
Di pagi hari, para relawan bersiap untuk menimba air sumur untuk mandi dan juga memasak. Kini tibalah giliran Suci yang mengambil air, tapi pikirannya masih membayangkan kejadian semalam. Melihat tiga tentara Israel yang berkeliaran di tempat itu, bisa saja akan kembali dan membantai mereka. Dia sangat khawatir dan tidak fokus dalam menimba air sumur, tepukan di pundak membuatnya sadar dan segera menoleh.
"Kamu melamun? Wajahmu juga sedikit pucat," tanya Melati yang khawatir, dia segera memeriksa dahi teman barunya yang memang sangat panas. "Kamu demam, sebaiknya istirahat ke penginapan!"
"Tidak usah, biar aku selesaikan menimba air sumur dan barulah beristirahat," tolak Suci yang berusaha tetap kuat.
Melati tak mendengarkan perkataan teman barunya, dia membopong tubuh lemah yang sangat pucat. Baru beberapa langkah, tubuh lemah itu jatuh ke lantai dan pingsan. "Suci…Suci, bangun!" ucapnya yang histeris, menoleh kiri dan kanan tak melihat siapapun selain pria yang menutupi wajah dengan sorban.
Melati berlari menghampiri pria itu, tidak punya pilihan lain. "Tuan, tolong bantu temanku."
"Ada apa?"
"Suci pingsan dan tidak ada siapapun, tolong bantu temanku!" ucapnya yang memohon, menyatukan kedua tangan dengan mata berbinar.
"Ayo!" Zaid segera mengikuti Melati dan membawanya, melihat Suci yang sangat pucat. Tanpa menunggu waktu, dia membopong tubuh itu dan membawanya ke penginapan medis.
Dokter sedang memeriksa keadaan Suci, keduanya tampak cemas. "Maaf Tuan, aku sudah merepotkanmu."
Zaid tersenyum. "Tidak masalah."
"Hem, begini Tuan. Aku tidak bisa menunggu disini terlalu lama, banyak anak-anak yang mau di urus."
"Kamu tenang saja, aku ada disini."
__ADS_1
"Apakah itu tidak merepotkan?"
"Tidak, pergilah."
"Baik Tuan. Assalamu'alaikum," pamit melati dengan ramah, merasa tidak enak dengan permintaan.
Zaid khawatir dengan kondisi Suci, dia tahu penyebab dari kondisi wanita itu. "Hem, mungkin dia shock melihat ketiga bawahanku." Batinnya.
Tak lama, dokter keluar setelah pemeriksaan. Zaid segera menghampiri dan mendesak wanita yang mengenakan jas putih. "Apa yang terjadi dengannya?"
"Apa anda suaminya?"
"Katakan apa yang terjadi?" Zaid tak menjawab dan dirasa tidak perlu.
"Ya, aku suaminya. Katakan ada apa?"
"Begini, pasien demam karena mengalami shock, tapi akan hilang seiring waktu. Selamat untuk anda yang akan menjadi seorang ayah!"
"Apa?"
"Istri anda sedang hamil, perkirakan baru berusia tiga minggu. Ini obat dan vitamin untuk menguatkan janin yang berada di dalam perut, minum dengan teratur dan pastikan dia menelannya." Dokter memberikan beberapa obat, menyerahkannya langsung kepada pria bersorban putih. "Saya permisi dulu!"
Zaid termenung beberapa saat, memikirkan Suci yang sedang hamil muda. "Apa dia punya suami? Tapi aku tidak melihat suaminya, apa jangan-jangan dia mengalami kecelakaan?" begitulah yang dipikirkan olehnya.
__ADS_1
Suci membuka mata, melihat sekeliling dan merasa di tempat asing. "Aku dimana?" gumamnya yang menggunakan bahasa Indonesia, memegang kepala yang sedikit berdenyut, ingin turun dari brankar.
Seorang pria menghampirinya, memegang tangan untuk membantu. Suci yang tersadar, segera menjauh, melihat sosok di sebelahnya yang tak lain adalah Zaid. "Diam disana!" Dia mencoba untuk berdiri dan ingin kembali ke penginapan, tapi tangan itu hampir saja menyentuhnya. "Sudah aku katakan, jangan menyentuhku!" tegas melototi pria itu.
Suci tak ingin menimbulkan fitnah karena berada satu ruang dengan seorang pria asing, melupakan kesehatan karena memikirkan anak-anak asuhnya. "Jangan batasanmu, Tuan." Sergahnya memberikan peringatan.
"Kamu masih sakit, istirahatlah!"
"Tidak, anak-anak membutuhkan aku. Tidak seharusnya pria dan wanita berada satu ruangan yang bisa menimbulkan fitnah." Keukeuh Suci yang ingin keluar dari tempat itu.
"Lalu, bagaimana dengan anakmu?"
Suci menghentikan langkah, dia menoleh seraya tersenyum getir. Mengingat kembali masa sakit hatinya bersama sang suami, cukup sulit baginya untuk menerima pengkhianatan. "Apa yang sedang kamu bicarakan?"
"Aku mengatakan sebenarnya, kamu tengah berbadan dua."
"ltu tidak mungkin!"
"Tapi itulah kenyataannya," balas Zaid, dia tidak tahu bagaimana mengekspresikan kejadian ini.
Bulir bening tiba-tiba menetes, ucapan yang membuatnya tak mampu berkata-kata. Penantian selama 8 tahun akhirnya terwujudkan atas izin dari Allah SWT, mengingat dirinya divonis mandul. "Ya Allah…ya Tuhanku, apakah ini jawaban yang engkau berikan?" gumamnya tersenyum haru, mengelus perut yang masih rata dengan sangat lembut.
Zaid hanya diam, tidak mengerti apa diucapkan oleh Suci. "Sepertinya dia sangat senang dengan janin itu, berarti dia sudah mempunyai suami. Tapi kemana suaminya? Suami seperti apa yang membiarkan istri pergi jauh di negeri tidak aman. Inilah salah satu penyebab ku tak ingin menikah," batinnya.
__ADS_1
Suci tersenyum dan pergi dari tempat itu setelah mengucapkan terima kasih, berjalan sembari mengelus perut, tidak sabar menunggu kelahiran sang buah hati.