
Suci sudah mengatur lokasi yang cukup pas, jarak toko roti lainnya agak berjauhan. Tersenyum karena toko itu sudah atas namanya, membuat pesan di ponsel Zufar mengenai uang yang digunakan. "Lumayan juga, tapi biarlah…ini kali pertama dia menghabiskan uangku." gumam pria yang tengah melirik ponselnya beberapa detik dan kembali meletakkannya di atas meja, kembali berkutat pada layar komputer.
Suci juga mendekorasi sendiri toko miliknya dengan sangat indah, beberapa aksesoris dan hiasan tampak menyatu, semakin memanjakan mata yang melihatnya. "Sebaiknya aku mencari karyawan wanita miskin, hitung-hitung membuka lapangan pekerjaan walau hanya merekrut beberapa orang saja." Monolognya yang sangat antusias, berharap jika usahanya berjalan lancar.
Setelah semua masih dikerjakan, Suci memilih untuk pergi berbelanja kebutuhan dan bahan-bahan sesuai resep yang diajarkan oleh Umi Kalsum. "Bagaimana keadaan umi? Aku sangat rindu padanya." Gumamnya seraya mengeluarkan ponsel, mencari nomor kontak yang ada di daftar.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, ada menelepon?"
"Hana, ini kakak. Bagaimana keadaan kalian?"
"Baru sekarang menanyakan keadaan? Setelah apa yang kakak lakukan kepada kami?"
"Maaf, kakak tidak bermaksud untuk menyembunyikan keadaannya. Bagaimana keadaan umi?"
"Umi sangat sedih selepas permasalahan kakak dan kak Zufar."
"Sekali lagi, maafkan aku!"
__ADS_1
Suci ingin mengobrol panjang lebar, tetapi adik angkatnya langsung memutus sambungan telepon. "Apa aku begitu buruk?" gumamnya yang sedih, menundukkan kepala dengan tatapan kosong.
Mobil yang dia tumpangi tiba-tiba berhenti di tengah jalanan sepi, sedikit takut karena tak ada siapapun selain dirinya dan juga supir. "Apa yang terjadi, Pak?" tanyanya sembari menatap ke arah jalanan, ingin tahu penyebabnya.
"Sepertinya mogok, Nona."
Suci melirik jam yang ada di layar ponselnya, masih ada waktu untuk berbelanja bahan-bahan kue dan roti. " Ya sudah, Bapak perbaiki saja dulu! Aku tidak masalah untuk menunggu.
Sang supir segera keluar dari mobil, memeriksanya dengan teliti. Suci merasa suntuk dan jenuh berada di dalam mobil, dia keluar dan meluhat masalah apa yang menimpa pak supir. "Apa tidak ada montir disini?"
"Ada, jaraknya satu kilometer dari sini."
"Baru saja saya menelepon montir, tunggu beberapa menit lagi." Ucap pak supir mencoba untuk menenangkan.
Suci dan pria paruh baya terpaksa menunggu di jalanan sepi, terdengar suara beberapa motor yang datang menghampiri. Kedua sangat terkejut melihat beberapa preman yang tertawa jahat, melihat mangsa empuk di dekat mereka dan mengelilingi kayaknya mangsa baru.
"Ada mangsa empuk," ucap seloroh salah satu preman yang menganggapnya lucu, tertawa jahat sambil bertos ria dengan ketiga temannya.
"Jangan ganggu kami, pergilah!" usir pak supir yang memberanikan diri, melindungi Suci agar tidak di celakai para preman.
__ADS_1
"Kami bukan hewan yang bisa di usir seenaknya."
"Cepat serahkan barang-barang berharga kalian, atau di ambil secara paksa."
Ancam dari berapa preman membuat pak supir maju kedepan untuk melindungi Suci, yang menjadi santapan para pria bertato menatap wanita berhijap dengan mesum. "Ya Allah…ya Tuhanku, lindungi kami dari marabaya." Selalu merapalkan doa agar terhindar dari masalah.
"Sebaiknya Nona cari bantuan, hubungi siapa saja!" bisik pak supir, dengan cepat Suci menghubungi seseorang sapi terlambat karena pulsanya sudah jatuh ke tanah. Dia sangat takut, jika preman itu menyentuh, dan mengganggunya. Sangat kasihan dengan pak supir yang rela mengorbankan diri demi melindunginya.
Terjadi aksi pertarungan yang tidak seimbang, supir kalah dalam perkelahian itu hingga dirinya terkapar tak berdaya.
Suci tidak tahu apa yang harus dilakukan, melihat pertarungan yang tidak seimbang. Antara pak supir dengan empat orang preman yang berbadan kekar, dan juga berkulit hitam. "Berhenti memukul pak supir, kalian sangat bengis, sangat keterlaluan. Dengan sengaja kalian menggertak juga melukai pak supir hingga babak belur. Aku akan mengabulkan keinginan kalian, tunggu sebentar!" segara masuk ke dalam mobil dan mencari sejumlah uang. Dia menyembunyikan kartu atm dengan sangat baik agar tidak ada yang menemukan, dua puluh lembar uang berwarna merah disodorkan.
"Dua juta? Kami ini berempat, mana cukup jika dibagi empat." Dua orang preman segera masuk ke dalam mobil, mencari uang ataupun barang-barang mahal yang nantinya bisa mereka dapat. Bukan hanya itu saja, bahkan preman itu melepas paksa cincin yang dipakai oleh Suci.
"Jangan ambil cincinku, itu cincin pernikahan." Tegas Suci yang ingin melawan. Tapi, hasilnya tak berhasil saat keempat pria mengerubunginya dengan tarapan penuh gairah.
Suci yang menutup mata menjadi penasaran saat terdengar suara aneh, segera membuka mata. Keempat preman itu terkapar tak berdaya, hanya sekali bogeman mentah.
Mereka segera melarikan diri, karena tak ingin berurusan yang akan berbuntut panjang.
__ADS_1
Dua tatapan saling bertemu beberapa detik, dengan cepat Suci membantu pak supir yang pingsan. "Terima kasih, sudah menolong kami." Orang itu hanya membalasnya dengan tersenyum dan menganggukkan kepala, membantu memperbaiki mobil yang mogok.