Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 82 - Aku pria normal


__ADS_3

Asisten Ben merupakan seorang pria yang setia, yang selalu mendukung apapun keputusan Simon, jika itu masih dalam norma dan hukum yang tetap lurus. Di dalam mobil, dia melihat seorang pria yang tengah melirik jam dan juga memegang ponsel, tiba-tiba teleponnya berdering dan terlihat ada nomor sang atasan. 


Dia tidak menjawabnya dan hanya melihat dari kejauhan, bagaimana pria yang dia sanjung sebagai bosnya itu, hari ini mabuk. "Tuan Simon mabuk? Ini kali pertamanya dia mabuk lagi setelah lama, apa yang terjadi?" gumamnya yang segera melepaskan sabuk pengaman, dan segera turun menghampiri sang bos yang bahkan kesulitan menyeimbangkan tubuh.


Dengan sigap asisten Ben meraih tubuh Simon dan membopong untuk masuk ke dalam mobil, membantu pria yang sangat mabuk itu dan memasangkan sabuk pengaman.


"Mengapa Tuan ada di sini? Bukankah Tuan tidak menyukai tempat ini lagi?" 


Simon menoleh dan terkekeh saat melihat wajah asistennya yang begitu penasaran, kepala yang begitu pusing dan terasa berat, malah terdiam dan tidak menjawab pertanyaan dari asisten Ben. 


Mereka segera pergi dari tempat itu, menuju kediaman milik Simon. Pukul dua dini hari, semua orang pasti masih tertidur hingga dirinya tidak perlu repot-repot membawa bosnya untuk masuk ke dalam kamar. Tidak ada keluhan atau umpatan yang diucapkan oleh asisten Ben, dia melakukan dengan ikhlas membantu untuk masuk ke dalam kamar.


Dia segera membaringkan tubuh yang sangat berat itu ke atas ranjang, dan menghempaskannya sedikit kasar apalagi bobok tubuh Simon lebih besar dibandingkan dirinya. "Astaga…aku tidak bisa merasakan punggungku ini dan juga bahuku. Tuan, kamu berhutang padaku." ucapnya yang ingin pergi meninggalkan tempat itu. 

__ADS_1


Namun langkahnya terhenti di saat tangan ditahan oleh seseorang, dia segera melepaskan cengkraman tangan bosnya yang menghalangi langkah. 


"Suci, aku sangat mencintaimu. Apa kamu menyukaiku? Menikahlah denganku," racau Simon yang tersenyum juga tertawa, ingin memeluk tubuh asisten Ben seakan itu adalah wanita idamannya.


Seketika asisten Ben bergidik ngeri, bulu kuduknya meremang saat membayangkan jika mereka sedang bermain pedang-pedangan, segera menghentikan khayalan dan menjauh. "Aku pria normal…aku pria normal, lepaskan aku." Geramnya yang segera berusaha kabur, dia tidak ingin jika Simon bertindak nekat dan mengira jika dia adalah Suci.


Butuh usaha yang cukup keras hingga dia berhasil lolos, bahkan menampar pipi bosnya karena tak punya pilihan. Segera pergi dari tempat itu dengan keringat dingin, takut jika atasannya merenggut kesuciannya sebagai pria yang normal. "Untung saja aku bisa terlepas dari bos gila itu," tempatnya kesal seraya menutup pintu dengan keras.


Baru saja dia hendak melangkahkan kaki, namun melihat seseorang yang tak jauh darinya sedang menatap dengan tatapan datar. Sekali lagi asisten Ben terperanjat kaget, mengira jika wanita itu adalah hantu. "Kamu mengagetkanku, aku tahu jika aku tampan. Tetapi, jangan menatapku seperti itu." Sarkasnya.


"Dia hanya kelelahan setelah makan begitu banyak, apa pedulimu urus saja pekerjaanmu sana!" ketus asisten Ben yang mengusir dengan gerakan tangan. 


"Kamu selalu saja kasar padaku,"keluh Nadia yang menghela nafas dengan jengah.

__ADS_1


"Aku bosan melihat wajahmu itu, pergi sana!" 


"Jangan membenciku terlalu dalam, karena benci beda tipis dengan cinta. Di saat kamu mengatakan cinta padaku, di saat itu pula aku akan menolakmu!" Nadia segera berlalu pergi meninggalkan pria yang pernah menjadi mantan kekasihnya.


"Dasar wanita aneh, untung saja aku memutuskannya dulu!" cetus asisten Ben yang segera beranjak pergi.


****


Suci menjalankan kewajibannya di saat semua orang terlelap dari tidur, menghadap kiblat dan membentangkan sajadah. Kembali melaksanakan shalat tahajud sebagaimana yang biasa dia lakukan, berdoa untuk semua orang dan juga dirinya mengenai kelancaran usaha, dan tak lupa yang paling utama adalah mendoakan almarhum dari suaminya. 


Suasana hening dengan udara yang belum tercemar, membuat dirinya begitu khusyuk dalam menjalankan ibadah. Tak lupa, melantunkan dzikir lewat bibirnya yang indah. Usai shalat dan juga berzikir, Suci juga membaca Al-Qur'an dan mengalunkan alunan syahdu yang begitu menyejukkan hati, bahkan terdengar hingga ke kamar Melati yang tersentak dari tidurnya. 


"Masya Allah, suaranya begitu syahdu," gumamnya yang memuji suara yang didengar, hal itu pula menjadi alarm baginya dan juga melakukan shalat tahajud, menjalankan perintah sunnah sebagai umat muslim. 

__ADS_1


"Ya Allah…ya Tuhanku, ampuni hamba dengan dosa-dosa yang telah diperbuat, berkahilah jalan yang engkau ridhoi. Lindungilah hamba dari segala marabahaya dan juga musibah, dan jauhkanlah hamba dari sifat zholim dan juga tamak. Robbana atina fiddunya Hasanah wa fil akhiroti Hasanah waqina adzabannar. Aamiin." Suci kembali melipat sajadah dan juga mukena, kemudian dia mempelajari beberapa berkas yang diberikan oleh asisten Doni untuk dia dipelajari, karena hari ini akan mengadakan pertemuan lagi sesuai permintaan dari pemilik SA Group. 


__ADS_2