
Suasana pagi hari dengan hawa dingin yang sangat menusuk batin. Sekujur raga terbelenggu dalam dinginnya pagi. Pagi hari berhias kabut yang sangat tebal mendekap seluruh jiwa. Suci telah terbangun dari tidurnya, mengerjapkan mata saat melihat suasana pagi hari di luar jendela. Menoleh sekilas ke arah ranjang, terlihat seorang pria yang menjelma menjadi suaminya masih terlelap dalam tidurnya.
Suci tak tega membangunkan suaminya, memilih untuk menulis sebuah diary yang menjadi curahan hatinya selama ini. "Sudah lama aku tidak menulis di buku diary, aku akan mengisi kekosongan pada setiap lembarannya." Gumamnya yang memikirkan keinginan terbesar yang tidak diketahui oleh siapapun.
Mendengar suara menghentikan coretan tinta pada lembaran kosong, segera menutup buku diary dan segera menghampiri suaminya yang baru saja bangun. "Mari, aku bantu!" tawarnya yang tersenyum.
"Hem."
"Hari ini ada jadwal kemoterapi, Mas."
Zufar menatap dalam sang istri, masih membayangi bagaimana rasa sakit kemoterapi. "Batalkan saja, aku tidak ingin mendengar nasehat dokter atau siapapun."
Suci tersentak kaget saat sang suami meninggikan suara. "Tapi Mas, ini untuk kesembuhanmu." Bujuknya berusaha mengembalikan semangat sang suami.
Zufar tersenyum miris mengenai nasibnya yang tidak akan hidup lebih lama lagi, menundukkan kepala dengan pandangan lurus. "Jangan memberiku harapan palsu, sudah cukup aku berobat dan juga kemo. Itu hanya menyakitiku saja, bahkan dokter sudah memvonis ku yang tidak akan bertahan lebih dari enam bulan. Aku sudah menyerah," jelasnya sembari menghela nafas panjang.
"Mengapa kamu mengatakan itu Mas? Kita akan menjalaninya bersama-sama, Mas pasti sembuh."
"Aku ingin menghabiskan waktu denganmu, menikmati hidup dengan kenangan indah dan juga singkat." Ungkap Zufar yang tidak yakin akan hidupnya sendiri.
"Jadi, Mas tidak mau untuk kemoterapi?"
__ADS_1
Dengan cepat Zufar menggelengkan kepala, tak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk pengobatan lagi, tapi mengukir kenangan singkat bersama sang istri tercinta. "Tidak, jangan menganggapku orang sakit. Sebaiknya kita menghabiskan waktu, seperti membawaku ke toko kue milikmu."
"Apa Mas yakin?"
"Iya, aku belum sempat melihatnya karena wanita itu." Keluh Zufar.
"Baiklah, aku akan menyiapkan pakaian untukmu, Mas." Suci membantu untuk menyiapkan pakaian sang suami. "Selesai!" ucapnya bersemangat.
Zufar tersenyum di hadapan cermin besar, melihat dirinya yang terlihat pucat dan juga kepala botak membuat ketampanannya berkurang. "Aku terlihat sangat jelek dengan kepala licin seperti porselen ini," guraunya sembari mengusap kepalanya.
"Tidak, Mas masih tampan." Puji Suci yang tersenyum.
Zufar mendekap tubuh istrinya dan memeluk dengan lembut, memberikan rasa kenyamanan dan juga kehangatan. "Aku ingin membuatmu bahagia sebelum aku pergi," gumamnya di dalam hati, menguatkan diri untuk perpisahan mereka.
"Tentu saja, lupakan kesedihan dan mulai mengukir kenangan bersama."
"Hem."
Di sepanjang perjalanan, keduanya saling berbincang membahas banyak hal. Zufar sangat bahagia, karena kali pertama mereka terlihat sangat dekat setelah permasalahannya dengan Siska terselesaikan. Dia memegang tangan sang istri, mengecup kening dengan sangat lembut. "Maafkan kesalahanku yang telah lalu."
"Aku sudah memaafkanmu, Mas." Sahut Suci, namun bekas yang ditorehkan masih membekas di hati, mencoba berkompromi dengan keadaan.
__ADS_1
Tak lama, mobil berhenti di sebuah toko yang berarsitektur modern dan minimalis. Begitu banyak pengunjung yang berdatangan, menyukai roti dan kue resep dari Suci yang dia dapatkan dari ibu angkatnya. Mereka segera turun dari mobil, beberapa karyawan menyambut kehadiran sang pemilik toko dan juga pemilik perusahaan Mitra Group.
"Mas duduk di sini dulu, aku ingin mengecek bagian dapur."
"Hem, baiklah."
Zufar hanya mengangguk patuh, menyukai aroma tempat itu khas toko kue. "Sangat harum, ingin sekali aku mencicipinya, pasti sangat lezat." Gumamnya yang memegang perut.
"Halo, apa anda tidak dengar? Saya ingin memesan kue," ucap seseorang yang membuat Zufar berdecak kesal, karena dirinya bukanlah karyawan di sana.
"Minta orang lain yang melayanimu!" cetusnya dengan mata yang masih melirik kue di etalase.
"Apa kamu karyawan baru disini? Sangat ceroboh!"
Zufar sangat kesal akibat diusik oleh pengunjung, dia segera menoleh dan menatap sang pelaku dengan tajam. Betapa terkejutnya dia, di saat melihat orang yang paling menjengkelkan saat berkunjung ke Palestina. Mereka pernah berebut mangga muda, masih mengingat wajah pria yang mengenakan sorban. "Onta? Sejauh ini berlayar, dan kamu ada di sini?" ucapnya yang sedikit shock.
Sementara Simon hanya tersenyum masam, terlihat dari mata birunya. "Dasar monyet!"
"Apa monyet dan onta itu bersahabat, Ayah?" celetuk gadis kecil yang berada di gendongan Simon.
"Tidak Sayang, jangan di dengar perkataannya. Cari tempat duduk kosong, Ayah akan memesannya."
__ADS_1
"Baik Ayah," sahut Rasidha yang tersenyum patuh, segera berlari ke meja kosong ingin mencicipi kue di toko milik ibu angkatnya.
Dua orang pria yang saling menatap sengit satu sama lain, terlihat jika mereka masih mengenang di saat berada di Palestina.