Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 45 - Canggung


__ADS_3

Suci begitu sibuk dengan pekerjaannya, melayani setiap pengunjung yang datang ke toko, sengaja memberikan secara gratis untuk menarik agar orang-orang bisa merasakan kue buatannya. Tak hanya itu, dia juga memberikan anak-anak jalanan yang berada di sekitaran toko, membagikannya dengan suka rela. 


"Panggil teman-teman kalian yang lainnya," ucap Suci yang memberikan kue buatannya secara percuma, tersenyum karena menyukai senyuman indah dari anak-anak jalanan.


Banyak yang berdatangan dari para pemulung, karena memang dibagikan secara menyeluruh. Dia menginginkan jika semua orang bisa mencicipi kuenya sekaligus bersedekah, tak lupa di dalam box kue juga terselip amplop yang berisi uang untuk para fakir miskin. 


Simon terus menatap aktivitas wanita berhijab pink itu, menyukai sifat sederhana dan suka membantu orang-orang. Tanpa di sadari, kue di atas piring habis tak bersisa, menyadari di saat hendak menyuapnya lagi. "Astaga…kapan kuenya habis?" gumamnya tersenyum, melihat tingkahnya yang terlihat konyol.


"Terima kasih untuk kuenya, semoga Allah SWT melancarkan rezeki dan memudahkan seluruh langkahmu, Nak." Tutur sang pria lansia, meneteskan air mata karena bisa membawa kue untuk sang cucu yang kebetulan berulang tahun hari itu. 


Suci menghampiri pria tua itu dengan haru. "Terima kasih doanya, Kek." Sahutnya sembari menyelipkan amplop di dalam kantong baju sang kakek, melihat kepergian pria tua membuatnya meneteskan air mata. "Seharusnya seusia kakek itu beristirahat di rumah, bukan memulung." Batinnya yang dengan cepat menyeka air mata. Betapa beruntungnya dia yang masih hidup serba berkecukupan, melihat anak-anak yang terlantar mengingatkannya saat di panti asuhan.


Setelah pembagian kue yang di dalam dus di selipkan uang beberapa uang merah, sedikit meringankan beban para fakir miskin. Dia memilih duduk di kursi pelanggan, masih memikirkan kehidupan. "Ya Allah…ya Rabb, ampuni hamba yang belum mensyukuri nikmatmu." Gumamnya di dalam hati sambil berdoa memohon ampun.


"Kue nya sangat lezat, apa aku boleh meminta lagi?" 


Suci segera tersadar dari lamunannya, dengan cepat dia menoleh dan tersenyum sekilas. "Kamu menyukainya? Aku akan ambilkan lagi untukmu."


"Tidak…maksudku, kue nya ingin aku bawa pulang, putriku sangat menyukainya!" 

__ADS_1


"Baiklah, aku akan membungkusnya. Tunggu sebentar!" Suci beranjak dari duduknya, ingin mengambil beberapa kue. Tapi, di saat berdiri dia kehilangan keseimbangan, faktor kelelahan juga menjadi pemicunya. 


Dengan sigap Simon menangkap tubuh mungil yang tengah berbadan dua, dia tahu jika wanita berhijab itu tengah mengandung. Tak ada pilihan lain baginya saat ini, tak ingin jika janin di dalam kandungan Suci terjadi masalah. 


Suci sangat shock, berpikir jika dirinya akan segera terjatuh. Tapi salah, karena tubuhnya tidak merasakan lantai. Segera membuka kedua matanya dan tatapan mereka saling beradu satu sama lain, dia segera berdiri dengan benar mengingat pria itu hanya orang asing yang tidak boleh bersentuhan. "Astaghfirullah, terima kasih sudah menolongku." Gugupnya yang baru pertama kali kulit tersentuh dengan pria asing.


"Ehem," Simon berdehem untuk melepaskan rasa gugup, sesuatu yang berdetak dengan cepat. Tiba-tiba perutnya terasa mulas saat kali pertama menolong wanita yang dia cintai, suasana yang menjadi ambigu.


"Apa kamu tidak apa-apa?"


"Hem, aku baik. Tunggu sebentar!"


"Ini kuenya," Suci menyerahkan satu box yang dibungkus cantik, dia juga gugup dengan situasi gadi. 


Simon segera mengeluarkan dompet, menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah. "Ambillah!"


"Tidak! Hari ini gratis, tapi tidak di hari lainnya."


"Baiklah, aku permisi!" ucap Simon salah tingkah.

__ADS_1


Simon berjalan dengan penuh kharisma, terlihat dari aura pemimpin yang melekat padanya. Setelah masuk ke dalam mobil, meletakkan satu box kue di sebelah. "Hah, sial! Mengapa mendadak aku menjadi pria bodoh?" geramnya sambil mengacak-acak rambutnya, masih memikirkan situasi ambigu itu.


Sementara Suci juga tak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. "Ini cukup sulit," monolognya, maju mundur kena. Jika pria itu tak sigap, mungkin dia sudah berada di rumah sakit. 


Suci tak bisa terlalu memaksakan tubuhnya untuk bergerak, dia mudah kelelahan di saat hamil pada trimester pertama. Meminta beberapa karyawan untuk melayani para pengunjung.


****


"Ini untuk putri Ayah, ayo makanlah!"


"Apa itu?" tanya gadis kecil yang sangat penasaran, mencium aroma dari dalam box yang membuatnya terpikat.


"Kue."


"Untukku?" 


Simon menganggukkan kepala, menyerahkan satu box itu. Dengan sigap Rasidha membuka box, terlihat begitu banyak kue memanjakan mata dan juga lidah. "Ini tampak lezat."


"Makanlah, jangan lupa untuk dihabiskan."

__ADS_1


"Terima kasih, Rasidha sayang Ayah." Gadis kecil itu mengecup pipi Simon dan berlalu pergi meninggalkannya.


__ADS_2