
Mobil terpaksa dihentikan di pinggir jalan, kedua mata yang memantulkan rasa ketakutan yang mendalam, melihat seorang tentara Israel dan bahkan komandan tepat berada di hadapan mata. Hal itu mengingatnya saat di malam beberapa tentara yang memasuki yayasan dengan begitu mudah, rasa ketakutan melanda hati.
Dia tidak menduga, jika kebenaran akan terasa pahit seperti ini, mencoba untuk mengontrol emosi agar tidak meluap. Amarah di hati karena dirinya pernah mendengar kisah dari para relawan, dimana komandan militer dari Israel daerah itu sangatlah ditakuti dan terkenal kekejamannya dalam membunuh orang tanpa pandang bulu. Begitu banyak kisah mengerikan dari pria yang berada di hadapannya, membantai dan membunuh para korban dengan sangat bengis dan juga kejam, dan membuatnya tidak bisa berada di situasi yang cukup sulit dilewati.
"Serahkan Rasidha padaku!" pekik Suci yang menangis histeris, dia sangat mengkhawatirkan gadis kecil yang bersama dengan Simon.
"Suci, jangan takut padaku. Aku tidak akan menyakitimu," ucap Simon yang mencoba untuk menenangkan wanita yang berada di hadapannya, tatapan teduh dan penuh cinta menatap sang wanita pujaan hati yang ketakutan melihat dirinya. Dia tidak tahu dimana akan memulai untuk menceritakan dirinya dan juga pekerjaan, dan mengapa dia menjadi seorang komandan militer Israel.
"Jangan bunuh aku…jangan bunuh aku!" lirih Suci yang meringkuk, memeluk kedua kakinya dengan lirikan mata penuh ketakutan. Dia trauma dengan tentara Israel, dan tak ingin mengenal ataupun dekat dengan orang-orang Israel.
Simon melihat raut wajah Suci yang sangat pucat pasi, harapannya semakin terkikis melihat wanita di dekatnya sangat ketakutan. Mengusap wajahnya dengan kasar, mengingat identitas dirinya terungkap dengan cara seperti ini. "Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu." Ucapnya dengan pelan, pasrah akan keadaan. Dia segera keluar dari mobil, dan menghubungi asistennya untuk datang.
"Halo, kamu dimana?"
"Ada apa tuan?"
"Datanglah kesini sekarang juga, aku sudah mengirimkan lokasiku."
__ADS_1
"Baik, tuan."
"Hem."
Simon kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku, dan melihat mobil yang hanya berjarak beberapa langkah. Saat ini dia putus asa, tidak tahu bagaimana nantinya. "Dia membenciku," lirihnya pasrah dan tak berdaya, karena profesinya dulu yang membuat mereka bertemu dan juga memisahkan mereka dengan sangat mudah.
Sedangkan Suci mencoba untuk mengontrol emosinya, sedikit merasa tenang dan menghubungi sahabatnya. Dia menganggap jika Simon sangatlah berbahaya, dan tidak ingin jika anak angkatnya dalam masalah. "Aku…aku, apa yang harus aku lakukan sekarang? Rasidha masih bersama dengan pria itu." Monolog nya yang memikirkan gadis kecil yang tinggal bersama pria bermata biru.
Tak lama, Simon melihat mobil yang berhenti tak jauh darinya. Melihat asisten Ben yang sudah datang, dan menghampiri bosnya dengan raut wajah kebingungan. "Kenapa Tuan bisa berada disini?" tanyanya sembari dengan mata yang menata mobil yang terparkir tak jauh dari mereka.
"Tapi bagaimana mungkin? Tuan tidak pernah mengatakan kepada nya mengenai identitas yang asli. Mengapa yang bisa terjadi?"
"Felix yang mengatakannya, jangan banyak bicara dan segera tolong Suci, demi aku." Simon segera mengusap wajahnya dengan kasar, menghela nafas dalam tidak bisa menerima kebencian dari Suci apalagi Rasidha. Mengingat dirinya yang dicap buruk, akibat pernah bergabung menjadi komandan militer tentara Israel.
"Baiklah, aku akan membawa Suci pergi dari sini."
"Hem, Aku harus pergi." Simon memberikan isyarat agar asistennya segera memberikan kunci mobil, dia ingin pergi tanpa menghiraukan perkataan dari asisten Ben.
__ADS_1
Tinggallah asisten Ben yang tidak tahu harus apa, mengingat Suci merupakan wanita yang tak ingin bersama dengan pria asing sepertinya. "Apa yang akan dilakukan oleh tuan Simon?" lirihnya pelan sembari berjalan masuk ke dalam mobil. Dia terkejut dengan kondisi wanita yang menutupi kepalanya dengan sangat baik, wajah yang pucat pasi dan bergetar hebat. "Sebenarnya apa yang terjadi?" batinnya.
"Pergilah dari sini, dan tinggalkan aku!" pekik Suci gemetar hebat.
"Ini aku, asisten Ben."
Dengan perlahan Suci segera menoleh, dia sedikit bisa menghela nafas lega karena bukan Simon yang di temui. Segera celingukan mencari keberadaan pria itu.
"Dia sudah pergi," celetuk asisten Ben yang menjawab rasa kegelisahan Suci.
"Pergi?"
"Hem, Nona tidak perlu takut. Aku akan mengantarmu pulang saja, ayo!" ucap asisten Ben yang segera masuk ke dalam mobil, mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.
Asisten Ben ingin mengorek informasi mengenai tuannya, mengapa Suci sangat ketakutan, dan melirik wanita yang berada di sebelahnya. "Nona terlihat sangat takut, ada apa?"
"Karena pria bermata biru, pria yang menutupi wajahnya dengan sorban yang aku temui bernama Zaid. Dia adalah komandan militer Israel yang telah membunuh banyak nyawa yang tak bersalah, kejam tanpa pandang bulu. Ungkap Suci dengan tatapan kosong.
__ADS_1