
Di sepanjang perjalanan, Suci hanya terdiam memikirkan perkataan dari suaminya, yang menginginkan anak laki-laki saja. Padahal dia menunggu hari di mana dia akan mengandung dan tidak menghiraukan jenis kelamin dari calon anaknya nanti, tapi semangat yang dipatahkan oleh Zufar benar-benar membuat dirinya down. Tak mengerti dengan sikap suaminya yang selalu saja mencari kesalahan dari ketidakpekaan nya.
Dirinya hanya melamun dengan pandangan ke luar jendela, melihat padatnya lampu lalu lintas dan juga bangunan-bangunan tinggi yang menjulang ke atas, menangis dalam diam karena hatinya sedikit sensitif. "Mengapa Mas Zufar berubah? Dia selalu saja mengatakan cinta padaku, tetapi masih saja tidak menerimaku dengan sepenuh hatinya. aku sudah menerima, jika dia mempunyai istri lain seperti Siska. Tapi satu hal yang tidak aku pahami, apa dia mencintaiku atau itu hanya obsesinya saja? Ya Tuhanku…tunjukkan hamba jalan kebenaran, perlihatkan dengan sangat jelas mengenai baik atau buruknya."
Siska tersenyum tipis, walaupun hanya istri kedua setidaknya Dia mempunyai posisi penting di hati sang suami, dengan mengabulkan anak laki-laki yang akan dia berikan nantinya. Awalnya dia takut, jika kakak madunya juga hamil. Tetapi, setelah mendengar perkataan suaminya sedikit ada kelegaan di hati. "Itu sangat bagus, semoga saja bayi yang ada di dalam kandungan itu adalah perempuan, dan aku bisa menguasai seluruh harta dan juga fasilitas milik mas Zufar." Batin nya licik. "Mas, aku sangat bahagia dengan pemeriksaan yang hasilnya sangat bagus, bahkan perkembangan bayi laki-laki kita dalam keadaan sehat dan juga aktif. Aku sudah tidak sabar menunggu kelahirannya!" ucapnya yang mencairkan suasana.
"Aku juga sangat senang mendengarnya, jaga kandunganmu!"
"Pasti." Sahut Siska dengan cepat.
__ADS_1
Suci melirik suami yang ada di sebelahnya yang tengah mengemudi mobil, dia sungguh tak percaya dengan tabiat asli yang sedikit demi sedikit keluar dengan nyata. Tidak memahami sikap yang selalu berubah-ubah seperti tidak ada arah tujuan dan juga kedewasaan dari Zufar.
Di hati Zufar juga merasa sangat senang dengan kehamilan dari kedua istrinya, bahkan penantian selama delapan tahun membuatnya begitu sangat bahagia. Hanya saja dia tak ingin jika anak yang dikandung oleh Siska nantinya akan menjadi pewaris dan akan menggantikan dirinya setelah pensiun. Dia sangat menginginkan bayi laki-laki yang ada di rahim istri pertamanya, dan hal itu pastinya akan menjadi sangat lengkap. "Semoga Suci mengerti dengan perubahan sikapku, hanya ingin bayi laki-laki untuk meneruskan bisnis yang sudah aku kembangkan." gumamnya di dalam hati luruskan pandangan ke jalanan.
Suasana di dalam mobil menjadi hening, tidak ada yang ingin membuka obrolan ataupun memulainya, karena ketiganya hanyut dalam pikiran masing-masing. Suci yang sedih akan suaminya yang menginginkan ini dan itu, sedangkan Zufar sangat menginginkan jika bayi itu laki-laki yang pastinya akan menjadi penerus keluarga. Dia tidak sudi, jika anak dari istri kedua menjadi pemimpin nantinya.
Sikap egois dan hanya ingin menang sendiri, membuatnya dibutakan oleh perasaan tanpa memikirkan kedua wanita yang tanpa sengaja dia sakiti.
"Aku tidak melakukan apapun, hanya saja di saat pemeriksaan, aku ingin mempunyai bayi laki-laki. Itu saja," jawabnya dengan enteng.
__ADS_1
Tini meremas kedua tangannya merasa geram dengan putra sulungnya, sangat mirip dengan sang mendiang suaminya yang bersikap egois, plin-plan dan ingin menang sendiri. Semuanya harus berjalan sesuai apa yang dia kehendaki. "Dasar bodoh, kalian sudah menikah selama delapan tahun dan baru saja dia merasakan akan menjadi seorang ibu, tapi kamu malah mematahkan semangatnya."
"Aku hanya menyampaikan keinginanku, tidak bermaksud apa-apa?"
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Suci pergi jauh malah kamu kejar, di saat dekat malah kamu sakiti. Kamu sudah dewasa, berhentilah bersikap seperti remaja labil!" ucap Tini meninggikan suara.
"Cukup Ma, aku capek!" balas Zufar yang juga membentak ibunya.
Siska sangat senang jika terjadi keributan di rumah itu, dia kembali menuju kamarnya dan merayakan keberhasilannya. "Semua rencanaku tidak pernah meleset, rencana A tidak berhasil maka menggunakan cara B." Ucapnya yang bersorak ria, naik di atas ranjang dan melompat-lompat seperti monyet. Hingga tak sengaja silikon di perutnya melorot, hal itu malah membuatnya tertawa bahagia.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar dering ponsel yang menghentikan aktivitasnya, menghenyakkan tubuhnya seraya menyandarkan punggungnya. "Ck, si brengsek ini masih saja menghubungiku!" segera dia mengangkat saat mengetahui siapa yang menelepon.