Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 46 - Jebakan


__ADS_3

Suci mengerjakan semua pekerjaannya dengan sangat baik, walaupun tidak ada yang menemaninya ataupun membantu. Tak begitu mempermasalahkan yang hanya berakibat dirinya bisa stres dan itu bisa mempengaruhi kesehatan janinnya. 


Satu minggu tokonya berjalan dengan begitu pesat, membuatnya tampak sibuk tanpa melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Seiring bertambahnya usia kehamilan yang membuatnya mudah lelah, bahkan hari ini dia hanya memantau dari laptop mengenai laporan dari orang kepercayaannya.


Melihat kesuksesan dari Suci, ada satu orang yang tidak menyukai keberhasilan itu. Dia sangat iri, melihat kakak madunya yang bisa menghasilkan uang dari modal yang diberikan oleh Zufar. "Hanya modal dari suamiku, jika tidak begitu pasti wanita sok suci itu tidak akan berhasil." Gumamnya di dalam hati, masih mengawasi dari kejauhan, mempunyai rencana licik untuk menyingkirkan sang kakak madu.


Siska mengeluarkan ponsel mahalnya, menghubungi seseorang yang tak lain adalah kekasihnya sendiri.


"Halo."


"Kita harus menjalankan rencana ini agar bisa menyingkirkannya!"


"Baiklah, siapkan segalanya di sana dan aku akan menyelesaikan."


"Hem."


Suci menyandarkan punggungnya di sofa, melepaskan rasa lelah yang menghampiri. Ponselnya berdering dan segera mengangkat telepon, dia adalah Zufar. 


"Assalamu'alaikum, ada apa Mas?" 


"Wa'alaikumsalam, ada berkas yang tertinggal di rumah, tolong bawakan ke kantor."

__ADS_1


"Baik Mas, aku akan kesana."


"Berkas itu sangat penting, cepat antarkan!"


"Iya mas."


Dengan bergegas, Suci terburu-buru menuju ke kamar. Mendengar perkataan sang suami membuatnya sedikit panik, tapi segera melakukan tugasnya. Dia masuk ke dalam kamar, dan melihat ada berkas yang tergeletak di atas tempat tidur. Sebuah berkas kerjasama dengan perusahaan Mitra Group dengan SA Group. 


"Ini dia, aku menemukannya!" Suci tersenyum dan segera keluar dari kamarnya, ingin mengantarkan berkas itu. 


Suci duduk di kursi belakang, karena dia tak bisa mengemudi mobil dan meminta pak supir untuk mengantarkannya. "Tambah kecepatan mobilnya Pak, saya terburu-buru."


Suci tak merasa ada yang janggal, dia hanya memperhatikan jalanan di depan. Memegang berkas dari suaminya, dan tersenyum. Pandangan mata menoleh ke sekeliling, melihat jalanan luar jendela yang tampak asing. "Ini bukan jalan menuju kantor, Pak."


"Saya tahu Non, jalan utama sekarang lagi macet parah. Hanya ini satu-satunya jalan agar sampai ke kantor," jawab pria itu.


Suci tampak khawatir, namun masih berpikiran positif, mengingat dirinya yang tak tahu jalan yang sangat sepi. "Ya Allah…ya Tuhanku, lindungilah hamba dari marabahaya." Gumamnya yang berdoa akan keselamatan.


Tak beberapa lama, mobil di paksa berhenti. Kekhawatiran yang dirasakan wanita berhijab semakin kalut dalam rasa takut, jalanan yang sangat sepi. "Kenapa berhenti, Pak?"


"Sepertinya ban mobil kempes, Non tunggu di sini dulu."

__ADS_1


"Hem." Suci menganggukkan kepala dengan patuh, tak curiga dengan pria itu. 


Suci melirik jam di ponselnya, tidak ada sinyal membuatnya kesulitan menghubungi sang suami, waktu yang cukup lama menunggu sang supir yang tak kembali. "Kenapa pak supir lama sekali, kemana dia?" lirihnya sembari membuka pintu dan ingin keluar dari dalam mobil.


Baru saja dia hendak keluar, tiba-tiba ada tangan yang membekap mulutnya. Berusaha memberontak untuk melepaskan diri, berusaha sekuat tenaganya. Tapi, semua itu hanya sia-sia saja, di saat orang itu membiusnya. Penglihatan mata yang bertambah buram, kepala yang berputar membuat Suci tak sadarkan diri.


****


Sementara di sisi lain, Zufar sangat marah dan bahkan membentak semua karyawan dan staf yang bekerja di sana. Bahkan dia meminta mereka untuk membuat salinan berkas secepatnya, kembali menghubungi sang istri pertama yang tidak tersambung. "Kemana Suci? Mengapa dia sangat lama." Dia tak bisa menyalahkan sang istri sepenuhnya, tapi melampiaskan kekesalan pada bawahannya. 


"Doni!" panggil Zufar dengan lantang.


"Iya, Tuan. Periksa sampai dimana tuan Simon berada, pastikan dia tidak mengetahui hal ini atau kerjasama itu bisa putus!" 


"Laksanakan, Tuan." Asisten Doni segera bergegas menjalankan perintah. 


Zufar mengusap wajahnya dengan kasar, sangat mengkhawatirkan keadaan Suci, takut terjadi masalah di jalan. "Dimana dia? Ponselnya juga tidak tersambung." Gumamnya yang melirik beberapa orang yang masih berdiri tak jauh darinya. "Apa kalian ingin di pecat? Selesaikan berkas itu dalam waktu sepuluh menit!" lantangnya membuat para staf kelimpungan dan pergi meninggalkan ruangan bos.


Ponsel kembali bergetar, menandakan pesan masuk. Dengan cepat Zufar membuka dan melihat isi pesan itu, kedua pupil yang membesar di saat melihat layar pipih di genggaman tangannya, beberapa gambar yang dikirim membuatnya murka. 


"Aargh…mengapa dia melakukan ini padaku?" teriak Zufar yang melempar vas bunga di atas meja, merusak semua perabotan yang ada di ruang kerjanya. Sekali lagi, dia membaca pesan dari sang istri, mengenai jika wanita itu sangat tak menerima perlakuannya yang mendua dan membalas sebagai bentuk protes. Mengirim beberapa bukti foto istri pertama yang terlihat seolah-olah tidur bersama dengan pria lain. "Dasar wanita ******, tunggu pembalasanku!" geramnya yang hampir frustasi memikirkan sang istri yang berselingkuh.

__ADS_1


__ADS_2