Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 56 - Kibaran bendera perang


__ADS_3

Suci membisu seakan waktu terhenti, menunggu saat-saat dokter selesai menangani suaminya. Nangis sesegukan, mengetahui betapa besarnya perjuangan sang suami dalam melawan rasa sakit akibat kanker yang diderita. Tubuhnya yang terasa lemas dan juga tidak mampu menopang bobot, memutuskan untuk duduk di kursi tunggu seraya memanjatkan doa demi kesembuhan Zufar.


Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruangan dan dengan cepat di hampiri oleh Suci setelah menyeka air mata terlebih dulu. "Bagaimana kondisi suamiku, Dok?" desaknya yang sangat berharap akan kesehatan pria yang sudah menjadi teman hidupnya selama delapan tahun.


"Kondisinya buruk, untuk beberapa hari kedepan akan dirawat inap, dan setelah pemulihan nya barulah bisa rawat jalan." Jelas sang dokter 


"Apa ada kemungkinan untuk sembuh, Dok?" kedua mata yang mengharapkan di dalam hati, terpancar saat perkataannya baru saja diucapkan.


"Hem, hanya dua puluh persen saja." 


Suci menghela nafas, menahan rasa sesak di hati. "Apa sekarang saya boleh menjenguknya?"


"Untuk sekarang tidak bisa, biarkan pasien beristirahat terlebih dulu." 


"Baik, Dok." Suci melihat dokter yang sudah menjauh, dan dia pun memutuskan untuk pergi. Berjalan melewati koridor rumah sakit, langkah kaki gontai yang terus berjalan tanpa arah. Tak ingin meninggalkan suaminya sendirian, dan memutuskan untuk menemani di sisa terakhir. Hingga langkahnya terhenti saat tak sengaja menabrak dada bidang. Dia Mendongakkan kepala, dan melihat dengan sekilas siapa pria yang baru saja ditabrak, dan ternyata adalah Simon yang berada di rumah sakit yang. "Maaf, aku tidak sengaja Tuan Simon."


"Tidak apa-apa," Simon tersenyum dan memperhatikan wajah dari wanita berhijab yang berada di hadapannya, dia tahu semua permasalahan yang menimpa Suci. "Kenapa wajahmu sangat pucat?" tanyanya yang berpura-pura tak tahu apapun.


"Bukan apa-apa, aku kelelahan saja!" 

__ADS_1


"Bagaimana jika kita duduk di kursi itu," ajak Simon yang menunjuk kursi panjang tak jauh dari mereka, sedangkan Suci hanya mengangguk patuh, sembari menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dan bisa menimbulkan fitnah. "Kamu tunggu sebentar, aku akan membeli air mineral untukmu!" 


"Hem."


Suci menatap kepergian Simon yang mulai menjauh, pikiran gusar selalu saja menghantui. Beberapa saat kemudian, pria bermata biru menghampirinya sambil menyerahkan sebotol air mineral dan juga makanan pengisi perut yang keroncongan. "Minum dan makanlah, kamu pasti lapar." 


Suci menatap makanan dan juga sebotol air mineral, memegang perut yang juga terasa kosong. Tapi, dia cukup ragu menerima makanan yang belum tahu asal usulnya, hanya menatap tanpa berniat memakannya.


"Tidak ada racun di dalam makanan itu, dan halal!" celetuk Simon yang mengerti kegelisahan dari wanita itu. 


Suci kembali menganggukkan kepala, dia sangat berterima kasih akibat bantuan kecil dari Simon. Namun pria itu malah menganggap sebagai rasa kepedulian dan juga perhatian, tapi masih menjaga jarak yang bisa menghebohkan orang-orang di sekitar. Pria bermata biru mengembangkan kedua sudut bibirnya ke atas, sangat senang jika wanita di hadapan sangat menikmati makanan yang sudah pesan. 


"Sama-sama."


"Mengapa Tuan bisa di sini? Kita selalu bertemu, suatu kebetulan yang pas." Celetuk Suci yang tersenyum dan kembali menundukkan kepala, tak ingin berlama-lama. Berusaha menutupi perasaan sedih dengan senyuman, tidak membutuhkan simpati orang-orang yang hanya memandangnya kasihan. 


Simon tak bisa mengatakan sejujurnya, jika dirinya datang hanya ingin memastikan keadaan Suci baik-baik saja.  "Ingin menemui dokter kenalanku disini! Kau disini juga?" 


"Hem." Sahut Suci singkat, padat, dan jelas. "Apa aku boleh jujur?"

__ADS_1


"Katakan saja," ujar Simon yang santai, tapi jauh di lubuk hatinya yang sangat penasaran dan juga deg-degan. 


"Mata biru yang Tuan miliki sangat mirip dengan kenalanku di Palestina."


"Kamu orang yang kesekian kalinya mengatakan hal itu, wajahku hampir mirip dengan beberapa orang. Itu biasa terjadi," jelas Simon yang menutupinya, berharap jika wanita berhijab tak mengenali dirinya yang pernah menyamar sebagai Zaid.


"Ehem," deheman seseorang membuat dua orang yang terlihat akrab segera menoleh ke asal suara, perhatian mereka teralihkan saat melihat pria tampan yang mengenakan jas. "Kalian begitu dekat," ucap Mirza melirik pria bersama Suci dengan sengit.


"Kamu siapa?" tanya Simon yang membalas tatapan itu.


"Tidak perlu mencemaskan siapa aku, berduaan di tempat ini, dan yang ketiganya setan." Tukas Mirza yang mencibir.


"Sial, jika Suci tak disini, aku pasti menghajar nya hingga pingsan." Batinnya yang sangat geram, mengatur emosi agar terkendali. "Satu…dua…dan__." Hitungan ketiga dia menunjuk Mirza. 


"Mengapa kamu menunjukku?" 


"Karena kamu yang ketiga, dan berarti…hah, kamu pasti tahu kata berikutnya."


"Sialan, dasar bule kampret!" tukas Mirza mengibarkan bendera perang.

__ADS_1


__ADS_2