
Kabar yang sangat mengharukan baginya, senyuman indah saat harapannya kembali menyala. Kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan lewat kata-kata, penantian panjang dan bersabar membuahkan hasil memuaskan. "Aku mengandung? Ini mukjizat dari Allah SWT, apa ini jawaban dari doaku?" begitu banyak pertanyaan di benaknya, mengucapkan rasa syukur pada sang pencipta alam semesta, kabar kehamilan yang dinantikan akhirnya terwujud.
"Tunggu!" teriak Zaid dari kejauhan, menghentikan langkah kaki Suci.
"Ada apa?" Suci segera menoleh, melihat pria bersorban beberapa detik dan kembali menundukkan pandangan.
Zaid segera menghampiri Suci, melangkahkan kaki dengan langkahnya yang besar.
"Disini berbahaya, tidak baik untukmu berjalan seorang diri," Zaid mencoba untuk memberikan peringatan, karena dialah yang mengantarkannya dan bertanggung jawab antar jemput. "Ayo ikut aku!"
"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri."
"Jangan membantah, aku tidak menawarkannya karena mu. Tapi, janin di dalam perutmu!" jelas Zaid agar tidak terjadi salah paham, dia mengetahui jika wanita islam itu mencoba untuk tidak berdekatan dengan pria asing sepertinya. "Kamu tidak perlu risau," sambungnya.
Suci tampak berpikir ulang mengenai perkataan pria itu, karena dia tak ingin menimbulkan fitnah dengan statusnya masih bersuami. "Itu tidak diperlukan, lebih baik aku berjalan kaki saja."
"Jangan egois, kamu ingin menyiksa anak dalam kandungan?"
Suci terdiam beberapa saat, karena apa yang dikatakan Zaid memang benar. "Baiklah," lirih pelannya.
__ADS_1
Zaid tersenyum, berhasil menghadapi sifat egois dari seorang wanita. "Tunggu di sini, aku mau mengambil mobil Jeep ku.
Suci hanya menganggukkan kepala, karena tak punya pilihan lain. Ini kali pertamanya pergi bersama pria lain selain suaminya, hingga terlintas di pikiran mengenai permasalahannya. "Apa aku harus mengabarkan mengenai kehamilanku? Tapi aku tak bisa berbagi cinta suamiku dengan wanita lain." Batinnya yang sangat bimbang.
"Jangan melamun, ayo naiklah!" Zaid tersenyum, terlihat dari kedua mata birunya yang menyipit.
Suci naik ke mobil dengan ragu-ragu, tidak ingin menerima bantuan dari pria asing. "Aku bisa sendiri, tidak perlu membantuku."
"Aku hanya ingin membantumu saja," jawab Zaid enteng.
"Ada batasannya setiap menolong seseorang Tuan, dan jangan lupakan ini, jika kita hanyalah orang asing."
Zaid mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, tak ingin membahayakan wanita yang tengah hamil. Perjalanan yang terasa hambar karena tidak ada komunikasi terjalin, suasana hening membuatnya jengkel. "Kamu kesini pergi sendiri?"
Suci hanya terdiam, tak ingin membahas mengenai kehidupan pribadinya kepada orang lain. Zaid menghela nafas, cukup sulit berkomunikasi dengan relawan baru yang duduk di sebelahnya, dan memutuskan untuk tidak bertanya.
Di sepanjang perjalanan, tiba-tiba dua pria berbadan kekar tengah memegang senjata menghalangi jalan mereka. Suci sangat takut melihat tentara yang memakai seragam serupa tadi malam. "Itu tentara Israel," gumamnya yang terdengar di telinga pria disebelahnya.
Wajah ketakutan, keringat di dahi membuktikan kecemasan yang berlebihan. Suci sangat ketakutan, tapi berusaha untuk tetap tenang. "Ya Tuhanku…berikanlah perlindunganmu," batinnya.
__ADS_1
Zaid terpaksa menghentikan mobilnya, dua tentara itu berjalan mendekati dna mulai memeriksa. "Sepertinya kalian relawan," tutur salah satu tentara.
"Benar, jangan halangi jalan kami."
"Sepertinya kalian berbahaya," salah satu tentara melirik Zaid, penasaran dengan mata pria itu. "Kau darimana?" tanyanya dengan penuh selidik. "Dan apa hubungan kalian?"
"Dia istriku, kami hanya relawan saja. Biarkan kami lewat." Jawab Zaid yang mendapat lirikan mata marah dan juga tak percaya dari wanita di sebelahnya.
Pria berseragam itu saling melirik satu sama lain, sesekali mereka menatap Zaid dan Suci secara bergantian. Salah satu tentara melirik wanita berhijap dengan penuh gairah, tataan mesum dia lontarkan dan berharap bisa mencobanya semalam. "Sebaiknya kamu ikut denganku!"
"Tidak, aku tidak ingin ikut dengan kalian." Tolak Suci, membuat kedua tentara itu ingin menarik paksa.
Zaid segera turun dari mobilnya, menghalangi niat dari dua tentara yang mencoba untuk melecehkan wanita muslim. "Jangan menyentuh istriku!"
"Berbagilah sedikit dengan kami, jangan pelit." Tentara itu tertawa lepas, tidak takut dengan peringatan dari pria bersorban di hadapannya.
Zaid memukul perut dua tentara dengan sangat keras, hingga keduanya tumbang karena menahan rasa sakit. Sementara Suci berteriak dan menutupi mata menggunakan kedua tangannya, karena sebelumnya tidak pernah melihat kekerasan.
"Sudah aku katakan, dia istriku. Berhenti memikirkan hal mesum, atau aku tidak akan tinggal diam, mematahkan tangan kalian tanpa ampun!" sorot mata tajam membuat kedua pria berseragam itu takut, suasana mencekam membuat mereka tak bisa melawan dan memutuskan untuk pergi.
__ADS_1
Zaid menaiki mobil dan menoleh ke samping. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya yang sedikit khawatir.