
Rasidha sangat senang, dan bahkan dia memberikan sebuah pelukan sebagai upah. Sosok yang dirindukan olehnya terbantu saat pertemuan di toko roti milik ibu angkatnya. "Terima kasih, Bu. Kue dan rotinya sangat enak," pujinya dengan wajah tersenyum mengembang.
"Benarkah?"
Dengan cepat Rasidha menganggukkan kepala, dia sangat menyukai kue dan juga roti di sana dan tidak kalah dengan toko roti yang yang terkenal.
"Jika Rasidha suka, Ibu akan membungkusnya lagi, bagaimana?" tawar Suci dengan raut wajah tulus.
"Benarkah? Aku mau, Bu. Kue coklat lumer," ujar Rasidha yang sangat menyukai rasa coklat.
"Baiklah, tidak boleh makan terlalu banyak. Apa gigi yang indah itu berlubang?" goda Suci.
"Tidak, aku tidak mau kue ataupun roti lagi. Bagaimana jika gigiku rusak?" tolak Rasidha yang segera menutup mulut menggunakan kedua tangannya.
"Makan sewajarnya dan jangan lupa gosok gigi."
"Baiklah, apapun perkataanmu Bu."
"Anak pintar," Suci mengelus rambut gadis kecil itu dengan lembut, tingkah yang terlihat sangat menggemaskan. Hingga dia menyadari, ada dua pasang mata yang sedari tadi menatapnya melihat interaksi yang terjalin. "Apa ada yang salah?"
"Tidak," sahut kedua pria yang menggeleng, sementara Rasidha tertawa melihat tingkah konyol dua pria dewasa, walaupun dia tidak tahu bahasa mereka.
"Kenapa Rasidha tertawa?" tanya Suci mengerutkan kening.
__ADS_1
"Karena mereka sangat lucu," sahut Rasidha dengan polos dan kembali melanjutkan tawanya.
"Ibu tidak bisa berlama-lama," ucap Suci yang kembali mengusap rambut ikal dari gadis kecil itu.
Seketika Rasidha membeku, dimana dirinya sangat sedih jika harus berpisah lagi. "Kenapa cepat sekali?"
"Ada hal yang tidak bisa ditinggal, dan Ibu tidak bisa berlama-lama."
"Baiklah." Rasidha menundukkan kepala karena rasa sedih, wajah yang murung membuat Suci dan Zufar tak tega, tapi mereka harus pergi.
Zaid yang mengerti akhirnya memilih duduk bersama dengan putrinya, berusaha menenangkan dan juga memberi pengertian. "Tidak boleh bersikap seperti itu, ibu Suci mempunyai urusan lain. Kita bisa mengunjunginya di sini dan sekaligus menikmati kue dan roti kesukaan Rasidha, bagaimana?"
"Baiklah, aku mengerti."
"Ayo, Sayang." Zufar menggandeng tangan istrinya dengan sangat lembut, meninggalkan kesan rasa cemburu di hati Zaid atau Simon.
"Apa yang kamu pikirkan, Simon. Dia adalah istri dari pria itu, jangan mencoba untuk merebutnya demi keuntungan dirimu sendiri!" batin Zaid yang berusaha menguatkan hatinya untuk tidak menjadi perebut istri orang. "Sudahlah, bagaimana jika kita pergi saja." Bujuknya agar gadis kecil itu menghentikan kesedihan.
"Kemana?" Rasidha sangat tertarik, menghabiskan sedikit waktu dengan ayah angkatnya.
"Ke taman bermain."
"Apa Ayah lupa?" cetus Rasidha memukul keningnya pelan.
__ADS_1
"Apa…apa yang Ayah lupakan?" Zaid pura-pura melupakan bagaimana reaksi para ibu-ibu yang mengerubungi nya saat menemani sang putri di taman bermain, hal itu malah membuat Rasidha sangat kesal karena sang ayah buru-buru membawanya pulang.
"Apa sekarang sudah ingat?" ucap Rasidha yang sedikit jengkel.
"Hah, benar juga. Ayah melupakannya, demi memenuhi keinginan tuan putriku. Ayo katakan, Rasidha mau kemana hari ini?"
"Bagaimana jika kita bermain game di rumah, itu sangatlah menyenangkan. Terakhir kali aku gagal dan kali ini tidak akan aku biarkan Ayah menang." Rasidha kembali tersenyum dan melupakan kesedihannya, menyukai pria yang menjadi Ayah angkatnya.
"Sesuai permintaan tuan putri, ayo! Tapi sebelum itu, kita ambil kue pemberian ibu Suci dulu." Tutur Zaid yang semangat, membuat Rasidha sangat antusias.
Di sisi lain, Suci sedih harus berpisah dengan gadis kecil yang sangat menggemaskan di matanya. Tapi, dia ingin menghabiskan waktu bersama sang suami yang membutuhkannya hari ini. "Maafkan ibu, Sayang. Tapi, di lain waktu ibu akan membawamu jalan-jalan." gumamnya di dalam hati.
"Kita mau kemana?" celetuk Zufar yang snagat bersemangat menikmati momen kebersamaan mereka.
"Kemana saja."
"Bagaimana jika kita ke taman bermain, pasti sangat menyenangkan jika menaiki beberapa wahana di sana. Terakhir kali, aku melakukannya di saat masih kecil." Zufar sangat bersemangat ingin mengulang masa kecilnya, entah mengapa dia mau melakukan hal yang dulu sangat tidak dia sukai.
"Baiklah, tapi bagaimana dengan kondisi Mas? Aku sangat cemas memikirkannya," terlihat guratan kegelisahan di hati Suci, tidak yakin untuk mengabulkan keinginan sang suami.
"Sayang…lupakan itu, aku tidak ingin kamu melarang ataupun bersedih. Jangan memperlihatkan air mata yang membuatku lemah, itu sebabnya aku merahasiakannya." Jujur Zufar yang tak ingin melihat bulir cairan bening di pelupuk mata sang istri.
"Baiklah Mas, maaf."
__ADS_1
"Hem," Zufar menganggukkan kepala, segera menyeka air mata yang amat berharga baginya.