Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 44 - Zahra Cake


__ADS_3

Pergelaran pembukaan toko kue milik Suci yang diberi nama Zahra Cake, mengambil nama belakangnya. Senyum mengembang karena begitu banyak orang yang antusias ingin masuk ke dalam dan mencicipi kue atau roti buatannya. Tempat yang tidak terlalu luas, hanya saja desain yang minimalis menjadi daya tarik untuk menarik konsumen.


Suci segera meraih gunting yang sudah dihias menggunakan pita biru, ingin meresmikan tempat itu dengan mengundang beberapa orang saja. Tini dan Mirza sangat antusias untuk datang dan melihat toko barunya, mereka menyukai toko kue yang sangat memanjakan mata.


Suci celingukan saat tak melihat suami dan juga madunya, sedikit membuatnya kecewa karena tak hadir dalam hal pentingnya. "Kemana mas Zufar? Apa dia lupa, jika hari ini sangat spesial bagiku. Siska juga tidak di sini, mungkin saja mereka menghabiskan waktu bersama." Batinnya yang mengurangi senyum di wajahnya, kian murung saat suaminya tidak ikut serta dalam acara.


Hal itu malah membuat Suci tak ingin memotong pita, tapi dia juga tak ingin membuat orang lain kecewa dan meluangkan waktu pembukaan tokonya. Tini segera maju untuk memintanya memotong pita, peresmian toko baru dari menantunya. Segera dia maju ke depan, memegang tangan sang menantu untuk meresmikan. "Tidak perlu memikirkannya, potong saja pita itu. Mama ada di sini dn mendukung keputusanmu," tuturnya yang tersenyum. 


Suci segera tersenyum dan memotong pita, mendoakan jika usahanya membuahkan hasil. Beberapa pengunjung sangat antusias di saat pita digunting, mereka bertepuk tangan dengan meriah. "Terima kasih atas waktu luangnya, untuk hari ini kalian bisa mencicipi kue secara gratis." 


Mendengar kata gratis, tentu saja orang-orang yang ikut memeriahkan acara sangat senang, bisa mencicipi kue yang sangat lezat. 


"Selamat untukmu, Sayang." Tini memeluk menantunya sepersekian detik, lalu melepaskannya.


"Makasih, Ma."


"Maaf ya Sayang, Mama gak bisa lama-lama. Ada arisan teman sosialita," jujur Tini yang masih menyempatkan untuk hadir.

__ADS_1


"Iya Ma, terima kasih sudah berpartisipasi."


"Sama-sama, Nak." Tini segera pergi meninggalkan tempat itu.


Tatapan Mirza dan Suci berkontak secara langsung, namun tak ada yang berniat untuk memulainya. Dia melihat punggung pria itu mengikuti Tini, menjadi supir sang ibu dan  mengantarkan pergi ke acara arisan sosialita.


Tiba-tiba, terdengar suara dering ponsel yang berasal dari dalam tas kecil yang dibawa oleh Suci, dia segera mengangkat telepon saat mengetahui siapa yang meneleponnya.


"Assalamu'alaikum."


"Maaf ya mbak, aku dan mas Zufar tidak bisa hadir."


"Semoga berhasil."


"Hem."


Sambungan telepon sengaja terputus secara sepihak, Suci sedikit bingung. Tapi beberapa detik kemudian baru paham, jika Siska mengirimkan foto kebersamaannya di ranjang bersama suami mereka.

__ADS_1


Dia memegang dadanya yang terasa sakit berdenyut. "Jadi dia mengirimkan ini hanya ingin pamer?" gumamnya setelah melihat isi pesan yang dikirimkan oleh adik madunya.


Dengan cepat, dia menyeka air mata dan masuk ke dalam toko barunya, melupakan apa saja yang baru dia lihat di layar ponselnya. 


"Tidak ada gunanya aku menangis, itu sepantasnya terjadi karena mereka adalah sepasang suami istri. Lebih baik aku mengalihkan perhatian, dan mulai mengembangkan bisnis agar berkembang." Gumamnya di dalam hati, bertekad untuk menyemangati dirinya.


Suci memperlihatkan senyuman di wajahnya, melayani para pelanggan dengan penuh antusias. Tanpa disadari, ada sepasang mata yang mengawasinya.


"Di hari spesial, suaminya tidak ada di sampingnya?" lirih Simon di dalam mobil, perasaannya sangat sakit melihat wanita yang dipandang sedari tadi menangis, seakan ikut merasakan hal yang sama.


Simon membetulkan jasnya, segera turun dari mobil dan melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam toko. Dia datang seorang diri, ingin sekali dia membawa rasidha ikut bersamanya,  tapi tak ingin jika rahasia yang selama ini disimpan akan terbongkar. Tidak ada yang tahu jika, dia adalah Zaid, pria bersorban yang menutupi wajahnya. Untuk sementara waktu dia lebih menyembunyikan identitasnya, situasi yang tak memungkinkan baginya mempertemukan Suci dan putri angkatnya yang baru berusia lima tahun.


"Sepertinya aku datang terlambat."


Suci segera menoleh ke asal suara, dia sedikit terkejut karena seorang pria ada di belakangnya. "Tidak masalah, silahkan duduk!" 


Simon tersenyum mencari kursi kosong, sebenarnya dia tak menyukai tempat keramaian. Hanya saja, dia datang untuk melihat keadaan Suci. Suatu keadaan terpaksa, demi kepuasan hati akan kerinduan yang menyelimuti dirinya.

__ADS_1


"Ini kuenya, cicipi saja dan katakan bagaimana rasanya. Hari ini, makanlah sepuasnya tanpa membayarnya. Oh ya, aku tidak bisa berlama-lama. Permisi!" celetuk Suci membuat Simon terkejut tak menduga, mengira jika wanita berhijab pink itu sangatlah pendiam. 


"Aku baru tahu sekarang, ternyata dia sangat cerewet. Sangat menggemaskan!" gumam Simon tersenyum sembari menyuapi mulutnya dengan kue buatan Suci. "Ini sangat lezat," pujinya yang terus menyuapi mulutnya tanpa berhenti, menikmati setiap sendok kue yang masuk ke dalam mulut.


__ADS_2