Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 51 - Beri aku waktu


__ADS_3

Dunia Suci hancur tak tersisa, mengharapkan seorang anak yang hadir setelah menunggu selama delapan tahun lamanya. Menangis tanpa air mata yang terasa kering, tak sanggup menopang tubuhnya sendiri yang sangat lemah.


Tini mencoba menghibur menantunya dan itu tidak berhasil, karena tidak adanya respon sama sekali. Suci hanya terdiam dengan pandangan lurus kedepan, tatapan kosong yang tidak ada kehidupan di dalamnya. 


"Sayang…Nak, ikhlaskan kepergian calon anakmu, insyaallah surga gantinya."


Suci seakan tuli, bisu, dan buta akan keadaan sekitar, dirinya terjebak dalam dunianya sendiri. Dunia yang hanya punya satu warna yaitu hitam, gelap dengan hati yang sangat hancur sedalam-dalamnya. 


Seorang pria dengan wajah kusut masuk ke dalam bangsal, berjalan menghampiri sembari menatap Suci yang terlihat seperti patung. Dia menghamburkan pelukan, tapi tak ada reaksi apapun. "Maaf, ini semua kesalahanku. Aku tidak mensyukuri nikmat yang dititipkan kepada kita. Aku harap kamu menerima keadaan ini!" 


Suci menoleh di saat mendengar kalimat yang tidak ada rasa penyesalan sedikitpun, namun di hatinya masih tetap diam, berharap jika pria yang menjadi suaminya memahami apa yang terjadi. Kedekatan sepasang suami istri membuat Mirza memegang dada yang terasa sakit, memutuskan untuk pergi diikuti oleh ibunya.


Suci meneliti wajah suaminya yang terlihat pucat, entah apa yang terjadi kepada Zufar. Tapi dia masih berduka atas kehilangan buah hati yang belum lahir, sangat menyakitkan jika berada di posisinya.


"Maafkan aku, sungguh aku tidak bermaksud membedakan jenis kelamin. Aku tak ingin jika Siska memanfaatkan kehamilannya yang dikatakan anak laki-laki, pewaris keluarga. Tapi, ternyata dia berbohong dan menipu semua orang. Aku menerima anak itu dengan sepenuh hati, tapi Tuhan malah berkata lain." Jelas Zufar.


"Semudah itu mengatakannya Mas? Tidak ada rasa penyesalan yang terselip di kata-kata manismu itu. Apa Mas sudah puas sekarang, bermula pada hadiah yang diberikan untukku setelah menemani selama delapan tahun. Hubungan ini bahkan sudah renggang di saat wanita itu masuk ke dalam rumah, memperkenalkannya sebagai maduku." Ungkap Suci sembari menyeka air mata.

__ADS_1


"Maaf…maaf, tolong maafkan aku. Wanita itu sangat licik dan menjebakku, sekarang tidak ada lagi istri kedua, kamulah satu-satunya istriku. " Zufar sangat menyesal dan menangis dalam diam.


"Pergilah Mas, beri aku waktu!"


Zufar terpaksa pergi keluar dari ruangan itu, langkah gontai yang mengikuti perintah. 


****


Setelah dua hari, Suci diizinkan untuk pulang. Hal itu sangat disambut oleh Tini selaku mertua, pesta sederhana yang dihadiri oleh beberapa orang saja. 


Zufar kembali mencoba untuk berinteraksi, mengingat dirinya yang tidak berbicara kepada sang istri selama dua hari, sejak Suci memintanya untuk memberi waktu. 


Suci menyambut dan menghargai usaha dari mertuanya, duduk sebentar dan kemudian kembali ke kamarnya. Dia  beristirahat untuk menenangkan pikiran, bahkan dia tidak menghiraukan sang suami yang berusaha untuk mendekatinya, malah menambah dosanya dan timbangan buruk sebagai seorang istri. "Maaf Mas, aku tidak bermaksud membuatmu putus asa. Hanya saja aku butuh waktu!" batinnya yang menoleh sebentar dan kembali berjalan menuju kamar.


Zufar menatap kepergian istrinya dengan sendu, tapi segera terhenti di saat kepalanya terasa pusing, memutuskan untuk pergi pergi beristirahat ke kamar tamu. Sementara Tini mengerutkan kening, melihat jarak di antara anak dan juga menantunya. 


Suci mencoba menenangkan diri dengan menjalankan kewajiban sebagai umat muslim yang sebagaimana telah diperintahkan. Tak lupa berdzikir dan berdoa, memohon ampun atas dosa yang disengaja maupun tidak.

__ADS_1


Suci merasa puas ketika menumpahkan seluruh masalah yang terjadi, mengadu kepada sang Rabb dengan air mata sebagai saksi dirinya yang sudah tidak berdaya.


****


Simon sedikit terkejut dengan kabar yang diberikan oleh asisten Doni, mengatakan jika Zufar tak bisa hadir karena keperluan yang sangat mendesak. Awalnya dia marah, dan berniat untuk memutuskan kerjasama yang bahkan belum berjalan. Meminta agar asistennya segera mencari tahu penyebab, dia sangat shock dengan apa yang menimpa Suci. 


Hanya melihat dari kejauhan bagaimana kondisi Suci yang sangat rapuh, ingin rasanya dia datang dan memeluk. Tapi, dirinya hanyalah orang asing dan bahkan tidak mempercayai akan adanya Tuhan.


"Bagaimana Tuan? Apa kita memutuskan proyek kerjasama dengan perusahaan Mitra Group?" celetuk asisten Ben yang memegang kemudi, masih memantau dari kejauhan.


"Tidak perlu, biarkan saja tetap berjalan."


"Baik Tuan."


"Jalankan mobilnya!" titah Simon.


"Baik Tuan." 

__ADS_1


Simon sedang merenungi apa yang baru saja dia lihat, tapi tak bisa ikut campur dalam urusan rumah tangga seseorang.


__ADS_2