Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 81 - Temu janji di Bar


__ADS_3

Simon melangkahkan kakinya dengan gontai untuk masuk ke dalam rumahnya, pekerjaan yang begitu melelahkan membuat dirinya ingin beristirahat. Namun terdengar suara dering ponsel di dalam saku, segera dia meraihnya dan mengangkat saat mengetahui jika panggilan itu adalah sahabatnya yang bernama Felix. 


"Halo."


"Halo, bagaimana kabarmu?" 


"Aku baik, ada apa meneleponku?" 


"Ck, apa kamu tidak senang aku menelepon?"


"Bukan begitu, aku sangat lelah dan baru saja pulang dari kantor. Eh, mengapa kamu menghubungiku? Apa kamu tidak bertugas?" 


"Aku? Hah, aku sangat bosan menjadi tentara. Aku menghubungimu karena mengabarkan, jika aku sudah berada di Indonesia. Apa jadinya aku tanpamu?" 


"Heh, aku mual mendengar perkataan menjijikkan dari mulutmu."


"Sial! Setidaknya temui aku sekarang."


"Aku sangat letih dan ingin beristirahat, besok saja. Bagaimana?" 


"Jangan mengecewakan ku, aku sudah mengirimkan lokasiku. Cepat datang dan temui aku, tidak ada kata tidak!" 


"Baiklah, dasar pemaksa." 

__ADS_1


Simon segera berangkat lagi, padahal baru saja dia sampai ke rumah. Dia kembali menyetir mobil menuju lokasi yang sudah ditentukan oleh Felix, tetapi hatinya mengumpat di saat mengetahui di mana lokasi temu janji mereka. Tiba-tiba terdengar suara dari ponsel yang segera mengangkatnya dengan kesal. 


"Apa kamu sudah di perjalanan? Mengapa sangat lama sekali?" 


"Aku sudah sampai dan sekarang ada di luar, apa kamu ini gila?"


"Ayolah kawan, jangan seperti orang lugu. Bukankah kita sering ke Bar bersama? Masuklah ke dalam, jangan seperti anak ingusan."


"Sialan."


Simon segera memutuskan sambungan telepon, keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam bar. suara musik yang sangat kencang dan orang-orang yang menari membuat keramaian begitu heboh. Dia terus mencari keberadaan sang sahabat, yang ternyata sudah berada di Indonesia. 


Beberapa saat kemudian, dia melihat seorang pria yang tengah melambaikan tangan ke arahnya dengan langkah yang penuh berkharisma. Beberapa wanita seksi mencoba untuk menggodanya, tapi tak pernah dia lirik sekalipun. "Mengapa kamu membawaku kesini? Seperti tidak ada tempat lain." Dia melirik Felix yang tengah memeluk dua orang wanita di kiri dan juga di kanan, sembari meneguk alkohol di gelas kecil.


Simon duduk berhadapan langsung dengan sahabatnya, sembari meminum segelas kecil alkohol sebagai penyambutan sahabatnya. Felix tersenyum dan segera mengusir orang-orang di sekitarnya dan duduk berdekatan dengan sahabatnya itu. "Ternyata di sini lumayan juga,"ucapnya yang memecahkan keheningan mereka.


"Entahlah, aku juga baru pertama kali ke sini." 


"Apakah aku tidak salah dengar? Ini bar yang sangat terkenal, tapi kamu baru saja menginjakkan kaki ke sini. Jadi, selama ini kamu tidak pernah lagi pergi ke bar?" 


"Aku tidak tertarik, hanya fokus pada pekerjaanku dan juga putriku."


"Ayolah kawan, nikmati hidupmu seperti dulu, di saat kita menjadi tentara." Felix kembali menuangkan alkohol ke dalam gelas milik Simon, dan pria itu menghabiskannya dalam satu teguk. 

__ADS_1


"Ini sudah cukup, aku tidak bisa minum lebih banyak. Aku datang sendirian, dan menyetir mobil sangatlah berbahaya."


"Apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba sangat lemah, biasanya menghabiskan begitu banyak minuman saat bersamaku," cibir Felix yang tersenyum miring.


"Aku masih menyayangi nyawaku sendiri, dan tidak akan mencelakai diriku dalam keadaan mabuk tidak bisa menyetir mobil." 


Felix hanya menghela nafas yang berat, mengingat sang sahabatnya sudah berubah dan hal itu tidak terlalu disukai. Mengingat kebersamaan mereka yang terkuras habis tak tersisa. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Bagaimana jika kita menari? Begitu banyak wanita seksi dan kamu bisa memilih salah satunya." 


"Aku tidak tertarik," tolak Simon yang tidak bergairah jika berdekatan dengan wanita lain, apalagi dengan wanita seksi memakai baju kekurangan bahan.


"Apa kamu ini gay? Nikmati hidupmu yang membosankan itu. Apakah ini pengaruh dari wanita berhijab yang menjadi relawan di Palestina? Apa kamu sudah menemukannya?" 


"Tentu saja."


"Sudah kuduga, kamu pasti akan berubah jika bersama dengan wanita itu. Dulu aku memang menyetujui mu berhubungan dengan dia, tetapi perubahanmu membuat pertemanan kita semakin menjauh, dan jangan katakan jika kamu ingin mengubah keyakinan juga?" 


Simon terdiam sembari memegang kepalanya yang terasa pusing, dia tak ingin menjawab dan segera meraih ponsel dari dalam saku, menghubungi asistennya sekaligus orang kepercayaannya untuk datang menjemput. 


"Jemput aku di bar kota, sekarang juga!" 


"Baik tuan, saya akan kesana."


Simon beranjak dari duduknya ingin pergi dengan keadaan yang sangat mabuk akibat terlalu banyak minum. "Aku harus pergi!"

__ADS_1


"Kita baru saja bertemu, dan kamu ingin pulang? Aku menginginkanmu kembali menjadi Simon seperti dulu," pekik Felix yang melihat kepergian sahabatnya. "Karena wanita muslimah itu membuat pertemananku rusak," gumamnya seraya meneguk segelas kecil alkohol.


__ADS_2