Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 92 - Pembenaran


__ADS_3

Suci bergerak cepat untuk menghampiri keberadaan dari anak angkatnya, begitu bersemangat dan sangat antusias. Hendak masuk ke dalam mobil dan meminta untuk sang supir menjalankan mobilnya dan hendak pergi ke rumah Simon, namun sebelum itu dia telah memesan kue dan roti yang sangat spesial untuk dijadikan buah tangan. "Semoga Rasidha menyukainya," gumamnya tersenyum saat mendapatkan alamat dari asisten Ben.


Tidak lama kemudian, dia menjejakkan kaki saat menatap bangunan mewah berwarna putih disuguhkan di hadapannya. Di luar, terlihat sangat indah dan membuat mata siapa saja takjub dengan kediaman milik Simon Albert. "Wah, ternyata rumahnya sangatlah besar." Gumamnya seraya berjalan masuk dan berdiri di depan pintu, tak lupa untuk menekan bel. 


Beberapa saat kemudian, dia menatap seorang wanita yang menjadi pengasuh dari putri angkatnya. "Suci," ucap wanita itu yang tersenyum.


"Iya, ini aku. Aku kesini ingin bertemu dengan Rasidha," Suci tersenyum dan menyiratkan sepasang matanya yang berbinar cerah, sudah tidak sabar ingin menemui gadis kecil yang ditemui saat menjadi relawan di Palestina.


"Tentu saja, boleh. Ayo masuk!" ajak Nadia yang mempersilahkan. 


Keduanya berjalan menuju sofa. "Kamu tunggu di sini dulu, aku akan panggilkan Rasidha."


"Hem," balas Suci yang tersenyum mengangguk.


Nadia segera berlalu pergi, mencari keberadaan Rasidha di kamar yang bernuansa pink. Dia mengetuk pintu, sudah tidak sabar untuk mengatakan kabar kedatangan Suci pada gadis kecil. 


"Rasidha, ada yang mencarimu."


"Apa ayah sudah pulang?" balas seseorang yang berada di bawah selimut tebal.


"Bukan, kamu pasti menyukainya. Ayo kemari, dan lihat siapa yang datang," bujuk Nadia dengan ramah.


"Tidak, aku hanya ingin ayahku!" jawab Rasidha yang tidak ingin menemui siapapun selain Simon yang menyamar sebagai Zaid. 


"Apa Rasidha yakin?" goda Nadia agar gadis kecil itu penasaran. 

__ADS_1


"Tentu saja."


"Hah, baiklah. Sebaiknya aku akan menyuruh ibu Suci untuk pulang saja, karena putri angkatnya tidak menyukai kedatangan__."


"Apa? Ibu Suci datang?" Rasidha sangat antusias saat mendengar nama Suci, bahkan menyela pembicaraan dari pengasuhnya. Gadis kecil itu, dengan bersemangat turun dari tempat tidur dan berlari menuju ruang tamu, berteriak memanggil nama ibunya.


Nadia hanya menggelengkan kepala, melihat sikap Rasidha yang menjadi hiburan baginya selama bekerja. Segera berjalan mendekati dua orang yang tampak akrab bercengkrama, karena tidak ingin mengganggu, dia segera memutar balik menuju dapur dan menyiapkan minum dan juga cemilan untuk tamu. 


"Sudah berhari-hari ayah pergi tanpa mengatakan apapun padaku, dan Ibu juga tidak menelponku, dan berpikir jika kalian melupakan aku." Rasidha sangat bersemangat jika bertemu dengan Suci, kesedihannya menghilang telah terobati. 


"Bagaimana, apa kamu menyukai kedatangan Ibu, Sayang?" 


"Tentu saja, Ibu sangat cantik dengan pakaian longgar dan juga kain yang menutupi rambut." Puji Rasidha tersenyum senang, tertarik dengan hijab besar yang dikenakan oleh Suci.


"Tidak, jika aku memakainya, bagaimana dengan Ibu? Bukankah kerudung itu hanya satu?" 


"Sepertinya Ibu membawanya, tunggu sebentar." Suci mengeluarkan pashmina yang berwarna pastel, melilitkannya untuk menutupi rambut hingga dada putri angkatnya. "Wow, ternyata Rasidha ku terlihat sangat cantik." Pujinya yang membuat kedua mata kecil itu berbinar cerah.


"Benarkah?"


"Tentu saja, hampir Ibu melupakan kue dan juga roti untukmu. Ini ambillah! Jangan lupa untuk berbagi." Ujar Suci dengan lembut. 


Rasidha segera membuka paper bag yang berisi roti kesukaannya, yaitu coklat. Mengambil sepotong kue yang menggugah selera dan hendak menyantapnya. 


"Eit, jangan lupa untuk membaca doa terlebih dulu, Sayang."

__ADS_1


"Maaf, Rasidha lupa." Tutur si gadis kecil yang cengengesan, sambil menggaruk pangkal hidungnya. 


"Jangan lupa dengan anjuran nabi, ada adab dalam setiap melakukan sesuatu. Seperti makan, tidur, dan masih banyak lagi," jelas Suci sembari menoel hidung Rasidha dengan gemas.


"Aku bawakan ini untuk kalian, di makanlah!" ucap seseorang yang menyusun cemilan dan juga air minum di atas meja.


"Kamu mau kemana?" tanya Suci yang melihat kepergian sdari pengasuh putri angkatnya.


"Ke dapur, aku tidak ingin mengganggu kalian. Lanjutkan saja!" 


"Kamu tidak mengganggu, bergabunglah."


"Hem, baiklah." Sahut Nadia yang menyetujuinya, mendudukkan dirinya dengan senyuman hangat.


"Aku bosan disini, dan ingin jalan-jalan." Celetuk Rasidha yang sedikit cemberut.


"Jalan-jalan? Kita di sini saja, bagaimana jika ayahmu pulang?" 


"Itu tidak mungkin, ayah tidak merindukanku." Cetus Rasidha yang dongkol, karena dirinya sangat merindukan pria yang selalu dia panggil dengan sebutan ayah. 


Sementara disisi lain, seorang pria yang mantap mengenakan peci dan juga kain sarung. Begitu bersemangat dalam menggali lebih dalam mengenai agama islam, dia sangat berterima kasih kepada pemilik pesantren yang mau menerima dan menjawab semua keraguan nya. 


"Terima kasih Kyai dan juga Nyai, sekarang saya sudah merasa tenang dan mendapatkan kebenarannya." Ucap Simon yang sudah berganti nama panggilan menjadi Zaid. 


"Tentu saja Nak Zaid, hidayah yang kamu dapatkan itu datangnya dari Allah dan kami hanyalah perantara saja." 

__ADS_1


__ADS_2