Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 9 - Awal baru


__ADS_3

Zufar melampiaskan kekesalannya seluruh staf yang tidak bisa bekerja dengan baik, bahkan ada beberapa yang sudah di pecat. "Apa kalian hanya makan gaji buta? Bekerja malas-malasan, tidak ada yang beres satupun. Aku meninggalkan kantor sebentar, tetapi kekacauan di sini membuatku naik darah." Ucapnya yang menaikkan suara satu oktaf. 


Seluruh para staf hanya menundukkan kepala, mereka tak berani membuka suara atau bisa berakibat buruk, yaitu dipecat tanpa pesangon. "Mengapa ini bisa terjadi? Beberapa pemilik saham telah mencabut investasinya" 


"Maaf Tuan, saya sudah mencari di mana letak permasalahannya. Semua ini dilakukan oleh Tuan Mirza," lapor sang asisten yang memberanikan diri. 


"Jadi ini ulah Mirza?" 


"Benar, tuan Mirza menghasut para pemilik saham dan menawarkannya untuk berinvestasi di kantor miliknya, dengan iming-iming hasil yang sangat menggiurkan, keuntungan dua kali lipat." 


Zufar menggepalkan kedua tangannya dengN erat, rahang yang mengeras menandakan kemarahan yang hampir meledak. Dia menggebrak meja dengan sangat erat, membuat semua orang di ruangan itu tersentak kaget. "Kapan anak itu berubah? Selalu saja bersikap seenaknya," gumamnya yang sangat kesal dengan tingkah adik kandung yang hanya terpaut dua tahun saja. 


****


Usai memandikan anak-anak, Suci juga menyiapkan pakaian dan juga memberi makan. Ada rasa bahagia dan ketenangan setelah dia berada di sana, hanya saja menyembunyikan statusnya tidak akan bisa bertahan lama, lambat laun semua orang pasti mengetahui jika dia sudah bersuami. 


Suci melangkahkan kakinya menuju sumur yang di batasi dengan dinding seadaanya, melihat kiri dan kanan untuk memeriksa ada pria asing yang ada di sekitaran. Merasa aman, dia membuka hijab yang setiap saat menutupi rambut hingga ke dada. Tak lupa untuk menggulung lengan baju dan kaki, mengambil wudhu menjalankan perintah Allah SWT. Setiap tetesan air yang mengenai anggota tubuh terasa sangat lega, namun harus berhemat, mengingat situasi yang krisis air bersih. 

__ADS_1


Kini dia membentangkan sejadah, memakai mukenah putih yang dia beli sendiri. Ruangan kecil tak membuatnya mengeluh, yang terpenting ada rasa ketenangan setelah menjauh dari suami yang mengkhianatinya. 


Usai sholat fardhu, kedua tangan menadah ke atas, mengadu pada sang Rabb pemilik semesta alam. "Ya Tuhanku…ampuni hamba yang sangat berdosa, menjadi istri durhaka dengan meninggalkan suami tanpa seizinnya. Berikan hamba kekuatan dalam menjalani takdirmu, sungguh…cobaan itu tak bisa di tampung. Ya Tuhanku…tunjukkan hamba jalan yang harus di tempuh, Aamiin." 


Selesai sholat dan berdoa, tak lengkap rasanya jika belum membaca Al-Qur'an. Membukanya dan memilih surah Ar-rahman. Lantunan yang terdengar syahdu di telinga, menarik semua orang yang begitu terpana, takjub dan penasaran siapa yang baru saja mengaji. 


"Shadaqallahul Adzim," Suci menutup Al-Qur'an usai menghabiskan surah Ar-rahman dengan sangat merdu, mencium dan meletakkan kitab di atas lemari atau ketempat tinggi. 


"Masyaallah, suaramu sangat merdu." Puji seseorang membuat Suci menoleh ke belakang. 


"Melati?" Suci segera melepaskan mukena dan melipatnya. "Masuklah!" 


Suci tersenyum, merendahkan diri agar dijauhi dari sifat sombong. "Jangan terlalu memuji, bagaimana dengan anak-anak?" 


"Mereka sudah berada di kamar masing-masing, dan juga beberapa relawan menjaga tempat itu untuk menemani mereka. Kasihan, pasti mereka sangat takut dan juga trauma akibat serangan bom yang membunuh keluarga anak-anak itu." 


"Aku salut dengan mereka, bisa melewati hari-hari dengan sangat baik."

__ADS_1


Melati termenung, menatap ke samping. "Mereka lebih kuat dari yang kita bayangkan!" lirihnya yang mengingat masa lalu yang sangat menyakitkan tiba-tiba terlintas di pikirannya. 


Suci melihat wanita yang ada di hadapannya, dia menebak jika Melati mempunyai masalah berat hingga membawanya ke sini. "Aku belum mengelilingi tempat ini." 


"Astaghfirullah, hampir aku melupakannya. Ayo, aku bawa kamu berkeliling ke tempat ini!"


Suci menganggukkan kepala dan tersenyum, menyetujui hal itu agar bisa melupakan masalah. Di sepanjang kaki melangkah, Melati terus berceloteh menjelaskan setiap ruangan. Hingga mereka melihat seorang pria mengenakan sorban yang menutupi wajah, hanya memperlihatkan mata birunya. Zaid tengah duduk di kursi, duduk termenung dalam kesunyian malam. 


Zaid tersenyum saat melihat dua orang di hadapan dan segera menghampiri mereka. "Ini sudah malam, mengapa kalian masih berjalan-jalan?" 


"Hanya ingin mengetahui ruangan agar tidak tersesat," jawab Suci.


"Hem, baiklah." 


"Tuan masih disini?" tanya Melati mengerutkan kening.


"Aku ingin memastikan tempat ini aman atau tidak," jawab Zaid. 

__ADS_1


Suci tak ingin menatap pria asing di hadapannya, memilih untuk menundukkan pandangan. "Kami pergi dulu!" ucapnya segera menarik tangan Melati, karena merasa risih. 


Zaid tersenyum menatap kepergian dua orang wanita, dan segera bergegas pergi. "Semoga orang-orang di sini tidak mengenaliku!" gumamnya yang memastikan wajah terus tertutup sorban. 


__ADS_2