayu ke tubuh Suci, hingga wanita berhijab itu terluka di bagian tangannya.
"Auh," ringis Suci yang kesakitan, dia tak suka dengan penindasan wanita itu dan membalasnya dengan tangan kosong, demi sang buah hati yang bersemayam di rahimnya.
Kedua wanita itu saling terlibat perkelahian, mereka saling menyerang dan juga menghindar dari serangan. Suci terus melindungi diri semampunya, tak mempunyai bekal seni ilmu beladiri dan hanya bermodal nekat demi melindungi janinnya.
"Wow, ternyata kamu bisa menghindari seranganku." Siska kembali memukul lawannya mengenai kaki, bahagia melihat rintihan dari Suci.
Suci berjalan dengan terpincang-pincang, segera mengambil benda apa saja yang ada di jangkauan, dia melempar ke arah Siska untuk mengulur waktu di saat melihat ponselnya. "Itu ponselku, aku harus menelepon mas Zufar." Batinnya sedikit demi sedikit menjangkau.
Belum sempat Suci menjangkau, Siska lebih dulu memukul jari-jari tangan Suci hingga meninggalkan bekas memerah dan sedikit darah segar.
__ADS_1
Siska hendak memukul kakak madunya, tapi suara tendangan pintu yang cukup keras mengalihkan perhatian keduanya.