
Mobil berhenti di rumah mewah yang pernah ditempati selama delapan tahun, begitu banyak kenangan yang tercipta dari hal-hal kecil. Memandang tempat huniannya yang terpaksa berbagi dengan adik madu, rela mengorbankan dirinya demi sang buah hati yang belum lahir. "Inilah rumahku, apapun yang terjadi aku akan mempertahankannya demi anakku." Batinnya dengan penuh keyakinan.
"Ayo, turun." Suara dari Zufar memecahkan lamunan Suci yang segera menyeka cairan bening yang berlinang di pelupuk mata, membalas dengan anggukan kepala.
Suci membuka pintu dan keluar dari mobil, sejuknya udara menerpa wajahnya. Pepohonan dan gerakan angin seakan menyambut kedatangannya kembali ke sana. Menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, mengucapkan basmallah untuk mengawali harinya. Dia memperhatikan Zufar yang mengeluarkan koper dari bagasi mobil, pria itu memergokinya yang sedari tadi memperhatikan, membalas dengan senyuman khas.
"Ayo, masuk. Semua orang sudah menunggu!" Zufar memegang sebelah tangan sang istri, dan sebelahnya menyeret koper yang berisi barang-barang sang istri.
"Hem," Suci mengikuti langkah kaki suaminya yang menuntun masuk ke dalam rumah, terkejut saat bunga mawar merah berjatuhan mengenai dirinya. Para pelayan sangat antusias dengan kedatangan sang penenang majikan mereka, sangat bersyukur akan kehadiran istri pertama.
"Setidaknya rumah ini tampak seperti hunian, bukan seperti sebelumnya yang terasa bagai neraka." bItulah yang ada di pikiran para pelayan, kedatangan obat penenang seperti istri sholehah akan terasa damai.
Suci tersenyum mendapat sambutan dari para pelayan dan juga menatap wanita paruh baya yang sudah seperti ibunya sendiri, dia adalah ibu mertuanya bernama Tini. "Assalamu'alaikum, bagaimana kabar Mama?" tanyanya yang segera meraih tangan kanan mertuanya, dan menciumnya.
Tini sangat terharu dengan kedatangan menantu idamannya, karena hanya Suci yang bisa mengendalikan putra sulungnya. Memeluk sang menantu dengan sangat erat, melepaskan kerinduan. Guratan rasa ketakutan masih membayangi dirinya, tak sanggup dengan perubahan Zufar yang menjadi iblis dikala sang menantu tak ada di sisi. "Wa'alaikumsalam, Mama sangat takut, jangan membuat Mama khawatir." Ucapnya yang sangat terharu, menarik wanita berhijap dalam dekapannya .
__ADS_1
"Maaf, sudah membuat Mama sedih dengan kepergianku." Suci menundukkan wajahnya, rasa bersalah menyeruak begitu cepat.
"Tidak, kamu tidak bersalah Nak. Hanya saja pria itu dan wanita buntal yang menjadi akarnya," ucap Tini yang melirik Zufar dan Siska secara bergantian.
"Nenek lampir itu selalu saja membuatku kesal, kapan dia pulang?" batin Siska yang sangat kesal, namun masih bisa tersenyum menutupi kekesalannya.
"Apa aku anak tiri?" gerutu Zufar.
"Bukan, kamu anak pungut yang aku kutip di atas genteng." Sahut Tini yang kembali ketus dan cerewet.
"Antar Suci ke kamar utama, aku tak ingin menantuku kabur lagi karena si kutu buntal itu!" sergah Tini cerewet, malah semakin menyulut emosi Siska.
Zufar tersenyum ke arah istri pertamanya, sangat merindukan belaian Suci ketika menjalankan kewajiban suami dan istri. Tini menyipitkan kedua matanya, melirik sang putra dan memahami maksud dan tujuan tersembunyi. "Jangan berpikir aneh-aneh, menantuku baru kembali dari timur tengah. Biarkan dia beristirahat!"
Pupus sudah harapan Zufar yang ingin menaungi samudra cinta dalam alunan dan melodi yang tak berirama. "Mama, aku hanya__."
__ADS_1
"Stop, jangan diteruskan dan ini sudah jadi perintah. Sudah aku putuskan, mulai sekarang aku akan tinggal di rumah kalian!" putus Tini yang tersenyum, melirik menantu kedua sinis.
"Mas," rengek Siska yang tak setuju dengan keputusan itu, Zufar juga ingin protes tapi dibantah oleh ibunya.
"Apa kamu ingin jadi anak durhaka, hah? Ingat! Bagaimana Mama melahirkanmu dan merawatmu sewaktu kecil." Tutur Tini yang mengatakan kalimat keramat.
Suci tersenyum, karena mertuanya datang untuk mendukung dirinya. Sedikit secercah harapan untuknya memiliki tempat yang sama. Dia ingin berjalan menuju kamarnya, baru beberapa langkah penglihatan memudar dan terjatuh di lantai.
"Suci!" Tini dan Zufar sangat terkejut dengan keadaan wanita berhijab, segera menghampiri dan melakukan pertolongan pertama.
"Ya Tuhan…wajahnya sangat pucat, apa yang terjadi pada menantuku?" gumam Tini sangat takut dengan kondisi Suci yang melemah, begitupun dengan Zufar yang segera mengangkat tubuh lemah itu di atas sofa, segera menghubungi dokter.
"Sayang…Sayang, bangunlah!" Zufar menggosok telapak tangan juga telapak kaki Suci yang terasa dingin. Semua pelayan juga sangat mengkhawatirkan keadaan wanita berhijab itu, lain halnya dengan Siska yang mengulas senyum tanpa diketahui oleh orang lain.
"Kamu baru saja sampai, apa yang sebenarnya yang terjadi?" racau Tini tampak cemas, berdoa agar semuanya baik-baik saja.
__ADS_1