
Simon yang telah mengganti nama panggilannya tersenyum ke arah sepasang suami istri yang sudah paruh baya, mereka tersenyum dan menyambut kedatangan dari pria bermata biru yang sudah mengucapkan dua kalimat syahadat. Sudah di saksikan oleh beberapa orang yang menyaksikannya dengan suasana penuh haru.
"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Nyai Ainun.
"Saya akan disini dan ingin menggali lebih dalam ilmu mengenai islam, begitu banyak hal agar bisa menjadi pria sholeh dan bisa membimbing istriku kelak." Jawab Zaid yang tersenyum malu seraya mengingat Suci, dia sangat mencintai sikap, tutur, dan budi pekerti dari wanita yang mendebarkan perasaannya di saat dekat.
Pria paruh baya dengan janggut putih nan tipis tersenyum ke arahnya, kesungguhan ingin belajar mengenai hal-hal yang membuatnya sangat takjub.
Seorang wanita cantik membawa dua cangkir teh dari di atas nampan, berjalan menghampiri mereka dan menyuguhkan dengan begitu ramah. "Silahkan diminum," tuturnya yang mempersilahkan, tak lupa dengan senyuman khasnya.
"Mari diminum!" Kyai mempersilahkan dengan ramah, dengan cepat Zaid mengangguk dan menyeruput teh.
"Perkenalkan, dia Aisyah, putriku." Ucap Kyai yang memperkenalkan anak bungsunya.
Zaid menyatukan kedua tangannya di depan dada, tersenyum sekilas dan membuang pandangan sembarang arah.
"Dan Aisyah, ini adalah Zaid, pria yang pernah Abi bicarakan."
Aisyah tersenyum dan menyatukan kedua tangannya di depan dada, mengikuti adab yang dipelajari saat berada di asrama putri.
"Kalau begitu, saya mau pamit dan kembali ke asrama. Assalamu'alaikum," ucap Zaid yang segera pergi dari tempat itu.
Kepergian dari Zaid diperhatikan oleh mereka bertiga, Aisyah diminta untuk bergabung dengan orang tuanya. "Ada apa ya, Abi…Ummi?" tanyanya penasaran.
"Kamu sudah lulus S2 di Turki, apa rencana kamu selanjutnya?" tanya pria berjanggut tipis.
"Aisyah ingin pergi keluar kota, mencari pekerjaan di perusahaan."
__ADS_1
"Kamu itu anak perempuan, sebaiknya menikah saja. Ummi dan Abi akan menjodohkanmu dengan anak Kyai Sobran," putus Ummi Ainun.
"Aisyah tidak mau menikah sekarang, dan ingin bekerja di perusahaan. Aisyah permisi, assalamu'alaikum."
Sepasang suami istri itu menggelengkan kepala, mengingat anak bungsu yang cukup sulit diatur, setiap keinginannya pasti akan dia gapai.
Zaid segera mengeluarkan ponselnya, menghubungi sang asisten untuk menanyakan kabar dari anaknya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa-wa'alaikumsalam. Kamu siapa? Ini ponsel tuan Simon, jangan lancang menggunakannya!"
"Ini aku Simon Albert, panggil aku Zaid."
"Tuan mengucapkan salam?"
"Aku sudah memastikannya, mereka sehat dan aman."
"Alhamdulillah, lakukan pekerjaanmu dengan baik. Tidak lama lagi, aku akan kembali. Tapi sebelum itu, kamu harus mengawasi keadaan dan pergerakan musuh yang mengintai."
"Baik, tapi dimana tuan sekarang berada?"
"Wassalamu'alaikum."
Sambungan telepon terputus secara sepihak, asisten Ben mengangkat kedua alisnya sembari menatap layar ponselnya. "Eh, mengapa tuan Simon berbeda? Tidak biasanya dia mengucapkan salam, diakan Yahudi. Bahkan aku yang islam saja hanya terpampang di kartu tanda penduduk saja, sungguh miris." Racau nya seperti burung beo. "Ah, sudahlah. Sebaiknya aku kembali bekerja dan bertemu dengan Melati, wanita pujaanku."
****
__ADS_1
Suci, Nadia, dan Rasidha pergi ke taman hiburan. Mereka menghabiskan waktu mencoba beberapa wahana yang memanjakan para pengunjung, hanya dengan membayar tiket dapat merasakan beberapa wahana yang dikehendaki.
"Sudah cukup, sebaiknya kita beristirahat. Ibu sudah lelah." Suci segera duduk di kursi yang tersedia, mengipasi wajahnya menggunakan tangan. Nadia juga ikut duduk di sebelah wanita berhijab, melihat dengan seksama dan membandingkan dengan dirinya yang berpakaian terbuka.
"Jangan menatapku saja," celetuk Suci yang sedari tadi menyadari jika wanita di sebelahnya memperhatikannya.
Nadia hanya cengengesan tertangkap basah. "Maaf, aku melihat jika kamu sangat anggun dengan gamis dan juga hijab itu. Sejak kapan kamu memakainya?"
Suci tersenyum dan menoleh, melihat ketertarikan dari wanita di sampingnya. "Sejak aku diadopsi oleh ummi Kalsum, dia yang mengajarkanku tentang menutup aurat.
"Berarti itu pemaksaan?"
"Tidak, melainkan dari hatiku. Sepertinya kamu tertarik dengan gaya busana ku, bagaimana jika kamu juga menutup aurat?"
"Entahlah, apa aku akan terlihat aneh nantinya? Kamu 'kan tahu, bagaimana caraku berpakaian yang terbilang seksi."
"Di coba saja dulu, kamu akan merasakan manfaat dari menutup aurat. Di sekitar sini ada yang berjualan busana syar'i, aku akan mentraktir mu untuk membeli beberapa potong pakaian."
Segera Nadia memeluk Suci, yang tidak pernah merasa malu saat berjalan dengannya. Bahkan kedatangan dari wanita dalam pelukannya membawa dampak besar di kehidupannya.
"Ibu, aku lapar." Celetuk Rasidha yang memegang perutnya.
"Hah, Ibu hampir lupa. Ayo!"
Tanpa mereka sadari, jika beberapa orang tengah mengawasi mereka dari jauh. Segera mengikuti sang target dengan penuh hati-hati, mengingat para pengawal yang juga ikut serta mengawasi dan melindungi mereka. "Mereka menuju restoran."
"Hem, aku akan kesana!"
__ADS_1