
Suci menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, mengetuk pintu kamar juga meminta izin. Namun, niatnya segera terhenti di saat kembali mendengar suara gasrak-gusruk di dalam. Suara des*han yang terdengar sangat jelas, bahkan suara itu juga di lebih-lebihkan untuk menambah rasa sakit di hati.
Suci menundukkan kepala seraya meletakkan nampan yang berisi beberapa potong kue dari berbagai jenis. "Aku meletakkan kue di atas meja," pekiknya agar terdengar sampai ke dalam. Rasa tak ingin mengganggu membuatnya segera pergi meninggalkan pintu kamar, kembali bergegas menuju kamarnya.
Menutup pintu dan menguncinya, menyandarkan punggung dan merosot hingga lutut sejajar dengan leher. "Mengapa mas Zufar berubah? Apa yang sebenarnya terjadi?" monolognya seraya berpikir mengenai penyebab sikap sang suami yang selalu berubah-ubah.
Segera menyeka air mata, dia bersiap-siap untuk pergi ke wirid pengajian para ibu-ibu komplek. "Sudah lama aku tak pergi, setidaknya perhatianku teralihkan." Dia melihat dirinya di cermin besar, memakai gamis dan kerudung syar'i. Melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya, memegang buku yasin yang nantinya akan dibaca saling nyambung menyambung agar semuanya mendapat giliran.
Suci memutuskan untuk berjalan kaki, jarak dari rumah menuju tempat pengajian tidak terlalu jauh.
"Assalamu'alaikum," ucap Suci yang segera melepas sandal dan masuk ke dalam tempat pengajian.
"Wa'alaikumsalam," sahut para ibu-ibu yang menyambut kedatangan Suci dengan penuh suka cita, merindukan wanita itu yang sudah lama tidak hadir.
Suci duduk di sebelah Rima dan Julia, tersenyum kepada semua orang. "Bagaimana keadaan ibu-ibu?"
"Kami baik, kenapa baru datang sekarang?" tanya Rima.
"Ada urusan yang tidak bisa di tinggal," jawab Suci yang tersenyum.
__ADS_1
"Urusan yang tidak bisa ditinggal atau sedih karena kedatangan pelakor?" celetuk Tutik, wanita yang berbadan gemuk di antara semua orang, tersenyum miring dengan nasib salah satu anggota wirid pengajian.
Suci terdiam dan tidak membalas ucapan itu, dia membuka buku yasin tak menghiraukan ucapan itu.
"Kalau aku ada di posisimu, lebih baik mengusir pelakor itu." Ucap Tutik yang dibenarkan oleh Julia.
"Benar, biasanya suami lebih sayang istri keduanya. Sebagai istri pertama, kamu harus pintar dan maju dua langkah di depan pelakor." Ujar Tutik yang sewot.
"Biasanya Zufar mengantarmu, tapi tidak hari ini, pasti lagi enak-enak sama istri keduanya. Aku rasa suamimu terkena pelet semar mesem sang pelakor!" sambung Julia.
"Hus, kalian kesini mau wirid pengajian atau bergosip?" sergah Rima sebagai penengah, menghentikan dua ibu-ibu rempong yang selalu suka berghibah dan gosip.
Setelah selesai, Suci segera pulang dari wirid pengajian menuju pulang dan berpamitan pada semua orang. "Assalamu'alaikum," tuturnya yang beranjak.
Di sepanjang perjalanan menuju pulang ke rumah, tiba-tiba seorang pria menghalangi jalannya. "Wajahmu tampak sedih," celetuk pria tampan yang mengenakan pakaian casual.
Suci mendongakkan kepala, bertatapan beberapa detik dan kembali menunduk. "Bukan urusanmu," cetusnya.
"Apa Zufar menyakitimu?"
__ADS_1
"Berhentilah ikut campur dalam urusan rumah tanggaku!" tegas Suci yang marah dengan pria yang berada di hadapannya.
"Karena aku peduli padamu, Siska sudah mempengaruhi Zufar dan kamu tidak akan mempunyai kesempatan untuk bersamanya." Mirza mencoba untuk memperingatkan wanita berkerudung itu, mengetahui tabiat buruk dari istri kedua kakaknya.
"Jangan mencoba untuk mempengaruhiku."
"Terserah, kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas, Siska sangat licik. Wanita rubah itu selalu bermain kotor, dan menganut ilmu hitam."
Suci terdiam, perkataan dari Mirza tak bisa diabaikan apalagi mengenal jika sang suami berubah drastis. Namun, dia masih menyangkal hal itu dan berpikir positif. "Terserah apa yang akan dilakukan oleh Siska itu urusannya dengan sang khalik," jawabnya yakin.
"Aku sudah memperingatkanmu, sisanya aku serahkan kepadamu. Oh ya, aku ingin meminta maaf mengenai kejadian delapan tahun yang lalu." Mirza berusaha untuk meminta maaf, merasa bersalah sudah menyia-nyiakan wanita bagai mutiara yang tersembunyi.
"Aku sudah memaafkanmu."
"Apa itu artinya masih ada kesempatan untukku?"
"Aku adalah Kakak iparmu dan kau adalah adik iparku, jadi tolong hargai ikatan itu sekarang. Lupakan mengenai apa yang pernah terjadi antara kita," tegas Suci yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Mirza menatap kepergian wanita yang berkerudung, rasa penyesalan membuatnya tak bisa melakukan apapun karena statusnya hanyalah adik ipar. "Apa itu artinya aku tidak memiliki kesempatan untuk bersama dengannya?" begitulah yang dipikirkan oleh Mirza.
__ADS_1
Suci masih memikirkan perkataan dari Mirza mengenai Siska yang suka bermain kotor demi mendapatkan apa diinginkannya. "Jika itu benar, maka aku harus menanyakan ini kepada ustadz." Batinnya.