
Kedua wanita itu sangat terkejut, mengekspresikan raut wajah yang berbanding terbalik, ada yang merasa senang dan ada merasa cemas. Situasi yang tidak memungkinkan, Siska segera melempar kayu sembarang arah di saat melihat pria yang masih lengkap menggunakan setelan jas.
"Mas Zufar," ucap mereka dengan kompak.
Siska sangat takut, sikapnya yang mencoba menganiaya istri pertama sang suami sudah tertangkap basah. Dahi yang berkeringat menandakan kecemasan berlebih, ketakutan menjalar di seluruh tubuh. Dengan cepat dia melingkarkan tangan di leher Suci, tak punya pilihan lain lagi. "Jangan mendekat!" ancamnya dengan raut wajah ketakutan.
Zufar membesarkan kedua pupilnya, mata yang melotot dan berwarna merah. Mengepalkan kedua tangannya, melihat istri tercinta ditawan oleh istri kedua. "Lepaskan Suci!"
"Tidak," tolak Siska.
"Kamu pelakunya, menciptakan masalah dengan Suci yang bahkan mencoba ikhlas berbagi, menerima dirimu sebagai istri keduaku." Zufar sangat marah, namun dia tak ingin gegabah mengenai sikap aslinya.
"Aku tidak punya pilihan lain, kamu selalu membela dan tidak adil denganku." pekik Siska yang memberontak.
"Turunkan nada suaramu, jangan sampai itu menjadi bumerang nantinya." Ucap Zufar dingin.
"Apa? Kamu ingin membunuhku? Silahkan." Lantang Siska yang tahu jika Zufar tak melakukan itu, Suci masih berada di dekat mereka.
__ADS_1
"Ingin sekali aku mengoyak mulutnya itu, jika Suci tak di sini, sudah aku pastikan nama Siska tertulis pada papan nisan." Batinnya yang berusaha mengontrol emosi dan meredam amarahnya. "Lepaskan dia!" jelasnya sekali lagi.
"Tidak."
Zufar menghela nafas, menatap Suci dengan sendu. "Mengapa kamu melakukan ini? Apa kesalahan Suci?" tuturnya, bahkan pandangannya berada di perut Siska yang rata. Sangat terkejut dan tak menyangka, membanggakan anak yang akan dihadiahkan pada istri pertama, namun istri kedua membohonginya. "Pantas saja saat berhubungan aku merasa ada yang janggal, ini semua akibat obat perangsang itu. Sial!" gumamnya di dalam hati, merutuki dirinya sendiri yang mudah tertipu.
Seakan mengerti tatapan Zufar yang menyorot perutnya, Siska kembali menelan saliva dengan susah payah seakan tersangkut di tenggorokan.
"Kebohongan apa lagi yang kamu sembunyikan, hah?" bentak Zufar yang membuat Suci tersentak kaget juga terkejut.
Belum sempat dijawab, terdengar dua orang pria yang masuk, salah satunya adalah kekasih Siska. "Bantu aku!" titahnya yang mendapat secercah harapan tadinya terlihat redup.
"Mundur sekarang atau aku tidak mengampuni kalian!" ancamnya dengan sorot mata dingin.
"Heh, dua lawan satu. Kamu bercanda? Seharusnya kamu yang mengalah dan bukan kami," ucap Antoni yang menyeringai, memandang mangsa ingin menerkamnya hidup-hidup.
"Aku sudah memperingatkan kalian, dan sisanya putuskan sendiri." Zufar memukul dan menendang dua preman secara bersamaan.
__ADS_1
"Brengsek!" Anton maju melawan Zufar, keduanya saling adu jotos memperlihatkan kemampuan masing-masing.
Sementara Siska terdiam, melihat pertarungan yang menyita perhatiannya. Hal itu dimanfaatkan Suci yang menyikut perut wanita di belakangnya, tak lupa menginjak kaki sekuat tenaga.
"Auh," Siska meringis kesakitan, memegang perut dan kaki yang terasa ngilu berdenyut. Melayangkan kayu untuk memukul, melakukan perlawanan.
Suci tak bisa ilmu beladiri, hanya menggunakan insting dengan perhitungan yang pas. Dengan cepat dia menghindar di belakang punggung Siska dan menendang hingga lawannya terjerembab ke lantai. "Maaf," ucapnya yang merasa bersalah, tapi kali ini niatnya murni melindungi janin di dalam perut.
Siska tak tinggal diam, melempar kayu sembarang arah, melawan menggunakan tangan kosong. "Aku buat kamu menyesal!"
Mereka saling menyerang dalam pertarungan itu, Zufar sesekali melihat ke arah Suci dan terkejut jika istri pertamanya bisa melindungi diri. Dia sangat takjub dan juga takut secara bersamaan, walaupun belum mengetahui jenis kelamin bayi, setidaknya dia puas mengenai kehamilan palsu Siska yang terbongkar. Tidak ada beban di hatinya, dan menerima janin itu sepenuhnya.
Dor
Terdengar suara tembakan yang membuat aksi lima orang bertarung, beberapa polisi masuk ke dalam ruangan dan memborgol Siska, Anton, dan satu orang preman.
Siska memberontak, berusaha melepaskan diri tapi tak bisa. Semua rencananya gagal total, tak ada yang tersisa untuk menghancurkan kehidupan harmonis di hadapannya. "Mas Zufar, tolong bebaskan aku! Aku janji, tidak akan mengulanginya lagi!" rengeknya menangis, mencoba untuk mendapatkan simpati.
__ADS_1
Zufar segera memeriksa keadaan Suci yang sangat lemah akibat pukulan dan perkelahian melindungi diri, hingga dirinya pingsan. Segera menggendong tubuh sang istri pertama, dia hendak keluar. Tapi, sebelum itu menghampiri Siska yang menjadi duri dalam hubungannya. "Aku talak kamu, mulai sekarang kamu bukanlah istriku lagi." Dia bergegas pergi dan masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit.
Siska sangat terkejut, jika suaminya menjatuhkan talak.