Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 28 - Panggil aku kakak ipar


__ADS_3

Suci sangat sedih mendengar suaminya yang membentak untuk pertama kali, hati yang sensitif membuatnya tak bisa menerima bentakan itu hingga memutuskan untuk meninggalkan tempat itu menuju kamarnya. Tak lupa dia mengetuk pintu dan menangis dalam diam, entah bagaimana caranya untuk menghibur dirinya. "Mengapa ini terasa sakit?" gumamnya seraya meraih ponsel yang tak berada jauh dari jangkauan, menghubungi sahabat jauhnya. 


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, akhirnya kamu meneleponku juga. Bagaimana kabarmu disana?" 


"Alhamdulillah aku baik, bagaimana denganmu?" 


"Hem, aku juga. Suaramu terdengar sesegukan, apa kamu habis menangis?" 


"Tidak, mungkin kamu salah dengar. Oh ya, bagaimana keadaan Rasidha? Aku merasa bersalah telah meninggalkannya." 


"Hem, cukup sulit menenangkannya. Dia menjadi gadis pemurung, menjauh dari teman-temannya dan memilih duduk sendirian. Dia sangat sedih kamu pergi, aku juga kehabisan cara untuk mengatasinya."


"Separah itu?" 


"Iya, sudah banyak yang mencoba untuk menghiburnya, tapi tak berhasil. Untung saja tuan Zaid bisa mengatasinya, setidaknya kesedihan Rasidha berkurang."


"Aku bersyukur jika Rasidha bisa dibujuk, katakan padanya kalau aku merindukannya." 


"Akan aku sampaikan, bahkan tuan Zaid juga sedih selepas kamu pergi!" 


"Jangan katakan itu, aku wanita bersuami."

__ADS_1


"Baiklah."


Setelah selesai menelepon, sedikit berkurangnya rasa rindu. Hati yang lebih tenang mendengar jika Rasidha baik-baik saja, ikatan gadis kecil itu begitu terasa. 


Suci segera menyeka air mata, berjalan menuju dapur untuk memasak. Cara yang digunakan untuk meredakan kemarahan dari sang suami, tersenyum saat memikirkan hal yang pernah dia lakukan. "Aku ingin buat makanan kesukaannya," gumamnya sembagi mencuci sayur dan memotongnya, tak lupa dengan irisan bawang merah dan putih, sedikit bumbu halus juga digunakan. 


Mulai berkutat pada alat penggorengan, dia memasukkan bumbu dan menumisnya hingga keluar aroma harum, dan memasukkan beberapa jenis sayuran yang menjadikan makanan favorit sang suami. Setelah selesai, dia menyajikan di atas piring dengan penuh hati-hati. Tak lupa menghiasnya agar lebih menarik dipandang, dan meletakkan di atas meja makan. 


Suci berjalan menghampiri Zufar yang sedang berada di kamar adik madunya, berharap kemarahan sang suami pudar dengan cepat. "Assalamu'alaikum, apa aku boleh masuk?" ucapnya meminta izin seraya mengetuk pintu. 


Tidak ada yang menjawab, dia mendengar sayup suara ******* dari dalam ruangan. Dia sedih dan mengetahui apa yang terjadi di antara suaminya juga sang adik madu. "Aku datang di waktu yang salah," ucapnya pelan seraya pergi meninggalkan tempat itu, memegang dada yang terasa berdenyut. Dia hanyalah perempuan biasa, merasakan cemburu saat berbagi cinta bersama wanita lain. 


Menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, kembali menunggu di meja makan, membiarkan dua orang di dalam kamar menyelesaikan ritual mereka. Namun kedua matanya malah menatap seorang pria yang tengah menyantap makanan di atas meja, berjalan cepat sembari menautkan kedua alisnya. "Itu milik mas Zufar!" ujarnya yang memperingatkan pria itu.


"Mudah saja, buatkan dia makanan yang baru. Jangan berisik, dan biarkan aku tenang menyantap makanan ini." Balas pria itu tanpa menoleh, dia lebih tertarik pada makanan di atas piringnya.


"Mirza!" kesal Suci yang menyebut nama adik iparnya.


Pria itu mendongakkan kepala saat namanya dipanggil. "Ada apa?"


"Itu untuk mas Zufar!" tunjuk Suci yang mulai kesal dengan perilaku adik iparnya.


"Aku lapar, lagipula dia tidak ada dan sedang memadu kasih dengan ISTRI KEDUANYA. Makanan ini akan dingin, daripada mubazir lebih baik aku habiskan. Simple bukan? Jangan buat semuanya menjadi repot!" kata Mirza yang menekan kata istri kedua, ingin menyadarkan Suci.

__ADS_1


"Apa maksudmu mengungkit nya? Mereka sah."


Mirza menyeringai tersenyum tipis, kembali melanjutkan makanan di atas piring hingga ludes tak tersisa, bahkan tidak ada sebutir nasi yang tertinggal. "Masakan paling top!" pujinya mengacungkan jempol.


"Mirza, kamu sudah datang, Nak?" sela seseorang paruh baya yang menjadi pusat perhatian mereka.


"Baru saja."


Tini menghampiri putra bungsu dan memeluknya, melepaskan rasa kerinduan di hati karena sudah lama tak pernah bertemu. "Eh, Suci kamu disini?" 


"Iya Ma," sahut wanita berhijab itu lemah, melirik sang adik ipar yang membuat kerja kerasnya sia-sia.


"Mama ambil dulu tasnya, kamu tunggu di sini. Oh ya, Suci tolong temani dia sebentar!"


"Baik, Ma."


Suci mempersilahkan Mirza untuk duduk di sofa ruang tamu, menjaga jarak dan juga menundukkan kepala. "Sekian lama tak bertemu, ternyata kamu masih sama seperti dulu."


"Kakak ipar, panggil aku kakak ipar." Ralat Suci yang tak menyukai perkataan adik iparnya.


"Maaf, aku belum terbiasa." 


"Aku tidak bisa berlama-lama menemanimu di sini, aku kebelakang dulu." Pamit Suci yang ingin menuju ke dapur, kembali memasak untuk suaminya.

__ADS_1


"Kenapa sangat mendadak? Apa kamu tidak dengar perkataan Mama?" 


__ADS_2