Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 90 - Keputusan besar Simon


__ADS_3

Tubuh Simon bergetar hebat, tungkai kaki terasa lemas dan tidak bisa menopang tubuhnya yang kini berlutut. Seakan melihat cahaya saat melihat seorang anak kecil yang memakai mukena putih, Tetesan air mata membasahi pipi di kala mendengar lantunan ayat suci Al-Quran yang begitu nikmat terdengar. Tiba di saat Rasidha membaca surah Thaha, dengan cepat dia duduk bergabung. Menikmati lantunan merdu yang sangat indah, hingga tak sengaja dia membaca arti dari surah Thaha ayat empat belas.


Dia pun membaca hingga ayat keempat belas dan fokus dengan artinya. "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” 


Seketika Simon menangis dengan sedikit bersuara, selama ini dirinya selalu mencari kebenaran dalam hidup. Namun, hanya dengan satu surah yang ada di Al-Qur'an membuatnya mendapatkan hidayah. Mengingat kesalahannya yang berlalu, dosa-dosa yang diciptakannya sendiri dengan membunuh orang lain. Seketika itu pula, pikirannya terbuka akan pandangan islam yang sesungguhnya.


Rasidha menghentikan untuk membaca Al-Qur'an, segera menoleh dan memeluk ayah angkatnya. Dia tidak tahu penyebab ayahnya menangis, dengan cepat dia menyeka air mata itu. "Jangan menangis lagi, Ayah." 


"Selesaikan membaca kitab itu, Nak." Pinta Simon yang masih ingin mendengar keseluruhan surah Thaha. Dengan cepat Rasidha menganggukkan kepala, dan kembali menyelesaikan bacaannya.


Simon menangis sejadinya, mengingat dirinya yang begitu bergelimang dosa. Kehidupannya selalu diawali dengan keburukan yang mendalam, mengingat dirinya tidak pernah merasa tenang. 


Selesai membaca Al-Qur'an, Rasida menutup kitab suci umat muslim itu, lalu menciumnya, meletakkannya ke tempat paling tinggi sembari menoleh dengan perasaan yang sangat bingung, dia hanya memberikan pelukan hangat sebagai penenang. 


Gadis kecil yang tidak tahu penyebab orang dewasa menangis, hanya memberi tepukan pelan pundak sang ayah. "Jangan menangis lagi," ucapnya lembut.


Simon tersenyum di balik sorbannya, mengecup kening putrinya dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Bergegas dia menuju kamarnya untuk membersihkan diri, begitu banyak luka di sekujur tubuh. 

__ADS_1


Simon tidak bisa tidur, dia pergi setelah matahari terbit. Ingin memecahkan masalahnya dan tidak ingin hidup dalam gelimangan dosa. Menyiapkan satu koper, dan berjalan menuju kamar putrinya yang sedang belajar. "Ayah harus pergi meninggalkanmu untuk sementara waktu," gumamnya yang melihat gadis kecil itu, dan segera menyeret koper.


Di dalam mobil, dia menjangkau ponselnya dan menghubungi sang asisten. 


"Halo."


"Iya, apa tuan baik-baik saja?" 


"Hem, aku baik."


"Syukurlah jika tuan tidak apa-apa, apa hari ini tuan ke kantor?" 


"Apa maksudnya, tuan?" 


"Urus perusahaanku dengan baik dan aku mempercayaimu. Ada hal penting yang ingin aku selesaikan, jangan cari aku atau menghubungiku dulu."


"Baiklah." 

__ADS_1


Simon memutuskan sambungan telepon, dia sudah menyiapkan pakaiannya selama kepergian. Sungguh, hatinya terasa sangat berat untuk meninggalkan Rasidha dalam waktu beberapa minggu. Namun, dia ingin menyelesaikan perkara hati dan juga dosa yang pernah diperbuatnya semasa menjadi komandan militer Israel.


"Maafkan ayah, Rasidha. Ayah harus pergi tanpa memberitahukan mu, setelah semuanya selesai? Ayah akan kembali untuk menjadi orang yang lebih baik lagi." Monolognya yang melajukan kendaraannya menuju sebuah tempat untuk menenangkan pikiran, dimana dirinya akan menemukan kebenaran dan juga jati diri yang sesungguhnya. 


Di tempat lain, asisten Ben menggelengkan kepala dengan pelan, membuat wanita berhijab di sebelahnya sedih. "Apa yang di katakan oleh tuan Simon?" desak Suci.


"Maaf, untuk beberapa minggu kedepan dia tidak akan ke kantor."


"Memangnya dia kemana?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi kamu tenang saja, dia akan kembali di waktu yang tepat."


"Baiklah, aku permisi." Suci segera pergi meninggalkan asisten Ben, menekuk wajahnya dan masih mengenang perlakuannya yang begitu kasar pada Simon. "Apa dia marah karena ku? Apa dia sedang menghindariku?" batinnya tampak berpikir, sedih karena tidak bisa meminta maaf dengan pria bermata biru, karena tuduhannya membuat pria itu tersinggung. Begitulah yang dipikirkan oleh nya, dia tidak tahu entah kapan mereka akan kembali bertemu.


"Kemana tuan Simon pergi? Mengapa dia tiba-tiba pergi? Apa penyebabnya?" gumam asisten Ben di dalam hati, dan segera meninggalkan tempat itu.


****

__ADS_1


Hingga mobil berhenti di sebuah bangunan yang tampak sederhana, menyusuri pandangan di tempat itu. Meyakinkan diri untuk mendapatkan ketenangan dan juga pembenaran, mencari jati diri yang terombang-ambing. "Semoga aku mendapat petunjuk di sini!" gumam Simon menghela nafas dan segera turun dari mobil, masuk ke dalam bangunan sederhana yang ada di depannya. 


Ya, Simon memutuskan untuk masuk ke pesantren dan menggali ilmu islam, dirinya memutuskan untuk memeluk agama islam dengan keyakinan penuh. Rela meninggalkan pekerjaan hanya dengan ketenangan batin dan juga menghilangkan semua keraguan di hati.


__ADS_2