
Simon berusaha untuk memposisikan dirinya dengan benar, karena saat ini dia sangat gugup jika berhadapan langsung, tapi tak ingin memperlihatkannya. Tersenyum ke arah wanita berhijab yang menatapnya dengan aneh. "Kamu sepertinya sangat gugup, dengan rapat pertama sebagai pemimpin dari perusahaan Mitra Group."
"Itu memang benar, ini kali pertama saya bekerja dan belum memahami topik proyek kerjasama yang akan diadakan oleh dua perusahaan." Jelas Suci yang berkata jujur, dia tidak ingin ada kebohongan dalam menjalankan amanat sang almarhum sang suami.
"Aku mengerti, bagaimana jika kita makan siang bersama kali ini," ajak Simon yang tersenyum berusaha mendapatkan hati sang pujaan.
"Maaf, sepertinya siang ini aku tidak bisa, ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan." Tolak Suci yang ingin pergi ke toko roti, untuk beristirahat dan makan siang bersama dengan sahabatnya.
Terlihat raut wajah kecewa dari Simon, tapi segera menepisnya dengan cepat dan kembali menyuguhkan senyuman khas miliknya. "Hem, baiklah. Sepertinya aku harus menunggu hari itu tiba," guraunya untuk menghilangkan suasana ambigu.
"Aku pergi dulu!" Suci segera berlalu pergi seraya lirik jam yang melingkar di tangannya, dia ingin menghabiskan jam istirahat untuk mengecek kondisi toko.
Simon menatap kepergian dari wanita berhijab yang sejuk dipandang mata, berusaha untuk tetap sabar dalam meraih sesuatu. Suasana yang hening itu terganggu di saat mendengar tawa dari seseorang yang menghampirinya, segera menoleh dan melihat sumber suara yang tak lain adalah asisten Ben. Pria yang berani menertawakannya adalah sang asisten kocak dan juga somplak.
"Apa begitu cara Tuan mendapatkan hati nona Suci? Sampai lebaran monyet juga tidak akan dapat, sangat perlahan seperti siput," ucapnya dengan nada sindiran, melihat atasan yang masih awam dalam percintaan.
__ADS_1
Simon mengepalkan kedua tangannya yang geram melihat sang asisten, dengan cepat dia membuka sepatu dan melemparkannya tepat mengenai kening asisten Ben. Tersenyum puas karena melihat pria itu sengsara, akibat lemparannya yang tepat sasaran.
"Auh…tolong aku, Tuan. Kepalaku sangat sakit," ringis asisten Ben yang mengusap dahinya.
"Itu akibatnya jika berani mengejekku, jika sampai terjadi lagi? Bukan hanya dahi mu yang kena, tetapi kepalamu itu akan hilang dari tubuhnya!" ancam Simon yang segera berlalu pergi setelah mengambil sepatunya.
Asisten Ben menggeleng-gelengkan kepala, karena sifat absurd dari tuannya dalam keadaan tidak stabil, mengingat dirinya yang terkena sasaran empuk. "Karena aku emosi, lebih baik aku memakan makanan manis atau bisa cemilan. Bagaimana jika aku pergi ke toko roti Zahra pasti sangat nikmat." Monolognya yang segera beranjak dari sana.
****
Sesampainya di toko roti, Suci segera masuk ke dalam menyapa semua orang yang beristirahat untuk beberapa menit kedepan, dia melihat wajah lelah dari karyawannya dan juga Melati dalam melayani para pengunjung yang selalu berdatangan. "Aku memesan beberapa makanan dan cukup untuk kita semua, beristirahatlah dan ayo kita makan bersama!" ajaknya yang bersemangat dan juga antusias.
Tanpa disadari, seseorang tengah mengintai Suci. Dendam di masa lalu, membuatnya begitu membenci wanita berhijab tidak bisa memaafkan dan harus membalas dendam. "Kamu boleh bersenang-senang di atas penderitaanku, tidak lama lagi aku akan melenyapkanmu, lalu ikut menyusul suamimu itu." gumamnya seraya berlalu pergi, dan kembali memasang masker dan juga hoodie, tak ingin jika ada orang lain yang mengenali wajahnya.
Mereka bersantap makan siang bersama, tanpa ada percakapan dan obrolan, menikmati dengan hikmat dan mensyukuri apa yang telah mereka dapatkan hari ini, sebuah kebersamaan yang begitu mereka rindukan. Berapa menit kemudian, akhirnya mereka selesai makan, menghabiskan makanan yang dibeli oleh Suci tanpa ada yang tersisa.
__ADS_1
"Makanannya sangat lezat, aku sangat menyukainya," celetuk Melati yang sangat bersemangat.
"Syukurlah, jika kamu menyukainya." Sahut Suci yang tersenyum bahagia, memberikan sedikit rezeki untuk karyawan dan juga Melati. "Bagaimana kemajuan tokoh kita?" tanyanya kepada karyawan yang bekerja menjadi kasir.
"Peningkatan kita Alhamdulillah semakin berkembang, Bu."
"Alhamdulillah, jika begitu aku ingin setiap hari Jumat kue-kue ini dibagikan kepada para pengemis dan juga pemulung atau fakir miskin. Tugas itu akan dilakukan secara bergantian, apa kalian setuju?" ungkap Suci yang ingin mensucikan harta dari suaminya dengan berbagi dengan sesama.
"Itu sangat bagus, aku mendukung program yang kamu buat ini semoga menjadi berkah usaha masa depannya." Tutur Melati.
"Halo, apa toko ini tutup? Aku sangat lapar dan ingin makan roti di sini!" asisten Ben yang sedikit berteriak melihat toko roti dengan pintu yang tertutup, untung saja pintu hanya dipasang dengan kaca hingga bisa melihat suasana di dalam.
"Ada saja yang mengganggu, padahal di tulisan pintu itu sedang beristirahat," keluh Melati yang sangat dongkol, segera membukakan pintu dan melihat siapa yang datang mengganggu.
"Spada…yuhu, bukalah pintu ini aku sangat lapar."
__ADS_1
"Bisakah kamu tidak berteriak? Sudah jelas tokonya masih tutup lihat tulisan yang ada di depan pintunya, kami sedang beristirahat. Jadi, datanglah sepuluh menit lagi!"