
Suci, Nadia, dan juga rasidha pergi bersama menuju restoran terdekat, mereka memilih makanan sesuai dengan selera masing-masing. Begitu banyak makanan yang terhidang di atas meja, terlihat begitu menggiurkan membuat perut keroncongan.
"Aku merasa jika semua makanan di atas meja tidak akan muat dalam perutku yang kecil ini," Rasidha memegang perutnya sambil melirik makanan memanjakan mata dan juga lidah.
Suci tersenyum seraya mengusap rambut panjang gadis kecil. "Kita bertiga akan menghabiskannya, jadi Rasidha tidak perlu khawatir." Jelas nya yang langsung dipahami oleh gadis yang berusia lima tahun. "Jangan diam saja, makanlah!" tuturnya yang menawarkan kepada sang pengasuh.
Nadia menganggukkan kepala, namun masih ragu untuk memakan makanan yang tersaji di atas meja.
"Makan saja, aku yang bayar." Ucap Suci yang menyelesaikan masalah dan keraguan dari wanita di hadapannya.
"Iya."
Rasidha juga tak menyentuh makanannya, membuat Suci menautkan kedua alisnya karena rasa penasaran. "Kenapa belum dimakan?"
Dengan cepat gadis kecil itu membuka mulutnya lebar-lebar, Suci yang memahami segera menyuapi Rasidha dengan telaten dan cekatan. Sedangkan Nadia merasakan ikatan di antara keduanya sangat erat, apalagi selama di Indonesia gadis kecil itu sulit ditangani oleh pengasuh.
Rasidha meneteskan air mata, sangat merindukan wanita yang memangkunya. "Ibu jangan pergi lagi, ikut denganku dan tinggal bersama Ayah," bujuknya yang merengek setelah makanan sudah habis, membuat perutnya sedikit membuncit.
"Ibu masih punya keluarga yang harus di jaga, Sayang."
"Apa aku bukan keluarga Ibu Suci?" lirih Rasidha yang menundukkan kepala dengan lesu, dia hanya ingin merasakan keluarga yang utuh, mempunyai ayah dan juga ibu. Tatapan nanar dan penuh harapan terus saja terlontar, membuat wanita berhijab juga merasakan kesedihan itu.
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu, Sayang. Aku tetaplah Ibu Rasidha, yang mencintaimu sepenuh hati."
Rasidha mengangguk lesu, karena dirinya hanya ingin merasakan punya keluarga utuh. Sangat mengharap banyak, jika ibu Suci nya akan menjadi ibunya kelak. Ada banyak hal yang dipersiapkan, rancangan mengenai keluarga harmonis. Kasih sayang yang diberikan Zaid atau Simon tak membuatnya merasa puas, karena setiap hari ayah angkatnya sibuk bekerja dan menitipkannya pada pengasuh yang sudah beberapa kali diganti.
Setelah semua selesai, Suci melirik jam di ponselnya, mengingat kondisi sang suami yang tidak bisa dia tinggalkan untuk waktu lama. "Sebaiknya aku mengantarkan mereka dan pulang, pasti mas Zufar sangat cemas jika aku pulang terlambat," batinnya yang terlihat gelisah.
"Ada apa, Bu?" tanya Rasidha yang memperhatikan kegelisahan di wajah ibu angkatnya.
"Ibu tidak bisa berlama-lama, bagaimana jika ibu mengantarkan kalian?"
Seketika senyum di wajah Rasidha berubah menjadi murung, dia tidak ingin berpisah lagi. Nadia yang mengerti segera membujuk gadis kecil dan mencoba untuk memberikan pengertian.
"Baiklah, aku mengerti. Tapi bagaimana jika aku merindukanmu, Bu?"
"Tidak perlu repot-repot, kami bisa pulang. Ada dua penjaga dan supir di seberang sana, mengawasi kemana Rasidha pergi." Tolak Nadia.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Aku pergi dulu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," sahut Nadia dan Rasidha serempak.
Suci segera masuk ke dalam taksi dan meminta pak supir mengantarkannya pulang kerumah, membayar jasa supir dan segera turun dari taksi. Dia berjalan untuk masuk kedalam rumahnya, terlihat dua orang pria yang gelagapan menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
"Asisten Doni?"
"Halo Nona, ada berkas yang harus meminta tanda tangan dari tuan Zufar." Jelas asisten Doni yang berbohong, karena dirinya diancam oleh majikannya sendiri.
"Apa kalian sudah makan?" tanya Suci menanyai dua orang pria tak jauh darinya.
"Sudah," sahut mereka kompak.
"Hem, baiklah." Suci berjalan masuk ke dapur, memberi perintah pada karyawannya untuk mengambil bahan-bahan pembuat kue dan roti. Dia segera menyiapkan makanan kering dan juga minuman segar untuk tamu suaminya.
"Apa kamu ingat apa yang aku katakan tadi?" bisik Zufar tak ingin satu orangpun tahu.
"Saya masih mengingatnya dengan jelas, Tuan. Mengenai masalah per__," belum sempat dia menyelesaikan perkataannya, lebih dulu bantal kecil mengenai wajahnya. "Auh," ringisnya dengan hidung yang sedikit memerah.
"Sudah aku peringatkan, tapi kamu malah ingin mengatakan, dasar bodoh!" tukas Zufar membentak asistennya.
"Maaf, Tuan. Saya khilaf!"
"Ini, makanlah!" celetuk Suci menyajikannya pada tamu sang suami.
Zufar meneguk saliva saat melihat cemilan yang disajikan oleh istrinya, sudah lama dia tidak memakan makanan itu. Diam-diam dia menjulurkan tangan untuk mengambil cemilan kesukaannya, tapi aksi itu terhenti di saat tangannya dipukul pelan. "Mas tidak boleh memakan cemilan ini, jaga kesehatanmu. Kalian boleh mengobrol dulu, aku akan masuk ke kamar!" tuturnya yang segera masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Asisten Doni tersenyum tipis, mengambil cemilan kesukaan dari atasannya dan memakannya tepat di hadapan Zufar, sengaja memperlihatkannya untuk membuat pria di hadapannya kesal. "Hehe…cukup menyenangkan," batin nya puas.