
Asisten Doni menatap wanita tua yang ada di hadapannya dengan keringat dingin, dimana menunggu jawaban dari wanita itu dan juga semua keraguan yang ada di hati.
"Suci?"
"Apa benar, Suci bukanlah anakmu? Maaf, jika aku lancang mengatakan ini."
"Tidak masalah. Ya, Suci bukanlah anakku. Dia hanyalah anak angkat yang saya rawat puluhan tahun lalu." Ungkap Umi Kalsum.
"Anda menemukan di panti asuhan ini?" asisten Doni memperlihatkan alamat, dengan cepat umi Kalsum meliriknya.
"Benar."
Seketika air mata asisten Doni luruh, dia sangat bersyukur kepada sang maha pencipta. Kecelakaan Suci membawa berkah baginya, mengetahui sebuah bukti yang nyata dan benar-benar terjadi. Sedangkan umi Kalsum menatap pria yang menangis itu dengan mengerutkan kening.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Umi Kalsum.
__ADS_1
"Allahuakbar," seketika itu pula asisten Doni bersujud syukur dan dia juga menyembah kaki seorang wanita berbahaya yang sangat berjasa dalam hidupnya, karena telah merawat adiknya yang hilang beberapa puluh tahun yang lalu.
"Bangunlah! Kenapa kamu menyembah kakiku, aku merasa tidak pantas."
Cukup lama asisten Doni bersujud, mencium kedua telapak kaki wanita paruh baya yang telah merawat Intan, dan tanpa dia sadari jika adiknya ada di dekatnya. Dengan cepat dia berdiri dan kembali duduk, namun kali ini dia memilih duduk di atas lantai, Doni menetap wajah Umi Kalsum yang menjadi malaikat penolong. "Bahkan untuk mencium kakimu saja aku merasa itu belumlah cukup, mengingat dengan jasamu yang merawat adikku dengan sepenuh hati."
"Aku masih tidak mengerti apa maksudmu."
"Suci Az-Zahra merupakan adikku yang hilang beberapa tahun yang tahun yang lalu, karena kelalaianku dalam mengurusnya di saat umur masih tujuh tahun, setelah peninggalan kedua orang tua kami. Aku selalu mencari di mana keberadaan dari adikku Intan dan ternyata selama ini dia ada di dekatku tanpa aku sadari. Dia adikku dan aku sudah menyusut hal ini, melihat tanda yang ada di tangannya tahi lalat yang sedikit besar dan juga hasil tes DNA kami sama, wajah yang mirip tidak bisa saya abaikan begitu saja." Ungkap asisten Doni yang menyeka air matanya karena usahanya dalam pencarian sang adik ditemukan di saat mendapatkan kabar jika Intan pernah dirawat di panti asuhan dan dirawat oleh seorang wanita yang tinggal di Kairo.
"Jadi, kamu ini adalah kakaknya?" tanya Umi Kalsum yang sedih, dia bahagia jika putri sulungnya masih memiliki keluarga.
"Tunggu sebentar Umi akan ambilkan, Umi masih menyimpan barang itu sampai saat ini dan berharap suatu hari nanti ada yang mencarinya dan benar saja jika kamu mencari keberadaan adikmu itu."
Beberapa saat kemudian Umi Kalsum kembali dan memperlihatkan barang-barang peninggalan Suci di saat bayi, dia melihatnya dengan begitu jelas dan menyerahkannya kepada asisten Doni. "Hanya ini yang ada padanya, dan juga sebuah gelang tangan yang baru aku temukan di dalam bekas bedongnya."
__ADS_1
Asisten Doni kembali terisak tangis, mengingat dirinya yang melihat barang sewaktu kecil yang dipakai oleh adiknya Intan dan bahkan sebuah gelang berwarna putih bersih seperti yang dia miliki dan dia simpan saat ini kedua gelang dan jika disatukan akan menempel. "Suci adalah Intan, jadi ini perasaanku di saat dia kehilangan banyak darah." Gumamnya yang masih terdengar oleh Umi Kalsum.
"Apa maksudmu dengan banyak darah? Apa yang terjadi kepada Suci?"
"Beberapa hari yang lalu dia mengalami kecelakaan, dan menyelamatkan dua orang nyawa demi mengorbankan nyawanya sendiri."
Jelas asisten Doni yang sekarang menghormati wanita paruh baga itu yang telah merawat Suci dengan kasih sayang yang berlimpah, dia tahu dari cara wanita itu yang menyambut kedatangannya.
"Apa? Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?"
"Aku tidak tahu, setelah mendonorkan darah aku mencari keberadaanmu dan mendapatkan informasi yang ada di Kairo, aku tidak bisa menahan diriku lagi karena sudah bertahun-tahun lamanya kehilangan adikku dan satu-satunya keluarga yang aku miliki di dunia ini."
"Bisakah kamu membawa Umi menemui suci, karena kemarahan Umi di saat dia melarikan diri ke sini hingga tidak mengetahui kondisinya dan ingin meminta maaf."
"Ayo Mi, aku akan mengantarmu untuk menjenguk Suci. Aku akan memperlakukanmu dan juga menghormatimu seperti ibuku sendiri. jika tidak ada Umi aku tidak tahu lagi bagaimana nasib adikku itu."
__ADS_1
"Semua karena Allah, Umi hanya perantara saja, berikan Umi waktu untuk berkemas dan juga menyuruh adiknya Suci untuk bersiap-siap dan berangkat ke Indonesia."
"Baiklah." Asisten Doni kembali duduk di atas sofa dengan raut wajah yang berbinar, mengingat dirinya yang telah bertemu dengan adiknya sendiri tanpa dia sadari. Tiba-tiba terdengar suara dari telepon yang memecahkan keheningannya.