
Suci membuka kedua matanya, melihat sekeliling dengan kedua bola matanya. Tahu jika dia berada di rumah sakit, tubuh yang terasa kemah membuatnya tak bisa membuatnya untuk duduk.
Melihat seorang pria yang sudah bertahun-tahun menjadi suaminya, tengah membenamkan wajah yang ditopang oleh kedua tangan kekar.
Suci tersenyum, mengingat jika dirinya menang dalam melawan kejahatan. Menyentuh kepala sang suami dan mengelusnya dengan perlahan, tatapan mata yang terus mengarah pada Zufar.
"Syukurlah, kamu sudah sadar."
"Ada apa dengan matamu, Mas?" Suci bisa melihat jelas bagaimana kondisi mata yang sembab akibat menangis. "Dan kenapa bibir Mas terluka?"
Zufar segera menyembunyikan perasaan hatinya yang sangat sedih, berusaha untuk tersenyum. "Ini akibat pertarungan itu, jangan khawatir." Jawabnya dengan suara pelan.
Suci ingin duduk, tetapi merasa perutnya sangat sakit. "Auh…perutku sangat sakit," lirihnya sembari memegang perut, sebelah tangannya menggenggam tangan Zufar.
Zufar sangat panik dan segera menghubungi dokter, memencet tombol darurat di ruangan itu. "Bertahanlah, sebentar lagi dokter segera tiba."
"Sakit Mas."
Pintu terbuka lebar, seorang wanita berjas putih datang bersama dengan dua suster yang menghampiri. "Tolong, mundurlah sebentar!" titahnya yang segera dipenuhi oleh Zufar.
__ADS_1
Dokter segera memberikan pereda rasa nyeri di perut akibat janin yang sudah diangkat. "Tenanglah, ini biasa terjadi setelah keguguran." Jelas sang dokter membuat Suci terdiam bagai patung.
Deg
Waktu yang terhenti seketika, terdengar suara petir cukup kuat, hujan turun membasahi bumi, memberikan kehidupan baru pada tumbuhan. Namun, seakan hujan turun juga ikut bersedih dengan apa yang dialami oleh Suci. Lidah seakan keluh, terdiam membisu dengan wajah yang pucat pasi, menyentuh perut menggunakan tangan yang gemetar hebat. "Aku keguguran?" lirihnya disertai dengan tetesan cairan bening yang memenuhi pelupuk mata.
"Ini ujian yang harus dihadapi, kita sudah berencana. Tapi, rencana Tuhan jauh lebih baik, mempunyai skenarionya sendiri." Kata sang dokter yang tersenyum menyemangati pasiennya, berlalu pergi setelah berpamitan.
Zufar berjalan mendekat, mengingat dirinya yang tak pandai bersyukur. Ingin memeluk istrinya dan memberikan rasa kenyamanan, dan juga ketenangan.
"Tinggalkan aku sendiri!" lirih Suci dengan raut wajah datar, dia sangat rapuh dan juga tak bersemangat.
"Tinggalkan aku sendiri!" ulang Suci yang menekan kata-katanya, tidak ingin dibantah.
Zufar sedih, tapi sangat jelas jika sang istri ingin sendiri. "Baiklah, jika butuh sesuatu panggil aku!" dia segera pergi meninggalkan orang tempat sang istri di rawat, memutuskan untuk duduk di kursi tunggu. Mengusap wajahnya dengan kasar, menyadari semua kesalahan yang membuatnya begitu egois.
"Ini semua salahku."
"Apa kamu baru menyadarinya sekarang?" cibir Mirza yang geram dengan sang kakak.
__ADS_1
Tini mendekati putranya, dia juga merasa sedih mengenai kondisi menantu dan kehilangan calon cucunya. "Tidak ada yang perlu disesali, nasi sudah menjadi bubur."
Zufar hanya terdiam dengan wajah yang ditekuk, merenungi kesalahan yang selama ini dia torehkan kepada Suci. "Aku ke toilet dulu," pamitnya yang beranjak dari duduk menuju ke toilet.
Penyesalan akibat ego sendiri, memakan perasaannya hingga tak bersisa. Dia menutupi tangisannya dengan mencuci wajah di wastafel, menatap wajahnya di cermin besar. Kepala terasa sangat pusing dan juga mual, penglihatan yang mengabur membuatnya kehilangan keseimbangan dan tergeletak di lantai, tidak ada yang tahu akibat jarak toilet dan rawat inap Suci sedikit jauh.
Suci menuangkan rasa sedihnya dengan berteriak sepuas hati, dunianya seakan runtuh tak tersisa mendengar kabar kegugurannya. "Ya Allah…ya Tuhanku, begitu sulit ujian yang engkau berikan, kuatkan hamba dalam melewati hari yang sangat sulit ditempuh." Batin nya di sertai isakan tangisan, memegang perut yang masih terasa sakit. Tapi itu tidak sebanding dengan kehilangan calon buah hati yang bahkan belum lahir ke dunia.
"Delapan tahun aku menunggu untuk punya anak,di saat aku mendapatkannya malah hanya singgah sebentar. Apa yang tidak sakit dari ini? Sudah lama aku mendambakan ingin memiliki anak dan menuangkan seluruh kasih sayangku." Suci tak bisa mengontrol apa yang dia rasakan, hatinya begitu terluka dengan ujian yang datang silih berganti.
Tini dan Mirza sedih saat melihat Suci yang sangat rapuh, tidak tahu bagaimana mereka akan menghibur wanita itu.
Cukup lama Suci mengeluarkan air mata, hingga matanya bengkak. Melamun dengan tatapan kosong ke arah depan, sangat tidak bersemangat untuk melakukan apapun di saat dunia kecilnya di rebut. Tini segera masuk dan menghampiri menantunya, memeluk wanita yang tak berekspresi.
"Suci, sadarlah Nak."
Tidak ada sahutan dari Suci membuat Tini sangat sedih. "Ikhlaskan, kamu menyayangi calon anakmu, tapi Allah SWT lebih menyayanginya dan mengambilnya darimu."
Suci tak menjawab, tatapan kosong itu meneteskan air mata, masih mempertahankan ekspresi datar.
__ADS_1