Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 5 - Kemarahan Zufar


__ADS_3

Terdengar suara vas bunga yang dilempar ke lantai hingga pecah, begitu banyak serpihan kecil bertaburan. Zufar sangat marah dengan informasi yang didapatkan dari asistennya, melampiaskan seluruh perasaan yang menggebu-gebu. "Ini kali pertama Suci berbohong padaku, dia berpamitan pergi ke Riau, tapi ternyata dia ada di Kairo. Apa dia berniat untuk pergi meninggalkanku? Tapi mengapa?" begitu banyak pertanyaan yang terbesit dipikirannya saat ini. 


Dia melampiaskan kemarahan lewat para pelayan yang melakukan sedikit kesalahan, membentak semua orang dan mengeluarkan watak asli yang tidak pernah diperlihatkan di hadapan Suci, semua orang berharap jika istri pertama majikan mereka segera pulang agar bisa meredam emosi Zufar yang menggebu-gebu. 


Siska sangat terkejut dengan apa yang dia ketahui, mendekati sang suami untuk meredam emosi. Dengan membawa segelas air mineral dan menyerahkannya. "Minumlah Mas!"


Semua orang tersentak kaget saat mendengar gelas yang pecah akibat Zufar yang melemparnya sembarang arah. "Tidak perlu bersikap baik, kamu bukan Suci."


"Tapi aku juga istrimu, Mas."


"Ya, kamu hanya istri di atas kertas. Suci istriku yang sesungguhnya, karena ulahmu membuat istriku itu kabur dari rumah." Bentak Zufar yang mendorong tubuh Siska, untung saja wanita itu bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh yang bisa berakibat fatal.


"Karenaku?" Siska menunjuk dirinya, tatapan lemah tak berdaya dengan celaan dari sang suami. Dia menangis sesegukan, tak tahan dengan cercaan Zufar yang selalu bersikap buruk padanya. 

__ADS_1


"Aku tahu kamu menjebakku di malam itu, jika saja tidak ada benihku di sana, aku tidak akan bertanggung jawab." Bentak Zufar dengan meninggikan suara satu oktaf.


"Apa yang kamu bicarakan, Mas? Kesalahan bukan semuanya dariku, kamu sendiri yang tiba-tiba datang dan menodaiku." Ungkap Siska terlanjur kecewa.


"Jika bukan karena janin di dalam perutmu itu, tidak sudi membawamu kesini." Zufar berlalu pergi meninggalkan istri keduanya dalam kemarahan. Dia sangat mendambakan seorang anak, tapi itu tidak bisa di dapat dari Suci yang dinyatakan mandul, dan tidak akan bisa memiliki anak. 


Siska terdiam dan menerima bentakan dari suaminya, sudah terbiasa mendengar celaan Zufar yang selalu membentak dan bertindak kasar. Menatap kepergian sang suami yang menghilang dari balik pintu, dia menangis dengan sesegukan seraya mengelus perutnya yang membuncit. "Begitu besarnya cinta mas Zufar untuk kakak maduku? Mengapa ini terjadi padaku Tuhan…ini sangat tidak adil, aku juga istrinya." Monolognya yang tak tahan dengan bentakan sang suami. 


Zufar tak bisa berpikir jernih, karena keberadaan dari istri pertamanya belum diketahui dengan pasti. "Aku sangat yakin, pasti Suci berada di rumah Umi Kalsum. Tapi aku tidak tahu alamatnya dimana!" racaunya sangat kesal, menarik rambut melampiaskan rasa kemarahan. 


Keesokan harinya, Zufar segera menyusul kemana istrinya pergi, meninggalkan semua pekerjaan kantor dan menyerahkannya pada asisten. Tidurnya tak bisa nyenyak saat sang istri berniat untuk kabur dengan membohonginya, untung saja hal itu secepatnya diketahui. Wajah yang sangat marah terlihat begitu nyata, rasa emosi yang tak ingin ditinggalkan oleh istri pertama. "Pergilah sejauh yang kamu bisa, tapi aku akan tetap menemukanmu." Batinnya dengan penuh tekad. 


****

__ADS_1


Suci baru saja selesai sholat, menghadap sang pencipta. Mengatakan keluh kesahnya yang tidak bisa dibagikan pada siapapun terutama ibu dan adik angkatnya. Cairan bening di saat doa dipanjatkan, mendoakan semua orang terutama suaminya. "Ya Tuhanku, berikan aku kekuatan dalam menghadapi cobaan. Ampuni hamba yang meninggalkan suami, karena hati ini belum siap menerima hadiah itu." Air mata kembali berderai menetes di atas sejadah, mengingat cinta suami yang terbagi dengan wanita lain. Istri baru Zufar yang selalu mendapatkan perhatian, seakan dirinya tidak terlihat. 


Usai sholat dan berdoa, Suci melangkahkan kakinya keluar dari kamar, menangkap sesosok wanita paruh baya tengah mengadon kue. "Umi mau buat kue? Aku bantu ya!" tawarnya yang menyunggingkan senyuman.


"Tidak, istirahat saja. Kamu pasti sangat capek, biarkan Umi yang menyelesaikannya." 


"Tapi Umi__." Suci merengek berharap ibunya memberikan izin untuk membantu.


"Kamu boleh bantu, tapi besok. Sekarang duduk dan jadi teman mengobrol!" 


Suci tersenyum menyetujui perkataan wanita paruh baya itu, segera menarik kursi dan duduk berhadapan. "Oh ya…Hana dimana, Umi?" celingukan mencari keberadaan sang adik di ruangan itu.


"Ada di kamarnya, sedang belajar. Setiap subuh, dia pasti menyempatkan waktu untuk belajar setelah menunaikan sholat." Penjelasan dari Umi Kalsum hanya dibalas dengan manggut-manggut kepala.

__ADS_1


__ADS_2