Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 63 - Onta vs Monyet


__ADS_3

Keduanya saling menatap penuh arti, seakan di masa lalu mereka pernah mempunyai masalah dan bermusuhan di masa depan. "Mengapa kamu ada disini?" tanya Zufar menyipitkan kedua mata dengan penuh selidik.


"Aku tidak butuh izin siapapun, mau kemana aku pergi, dan itu bebas sesuka hati." 


"Sombong sekali, aku ingin melihat kesombonganmu di balik kain sorban yang menutup wajah. Pasti sangat seru, bagai tontonan menarik bagiku!" ungkap Zufar tersenyum mengejek.


"Ck, hanya orang pilihan saja yang bisa melihat ketampananku. Tidak sebanding dengan wajahmu seperti kuli bangunan," balas Simon yang mengejek. 


Zufar yang sangat kesal, menghampiri pria bersorban dan mengaitkan tangan di leher pria itu. "Mari, aku ingin lihat ketampananmu." 


"Hei, apa yang kamu lakukan. Dasar kekanak-kanakan, lepaskan aku!" 


"Tidak akan, sekali saja kamu mengusikku? Maka tamatlah riwayatmu, kembalilah ke asalmu di padang pasir. Dasar onta!" 


"Terserah mau kemana aku pergi, dan aku tak takut denganmu. Dasar monyet sialan, lepaskan aku!" 

__ADS_1


Para pengunjung mengalihkan perhatian menatap dua orang yang tidak akur, menjadi pusat perhatian semua orang membuat mereka menghentikan aksi. Bahkan seorang wanita berhijab coklat juga menyaksikan pertikaian dua pria dewasa yang menjelma menjadi anak berusia delapan tahun. "Tolong, ingatlah umur kalian saat ini. Apa kalian tidak malu, menjadi pusat perhatian semua pengunjung disini? Dan bahkan ada beberapa anak-anak juga," jelas Suci menolak pinggang, menatap dia orang pria yang dia kenal. Dia sedikit terkejut, jika Zaid dan Zufar punya dendam pribadi.


Tatapan Suci berhasil membuat dua orang pria itu cengengesan, mereka saling merangkul dan tersenyum untuk menutupi apa yang terjadi. "Sayang, kamu salah. Kami ini adalah teman yang baru saja bertemu setelah beberapa lamanya, ucap Zufar yang berbohong. 


"Iya, itu benar. Aku tidak menyangka, jika monyet tropis berkepala porselen." Sambung Zaid yang mengusap kepala licin Zufar. 


Zufar sangat kesal, kali pertama ada orang yang berani dengannya. Namun, dia tersenyum di saat terlintas sebuah ide. Menginjak kaki pria bersorban dengan kuat, membuat sang empunya meringis. "Maaf, ada semut di kakiku." Ucapnya yang tidak ada kata penyesalan di wajahnya.


Suci menatap bingung dengan dua pria yang tidak terlihat akur seperti yang mereka terangkan. "Sebaiknya kita duduk dulu! Mas, aku ingin mengenalkanmu dengan Rasidha."


"Hem," sahut keduanya kompak, segera berjalan menuju gadis kecil yang terlihat bosan menunggu.


Seketika Rasidha tersenyum sumringah dan memeluk tubuh sang ibu angkat, melepaskan kerinduan yang membentengi keduanya. Suci segera melepaskan pelukannya, mendudukkan gadis kecil itu di pangkuannya. "Perkenalkan, dia adalah suami Ibu. Panggil saja dengan paman Zufar." Tuturnya menunjuk pria berkepala plontos. "Mas, dia adalah Rasidha. Gadis kecil yang aku kenal di Palestina, sekaligus anak angkatku."


Rasidha hanya terdiam, terus memandangi Zufar membuat semua orang bingung. 

__ADS_1


"Mengapa bocah itu masih menatapku?" batin Zufar tak paham apapun.


"Kenapa? Ayo salim!" Suci memecahkan lamunan Rasidha, dia tahu jika tatapan itu mengarah kemana. 


Rasidha segera mencium punggung tangan Zufar dan tersenyum dengan ramah, tapi matanya masih saja menatap ke arah kepala yang licin bagai porselen. "Ada apa?" tanya Zaid mengerutkan kening. 


"Paman, apa aku boleh menyentuh kepala botak itu?" ungkap Rasidha dengan polos, kepala Zufar begitu menarik di pandang olehnya. Seketika tawa Zaid alias Simon terlepas, membuat Suci hanya menyaksikan apa yang terjadi. "Tentu saja boleh, apapun keinginan tuan putriku itu harus dikabulkan!" 


"Benarkah?" dua manik mata yang berbinar cerah, mendapatkan lampu hijau dari sang ayah yang memanjakannya. Sementara Zufar menatap Zaid dengan tatapan tak biasa, ingin sekali dia menghajar pria itu. Tapi, masih mengingat adanya sang istri dan tidak ingin memperlihatkan watak aslinya.


Zufar tersenyum paksa, menganggukkan kepala dan menyetujuinya. Sedangkan Suci tahu, jika suaminya tidak ingin melakukan itu. Dengan cepat dia memberi arahan dan pengertian pada gadis kecil, agar tidak bersikap seenaknya dengan orang lain yang bisa membuatnya terkena masalah.


"Baiklah! Sebagai gantinya, aku ingin Ibu menyuapiku kue bolu gulung itu."


"Dengan senang hati," ucap Suci setuju dan menyuapi Rasidha dengan telaten, keduanya tampak sangat dekat membuat dua pria yang menyaksikannya terbuai dalam khayalan. 

__ADS_1


Zaid atau Simon membayangkan jika dua wanita di hadapannya itu adalah keluarganya. "Sungguh keluarga yang bahagia," batinnya.


Zufar membayangkan jika Suci sedang menyuapi anak mereka, suatu keinginan yang cukup sulit untuk di dapat. "Andai aku menerima apapun jenis kelamin calon bayiku, mensyukuri apa yang diberikan Tuhan. Pasti aku hidup dalam rumah tangga yang harmonis." Gumamnya di dalam hati.


__ADS_2