
Pertemuan dari dua orang yang saling percaya, zufar menatap sang asisten dengan sangat teliti dan juga menyelidik. Berharap jika tidak ada yang mengetahui niat pria itu yang datang dan menyebabkan kecurigaan. "Berikan obatku, aku sudah tidak tahan!" ungkapnya yang cukup lama tersiksa.
"Ini tuan." Dengan cepat asisten Doni menyerahkan beberapa oil dan juga tablet yang selalu dibutuhkan oleh atasannya.
Zufar meraih obat itu dan segera meminumnya, walau kepala masih terasa sakit. Hanya menunggu tiga puluh menit untuk reaksi dari obat itu bekerja, tersiksa dengan penderitaannya. Asisten Doni segera membantu bosnya, di tahu jika pria itu hanya bisa memendam rasa sakit selama ini.
Setelah obat itu bekerja, Zufar sedikit melonggarkan nafasnya, mengingat penyiksaan yang berangsur-angsur memulih. Dia menepuk bahu asistennya dan tersenyum, selama ini pria itu berjasa di saat keadaan darurat menghampirinya. "Terima kasih, kamu sudah menolongku!"
"Apa yang Tuan katakan? Aku hanya ingin membalas budi, Tuan lah yang berjasa dalam hidupku dan membuat kehidupanku seperti sekarang." Ucap asisten Doni yang mengingat kebaikan dari pria itu, membantunya di dalam kesulitan ekonomi. Dulu dia bukanlah siapa-siapa, pertemuan tak sengaja karena para warga mengejarnya dan dituduh sebagai maling. Hampir semua orang mengira, jika Zufar adalah pria yang kejam dan juga bengis. Tapi hal itu tak membuatnya mempercayai serta merta, apalagi sang atasan merekrutnya sebagai asisten pribadi.
"Aku hanya memberimu kesempatan, itu saja." Jawab Zufar yang merendah, menyandarkan punggung karena dirinya mengantuk setelah minum obat.
__ADS_1
Asisten Doni menganggukkan kepala, bersumpah akan setia dengan pria yang telah berjasa di dalam hidupnya. "Sepertinya obat itu akan bekerja."
"Hem, kamu benar. Aku sedikit mengantuk," sahut Zufar. "Aku ingin berpesan padamu."
"Katakan saja, Tuan."
"Setelah aku tiada, aku mempercayaimu untuk menangani perusahaan. Ajari istriku untuk menjadi pengganti ku, dan jauhkan dia dari Mirza. Dia pria yang licik, dan juga kamu awasi Siska!" ucapnya memberi perintah.
"Siska?"
"Aku tidak bisa menikahi istrimu, Tuan." Sela asisten Doni dengan polos.
__ADS_1
Pulpen tak bersalah menyentuh kening asisten Doni, membuat sang empunya meringis sembari mengusap kening yang menjadi korban. "Dasar bodoh, aku memintamu untuk menjaga istriku, bukan menikahinya. Kau harus mengawasi dia, jangan sampai ada orang yang berbuat jahat selama aku tidak ada," ketus Zufar yang sedikit meninggikan suaranya.
Sementara asisten Doni menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal, cengengesan saat mendapati dua mata tajam masih menatapnya dengan sangat jelas. "Mau bagaimana lagi? Tuan tidak mengatakan detailnya, apalagi aku pria yang belum menikah, bahkan usiaku mencapai 35 tahun, bahkan lebih tua dari mu, tuan." Jujurnya.
"Kamu tidak menikah, itu bukan urusanku. Siapa suruh kamu terlalu banyak memilih, apa seleramu itu dari kalangan bangsawan? Aku sudah beberapa kali mengatur jadwal kencanmu, tapi itu sia-sia saja," keluh Zufar yang masih mengingat bagaimana pria di depannya itu mempunyai seribu satu alasan untuk menghindar.
"Aku belum ingin menikah, Tuan." Asisten Doni sangat setia pada Zufar, bahkan dia rela tidak berhubungan dengan wanita lain akibat sakit yang diderita oleh atasannya itu. Dia tidak pernah memikirkan dirinya, bahkan rela diperintahkan apapun dari pria itu.
"Hah, terserah padamu saja. Aku ingin masuk ke kamar, mataku hampir menutup. Sebaiknya kamu pergi dan jangan lupa untuk menutup pintu, minta pelayan untuk menguncinya!" Zufar segera berjalan meninggalkan asistennya, akibat mengkonsumsi obat pereda rasa sakit membuatnya ingin tidur.
Asisten Doni melihat punggung bosnya yang mulai menghilang dari pandangan, berjalan keluar dari rumah itu. Tapi, sebelumnya segera berbalik sebelum menutup pintu. "Aku akan menjaga nona Suci untukmu Tuan, kalian sudah seperti adikku sendiri." Gumamnya yang segera menutup pintu.
__ADS_1
Zufar tersenyum saat melihat sang istri tidur dengan sangat lelap, segera berbaring di sebelah sembari memeluk tubuh Suci dari belakang. Menikmati aroma tubuh istrinya, menenggelamkan wajah di ceruk leher jenjang itu. "Sepertinya waktuku tidak akan sampai enam bulan, seluruh sel kanker telah menyebar ke seluruh tubuh. Setelah aku tiada, aku ingin kamu bahagia." Gumamnya sembari mengecup punggung sang istri.
Mata baru saja di pejamkan, tetapi kondisi yang seharusnya membaik setelah mengkonsumsi obat malah memperburuk keadaannya. Zufar kembali merasakan sakit kepala yang bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. "Tidak…Suci tidak boleh tahu!" tekadnya yang segera menyumpal mulut menggunakan sapu tangan di dalam laci tak jauh darinya. Rasa sakit yang menjalar, membuatnya segera berlari menuju toilet, ingin mengeluarkan sisa-sisa makanan di dalam perut. Butuh waktu baginya untuk sampai, rasa pusing yang mendera selalu membuatnya jatuh bangun.