
Suci menghentikan langkah kakinya, menoleh sekilas menatap wajah sang adik ipar. "Masih banyak yang harus aku lakukan, jangan mengusik kakak iparmu!" tegasnya seraya berjalan menuju dapur.
Mirza tersenyum saat kepergian wanita yang sudah menjadi kakak iparnya, lebih dulu mengenal wanita itu dibandingkan Zufar. "Dunia ini sungguh aneh," gumamnya sambil memainkan ponselnya.
Suci kembali memasak kegemaran sang suami, makanan yang sama pertama dia membuatnya. Kembali berperang di dalam dapur, berkutat pada alat penggorengan tanpa kenal lelah. Beberapa saat kemudian, makanan sudah siap di sajikan di atas piring keramik yang cantik. Tersenyum saat makanan itu telah selesai, menyeka keringat karena mengejar waktu.
"Akhirnya aku bisa mengejar waktu," monolog Suci yang melirik jam dinding, sesekali dia melirik ke arah pintu kamar Siska yang masih mengatup. "Lama sekali?" gumamnya yang sedikit membakar semangatnya.
Setengah jam kemudian…
Suci hampir menutup mata, menopang kepala menggunakan tangannya karena kelelahan menunggu setelah memasak makanan.
"Wah…Mbak masak apa?" tanya Suci dengan mata yang berbinar, membangunkan Suci yang tersentak kaget.
"Dimana mas Zufar?" tanya Suci celingukan sembari mengusap wajahnya.
__ADS_1
"Mas Zufar tidak bisa turun untuk makan malam, itu sebabnya aku datang ingin membawakan makanan untuknya. Permainan suami kita di ranjang benar-benar liar, untung saja aku bisa menyembanginya. Biasa, dia kelelahan usai bertempur, dan rencananya mau lembur." Jelas Siska panjang kali lebar, setengah berbisik seakan menyombongkan mengenai keintiman dirinya dan juga sang suami.
Suci hanya terdiam, tidak terlalu memusingkan perkataan Siska yang di anggap sebagai angin lewat, masih bersabar mengenai sikap adik madu. "Hem, jangan terlalu diikuti, bisa kontraksi dini yang membahayakan bayi dalam kandungan," sahutnya tersenyum.
"Mbak pasti cemburu dan mengatakan semua itu pada ku, mas Zufar sekarang juga memperhatikanku. Ini adil 'bukan?" ujar Siska meninggikan suaranya satu oktaf.
"Tidak perlu membentak, itu sama saja kamu menyakiti sang bayi." Nasehat Suci, dia peduli pada bayi dalam kandungan adik madunya.
"Jangan sok menasehati, apa yang Mbak tahu dari kehamilan?" protes Siska yang melirik kakak madunya dengan sinis, menolak pinggang dan mulai berkuasa.
Siska menyeringai tipis, sedikit terkejut dengan perubahan istri pertama suaminya yang dikenal dengan hati yang sangat lembut dan selalu mencari sisi baik dari seorang yang buruk. "Wah, aku tidak menyangka jika Mbak membalasku."
"Aku hanya manusia biasa, apa kamu takut mas Zufar tidak memperhatikanmu dan terus mencari masalah denganku?"
"Takut? Mulai detik ini, aku pastikan mas Zufar lebih memilihku istri mudanya dibandingkan Mbak yang sudah patut dibuang." Kata Siska yang menyiratkan sesuatu, menantang istri pertama karena sudah mempunyai persiapan sebelumnya.
__ADS_1
"Aku juga istrinya."
"Walaupun mas Zufar berbagi burung, bukan berarti bisa bersikap adil. Kemarin adalah waktu Mbak, dan sekarang adalah waktuku." Siska segera pergi dari tempat itu dan membawa dua piring makanan dan dua gelas air, berjalan dengan penuh keangkuhan membuatnya lupa akan daratan ke mana dulunya dia berasal.
Nafas Suci memburu di saat wanita itu telah pergi meninggalkannya, saat dia menerima kehadiran orang ketiga, malah Siska mengibarkan bendera perang padanya. "Apa yang dimaksud olehnya?" gumamnya tampak berpikir, tak tahu apa yang disembunyikan oleh adik madunya.
Siska tersenyum dengan penuh percaya diri, mempunyai senjata ampuh untuk membuat Zufar berada dalam kendalinya. "Berusahalah semampumu mbak, aku yakin suami kita akan selalu berada dekat denganku." Batinnya yang masuk ke dalam kamar, mengisi perut sebelum pertempuran di mulai.
Suci melangkahkan kaki gontai menuju kamarnya, memutuskan untuk mengambil air wudhu dan sembahyang Fardhu sesuai perintah Allah SWT. Membentangkan sajadah, sholat dengan khusyuk dan khidmat.
Menadahkan kedua tangan di saat ingin memanjatkan doa setelah usai beribadah dan berdzikir menyebut sang pencipta, meneteskan air mata membasahi mukenah putih. "Ya Allah Ya Rahman, ampuni dosa hamba yang sengaja maupun tidak, bimbing hamba menuju jalan kebenaran. Ya Tuhanku…berikan hamba ketabahan dan juga kesabaran untuk melewati ujian ini, sesungguhnya hamba hanyalah manusia biasa yang tak luput dari dosa. Tunjukkan sesuatu yang tidak hamba ketahui, dan berilah solusinya, aamiin."
Suci mengusap wajah menggunakan kedua tangannya, segera membuka Al-Qur'an dan membaca surah Al-Kahfi pas di malam jumat. Hati yang dipenuhi rasa marah, perlahan menghilang seiring lisan masih membaca Al-Qur'an dengan alunan yang sangat merdu.
Setelah selesai, dia menutup Al-Qur'an dan menciumnya, kembali meletakkan di tempat yang tinggi seperti lemari pakaian. Segera membuka mukenah dan memutuskan untuk beristirahat lebih awal, karena besok pagi dia akan pergi ke pusat perbelanjaan.
__ADS_1