Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 18 - Bimbang


__ADS_3

Zufar tersenyum saat menemukan lokasi keberadaan istrinya, ada kebahagiaan tersendiri di hatinya. Seluruh rasa lelah tergantikan dalam sekejap mata, saat sang asisten memberinya kabar yang sangat baik. 


"Apa itu sudah pasti?" 


"Sudah, kabar yang didapatkan lewat telepon yang diangkat nona Siska."


"Apa maksudmu, Suci meneleponku?" 


"Itu benar, kami melacak Cctv dan kabar itu didapat. Hanya saja, nona Siska menghapus riwayat panggilan yang ada di teleponmu, tuan."


"Sial, wanita itu selalu saja membuatku marah. Baiklah, aku sudah hampir sampai.Kabari aku jika terjadi masalah!"


"Baik tuan."


Zufar tersenyum bahagia, menyingkirkan masalah istri keduanya. "Aku tidak akan mengampuninya, tunggu saatnya tiba. Terpenting Suci telah di temukan, apa yang lebih penting daripada itu?" gumamnya seraya memakan mangga muda dengan begitu lahap. 


Suci memutuskan untuk tidur karena merasa puas memakan mangga muda pemberian Zaid, dia sangat berterima kasih karena terkabulnya keinginan janinnya. Tertidur pulas hingga melupakan tugasnya untuk menjadi relawan, kerinduan akan suaminya sedikit terobati di kala bertemu dalam mimpi. 


Zufar bisa bernafas lega, memandangi wanita yang sangat dia rindukan selama ini. Pertemuan haru baginya, dan memutuskan untuk tidur di sebelah sang istri. "Jadi selama ini dia tidur hanya beralas tikar? Apa dia bisa tidur nyenyak?" gumamnya yang meneteskan air mata, sangat prihatin dengan kondisi istri yang hidup tidak layak. 

__ADS_1


Dia memeluk dengan erat, mencium aroma tubuh yang sangat dirindukan selama ini. Betapa bahagianya dia saat ini, membelai wajah sang istri dengan sangat lembut dan memperhatikan seksama. "Suci tidur masih menggunakan hijabnya? Inilah yang membuatku mencintainya." Batinnya sambil mengecup kepala Suci dan mengeratkan pelukannya.


Tidak begitu sulit untuk meminta izin dari pemilik yayasan itu, hanya menunjuk identitas dan buku nikah membuat semua orang tak berkutik, hingga dia bisa masuk ke dalam penginapan Suci."Aku akan membawamu pulang, jangan mencoba untuk lari dariku!" 


****


Suci terbangun di sepertiga malam, ingin melaksanakan sholat tahajud. Disaat ingin beranjak dari tempat tidur sederhana itu, merasakan sebuah tangan di pinggangnya. Hal itu membuatnya terkejut dan refleks menendang sang tersangka. 


"Auh," ringis Zufar yang mengusap pantat, terbangun dari tidurnya dan tatapan mereka saling bertemu. "Ini aku suamimu," jelasnya agar sang istri tidak menjerit dan membangun semua orang.


Suci sangat shock dengan keberadaan Zufar yang ada di tempat tidurnya, menutup mulut menggunakan kedua tangan. 


"Ma-mas Zufar?" gugul Suci yang tidak menyangka, sang suami menemukannya dengan sangat cepat.


Tanpa menunggu waktu, Zufar menghamburkan pelukan, dia memeluk sang istri dengan sangat erat. Suci tak bisa menolaknya dan membalas pelukan, tak bisa di pungkiri jika dia juga merindukan suaminya. Keadaan berbadan dua membuatnya selalu ingin dekat, dan sekarang hal itu terjadi. 


"Mengapa kamu kabur dariku, Suci? Apa ada yang menyakitimu?" tanya Zufar yang belum mengerti. 


Suci hanya terdiam dan melepaskan pelukannya, sedih dengan ketidakpekaan sang suami yang tidak menyadari kesalahannya sendiri. Dia tak tahu mengekspresikan kejadian ini. Entah dia merasa senang dengan kedatangan Zufar, atau merasa sedih karena sudah ditemukan, padahal dia baru beberapa hari disana. "Aku ingin menenangkan diri." Lirih pelannya yang memutuskan.

__ADS_1


"Dari siapa?" desak Zufar yang menatap lekat manik mata sang istri.


"Dari kenyataan, aku wanita yang tidak sempurna. Berbagi cinta amatlah menyakitkan, apalagi pernikahan kalian sudah berjalan satu tahun." Ungkap Suci yang menangis terisak. "Aku tak ingin menghalangi cinta kalian, biarkan aku mengalah dan hidup disini."


"Jangan katakan itu, aku tidak bisa hidup tanpamu. Jika itu yang membuatmu terluka, aku bisa menceraikan Siska." Putus Zufar dengan enteng. 


"Menceraikannya? Lalu, bagaimana nasib anak di dalam kandungan Siska?" sanggah Suci.


Zufar terdiam, menunggu kelahiran anak itu dan menghalau Siska dari rumah. Berpikir jika hadiahnya membuat sang istri bahagia, tapinya malah berbanding terbalik. "Ayo pulang bersamaku," ucapnya yang sedikit memaksa, sedikit meninggikan ego. 


"Tidak semudah itu Mas." Tolak Suci.


"Ini perintah, aku masih suamimu!" sarkas Zufar tegas, tapi masih melemparkan tatapan teduhnya. 


Lagi dan lagi Suci kecewa dengan sikap suaminya yang tidak pernah tahu apapun mengenainya, pernikahan selama delapan tahun juga belum bisa memahami sifar Zufar sepenuhnya. "Tapi Mas, aku__."


"Cukup, kamu pergi tanpa izinku dan itu dosa besar. Jangan menjadi istri durhaka!" 


Suci terdiam dengan linangan air mata, baru saja merasa tenang tapi kenyataan kembali menghampirinya. "Apa aku harus pulang? Bagaimana cinta yang tidak adil itu? Ingin sekali aku berpisah, tapi kehadiran sang buah hati kembali meragukanku." Batinnya yang bimbang.

__ADS_1


__ADS_2