Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 23 - Perpisahan


__ADS_3

Tak terasa sudah empat hari berlalu, berjalan bagai air yang mengalir, mengikuti kemana arus membawanya. Mengemasi semua barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam koper miliknya, tetesan air mata menjadi bukti kerinduannya kepada yayasan itu. Dia tidak tahu, entah kapan akan kembali lagi. Menari di pikirannya, anak-anak yang bermain, memandikan mereka dan juga menemani membuat kenangan tersendiri di hati Suci. 


Menyusuri pandangannya ke dalam kamar yang sangat kecil itu, tempat tidur yang beralas tikar dan lemari dari kayu usang membuat hatinya seakan tak rela untuk pergi. Tapi, Suci masih seorang istri yang tak bisa menolak ajakan dan perintah sang suami. Alasan keduanya ialah sang buah hati yang harus mendapatkan kasih sayang seorang ayah, tidak memikirkan dirinya dan hanya bisa bertawakal, berserah diri kepada sang pencipta. 


Setelah selesai, Suci menarik kopernya dan menyeret keluar dari kamar, melangkahkan kaki yang terasa berat untuk meninggalkan tempat yang mempunya cerita selama beberapa hari tinggal di sana. Terlihat para relawan yang sedih dengan kepergiannya, terutama Melati. 


Melati segera menghamburkan pelukan itu dengan sangat erat disertai simbahan air mata mengucur deras membasahi baju, perkenalan yang begitu singkat membuat keduanya menjadi teman akrab. "Jaga dirimu di sana, hubungi aku setelah sampai. Aku pasti merindukanmu," tuturnya sembari melepaskan pelukannya. 


"Pasti, jaga dirimu baik-baik. Maaf, jika aku ada salah denganmu ataupun perkataanku yang menyinggung hati." 


Melati tersenyum sambil menyeka air matanya. "Aku memaafkanmu."


"Apa kamu tidak ke Indonesia, memulai awal hidupmu itu." 


"Untuk sekarang aku tidak berniat disana, suatu hari nanti aku pasti mengunjungimu di Indonesia."


"Aku pegang perkataanmu, oh ya…dari tadi aku tidak melihat Rasidha, dimana dia?" Suci celingukan mencari gadis kecil yang sudah menemaninya selama berada di yayasan.

__ADS_1


"Entahlah, tadi dia ada di sini."


"Mungkin dia sedih dengan kepergianku, aku sudah membuatnya kecewa."


"Dia hanya anak-anak, kekecewaannya akan hilang seiring waktu." Melati mencoba untuk menghibur sahabatnya, tak ingin Suci terbebani.


Suci sedih mendengar itu, mengeluarkan sebuah liontin berukir khas dari sakunya, mengusap liontin dengan sangat lembut. Dia mendapatkan perhiasan itu di saat tinggal di panti asuhan, sebuah liontin yang tersemat di leher ketika dia masih bayi. Hanya itu yang dia miliki, sebuah kenangan lama yang akan diberikan kepada si gadis kecil, menyerahkan liontin kepada sahabatnya. "Berikan liontin ini padanya, anggap sebagai hadiah dan juga kenangan dariku." 


"Sesuai amanah mu," jawab Melati yang mengambil liontin indah berukiran khas. "Liontinnya sangat indah, pasti Rasidha bahagia."


"Apa kamu sudah siap?" 


"Hem, seperti yang terlihat," sahut Suci yang terlihat lesu.


Zufar mulai mengemudikan mobilnya, sedangkan Suci melambaikan tangan dan kembali di posisinya duduk. 


Melati sangat sedih, terus melambaikan tangannya. Kedua pupil matanya membesar saat melihat seorang anak yang berlari mengikuti mobil dari kejauhan, sembari menggendong boneka teddy bear. Sesekali gadis kecil itu menyeka air mata yang terus mengalir dengan deras, menjulurkan sebelah tangan. "Rasidha?" dia segera mengejar si gadis kecil, berusaha sekuat tenaga. 

__ADS_1


"Rasidha…Rasidha, kembalilah!" teriaknya.


Gadis kecil itu tak menggubris, terus mengejar mobil yang dikemudikan oleh Zufar. Hingga tak sengaja tersandung dan lututnya mengeluarkan darah segar, namun itu tak terasa menyakitkan dikala kepergian yang beberapa hari menjadi sosok ibu pengganti. 


"Astaghfirullahal'Adzim, Rasidha…lututmu berdarah, Sayang." Melati sangat cemas dan merobek ujung gamisnya, lutut yang beradu dengan batu runcing menyebabkan darah keluar. 


Rasidha terus menangis melihat mobil yang tak terlihat di pandangan, menangis sesegukan mengingat baru saja mendapatkan kasih sayang. Melati dengan sigap memeluk gadis kecil itu, menyeka air mata dan menenangkannya. "Suatu saat, Ibu Suci akan kembali dan bertemu denganmu. Jangan menangis lagi! Oh ya, ada liontin untukmu." Bujuknya yang memasang liontin indah pemberian Suci. 


Dari ketinggian beberapa meter, seseorang juga terlihat sedih dengan kepergian Suci yang berpengaruh baik padanya. "Dia sudah pergi, apa nanti aku akan bertemu dengannya?" gumamnya yang masih terdengar oleh sang sahabat.


"Itu hanya hukum alam, jika beruntung kamu pasti bertemu dengannya. Jika tidak? Silahkan dicoba lagi," celetuk Felix dengan enteng kembali membuat Simon kesal, geram dengan sahabatnya yang konyol.


"Apa kamu sudah bosan hidup, hah?" 


"Eit, santai. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, sudah menjadi hukum alam. Sudahlah, lupakan itu! Jangan sampai pikiran mu terbebani dan kembali menjalankan tugas."


"Ya, kamu berkata benar." Ujar Simon yang sudah pasrah.

__ADS_1


__ADS_2