Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 20 - Teman baik


__ADS_3

Zufar terpaksa pergi dari Palestina, meninggalkan sang istri yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan kenyataan yang ada. Kekhawatirannya semakin bertambah saat mengetahui jika Siska masuk ke dalam rumah sakit, dia segera pergi tanpa berpikir panjang, mencemaskan anak yang ada di dalam perut istri keduanya. Keinginan yang begitu kuat untuk mempunyai anak, membuat dia lupa akan ketidakadilan untuk istri pertamanya. Dia memang mencintai Suci, namun cintanya lebih besar untuk calon anaknya.


Di sisi lain, Siska sangat senang karena sang suami akan kembali padanya, berharap jika kakak madunya tidak akan kembali lagi. "Ini sangat mudah, walaupun mereka saling mencintai. Tapi anak yang di dalam kandungan ku bisa dijadikan jembatan untuk merebut mas Zufar." Gumamnya yang ingin menjadi satu-satunya istri. Dia tahu jika suaminya sangat mendambakan bayi yang belum lahir, karena istri pertamanya divonis mandul oleh dokter. 


****


Tak terasa hari mulai pagi, sementara Suci melamun dengan kepergian sang suami. Dia tidak berdaya dan belum bisa menerima kenyataan, hanya ingin menenangkan pikiran dengan permasalahan yang ada. Lima hari merupakan waktu yang cukup baginya dengan mengikhlaskan apa yang sudah dikehendaki, menerima semua kenyataan dengan berlapang dada. 


"Aku ingin anakku kelak akan mendapatkan kasih sayang seorang ayah, biarlah aku mengalah dengan kepahitan yang ada, merelakan semua yang sudah berlalu." Gumamnya di dalam hati, segera menyeka air mata dan bergegas melakukan rutinitas seperti biasanya.


Melati sedikit terkejut, jika Suci telah bersuami, tapi dia tidak tahu mengapa wanita itu berusaha untuk kabur ke negara yang tidak aman. "Kedatangan suamimu membuatku sedikit terkejut, apa kamu berusaha lari darinya?"


Suci menoleh ke samping melihat raut wajah yang penasaran sedang menetapnya. "Ya, kamu benar."


Melati melihat suasana kiri dan kanan, mereka berdua tengah memantau anak-anak yang tengah bermain di lapangan dan duduk di tempat yang teduh. "Permasalahanmu hampir sama denganku, aku ke sini juga melarikan diri dari kenyataan." Ucap Melati yang terlihat sedih. 


"Kamu punya suami?" 


"Hem, aku punya suami dan juga anak yang berusia lima tahun. Hanya saja, mertuaku ikut campur dalam permasalahan rumah tanggaku, membuat keluarga bahagia kami hancur." 


Terdengar isak tangis Melati, membuat hati Suci sendu mendengarnya. "Mengapa kamu menceritakannya padaku?" 

__ADS_1


"Aku melihat penderitaan di tatapanmu sejak awal, aku mengetahui ada yang tak beres."


"Ja-jadi?"


"Kita sedang menghindari kenyataan dan juga takdir, nasibku tidak beruntung sepertimu. Suamiku pria yang penurut pada ibunya, bahkan rela menceraikanku dan merebut anakku. Apa yang tidak buruk dari itu? Kehilangan orang yang dicintai amatlah menyakitkan, pikirkan sebelum kamu membuat keputusan. Jangan sepertiku yang hidup tanpa arah tujuan," ungkap Melati yang segera menyeka air matanya.


"Aku tidak tahu langkah apa yang akan kujalani, cukup sulit untuk mengambil keputusan disaat hati masih terasa terluka." 


"Aku melihat, suamimu sangat mencintaimu. Hanya saja, dia belum bisa memutuskan apapun karena sesuatu yang diinginkan." Ucapan Melati membuat Suci tersentak kaget, karena apa yang dikatakan nyata adanya. Tak bisa membendung air mata, hingga mengalir begitu deras membasahi kedua pipinya. Pelukan menenangkan dari teman membuatnya sedikit lega, dan merasa punya sandaran.


"Kita baru saja kenal, tapi kamu sepertinya memahamiku."


"Aku seorang psikolog," ungkap Melati. 


"Satu tahun yang lalu, sepertinya kamu dekat dengan tuan Zaid!"


"Aku tidak dekat dengannya."


"Tapi matanya terlihat ketertarikan padamu."


"Semoga saja tidak, aku masih bersuami. Kamu mengenalnya?"

__ADS_1


"Aku mengenalnya enam bulan yang lalu, membantu yayasan ini dengan menjadi donatur terbesar." Jelas Melati.


"Pernah melihat wajahnya?" 


"Tidak," Melati menggelengkan kepala dengan pelan, karena pria bersorban terlihat misterius.  Perbincangan itu terhenti saat keduanya kembali melakukan rutinitas masing-masing. 


Mereka mendampingi anak-anak dan saatnya mengajar, menjadi guru untuk mencerdaskan generasi. 


Dari kejauhan terlihat seorang tengah menatap Suci, tersenyum seperti seorang jatuh cinta. Dorongan pelan dibahu membuatnya terkejut, menghentikan aksinya yang tengah meneropong sang target. 


"Mengapa kamu tersenyum?" Pria itu segera menoleh ke sumber suara.


"Hanya melihat-lihat saja."


"Jangan bohong, aku tahu kamu tersenyum saat melihat yayasan itu. Berikan teropong itu padaku," ucap pria yang mengenakan seragam tentara, mencoba mencari akar dari permasalahan dari sahabatnya. "Oho, jadi kamu melihat salah satu relawan itu? Ternyata kamu pria normal, aku kira gay." Celetuk Felix, tentara Israel yang menjadi bawahan dari sahabatnya. 


"Sial, sini teropongku!" ketus pria itu yang tersenyum masam, merampas benda yang bisa melihat dari kejauhan.


"Mereka itu beragama muslim, tidak sepertimu. Perbedaan yang cukup jauh, sebaiknya kamu tidak mendekati mereka lagi." Felix mencoba untuk memperingatkan sahabatnya. 


Sang sahabat melepaskan teropong dari penglihatan matanya, memberikan benda itu pada sang sahabat. "Aku tidak tahu, pertemuanku dan dia terjadi begitu saja. Saat aku mengambil cuti, aku melihatnya di pesawat menuju ke Palestina. Dia cukup unik, seperti daya tarik yang membawaku untuk dekat dengannya."

__ADS_1


"Terserah, aku sudah memperingatkanmu." Pasrah Felix.


__ADS_2