
Zufar dan Suci kembali ke rumah mereka setelah melakukan aktivitas seharian di luar, menambah kesan dan juga momen di antara keduanya agar semakin dekat satu sama lain. Mereka begitu bahagia, bisa menghabiskan waktu bersama, mengulang masa lalu dengan hal-hal yang sederhana.
Sesampainya di rumah, Zufar segera menuju ke ruang kerja. Dia ingin Suci tidak mengetahui rasa sakit yang dia hadapi saat ini, apalagi kepala yang masih saja terasa sakit membuat dirinya tidak bisa berjalan dengan benar. Bahkan, beberapa kali terjatuh saat menuju ke ruang kerja. Memegang kepala yang terasa sangat sakit, hanya menanggung rasa pedih sendirian dan tidak ingin merepotkan orang lain.
"Ini sakit sekali, apakah aku akan tiada hari ini?" batin zufar.
Dia segera meraih ponsel yang ada di saku celana, menghubungi sang asisten untuk segera datang ke rumah, hanya pria itu yang bisa diandalkan saat ini. Membuka layar ponselnya, dan mencari nomor kontak yang tertera, tak lama telepon itu tersambung.
"Halo,"
"Iya tuan, ada apa?"
"Segera datang ke rumah, karena penyakitku kembali kambuh. Jangan ada yang tahu mengenai alasanmu datang, jika ada yang bertanya, katakan saja Ini masalah kantor dan harus diselesaikan!"
"Mengapa tuan melakukan itu? Apa tuan tidak ingin mengatakannya kepada nona Suci mengenai hal itu? "
__ADS_1
"Lakukan saja apa yang aku perintahkan, dan Jangan banyak bertanya!"
"Baik tuan, laksanakan!"
Zufar segera memutuskan sambungan telepon, karena melihat seorang wanita cantik yang mantap mengenakan hijab tengah menghampirinya, dengan segelas susu dan juga beberapa obat. Dia tersenyum melihat bidadari dunia, wajah cantik yang membuat hatinya menjadi luluh. "Mengapa kamu datang? Aku curiga jika istriku ini ingin memaksaku untuk meminum obat itu." Ucapnya dengan penuh penyelidikan, sengaja menyipitkan kedua mata untuk melihat kebenaran.
Suci tersenyum dan mengangguk kepalanya dengan pelan. "Itu benar, ini sudah waktunya untuk minum obat. Tadi pagi, dan juga siang Mas belum minum obat sama sekali, dan jangan menolaknya untuk malam ini."
senyum yang mengembang di wajah Zufar seketika memudar, saat mendengar perintah untuk meminum obat. Padahal dia sangat bosan dengan rasa obatnya yang begitu pahit. "Jangan hari ini! Aku tidak membutuhkan obat itu, untuk apa aku meminumnya jika umurku juga akan divonis hidup hanya kurang dari enam bulan."
"Jangan begitu Mas, mau bagaimanapun juga kita harus berusaha. Jangan patah semangat untuk kesembuhanmu, mengenai vonis dokter itu belum juga pasti. Dokter bukanlah Tuhan yang mengetahui ajal seseorang, jadi jangan terlalu berpatokan pada ucapannya."
Suci bersikap sabar dengan kekanak-kanakan dari suaminya, padahal dia hanya ingin yang terbaik untuk kesembuhan. Berharap masih ada celah untuk tetap hidup, dan tidak mempercayai ucapan dokter apalagi dengan vonis tak akan bertahan kurang dari enam bulan. Dia perlahan mendekati suaminya, memegang kedua tangan Zufar dengan sangat lembut, memberi rasa ketenangan dan kekuatan untuk menjalani hidup dan semangat yang menggebu-gebu.
"Aku hanya ingin Mas sembuh, lakukan ini hanya untukku!" bujuk suci yang membuat Zufar tak tega. Dia segera mengulurkan tangannya, dan dengan senang hati wanita berhijab itu memberikan beberapa pil dan juga tablet.
__ADS_1
"Lihat! Aku sudah meminumnya, apa kamu sudah puas sekarang?"
"Sangat puas, sebaiknya kita ke kamar dan beristirahat!"
"Kamu beristirahat saja, karena sebentar lagi asisten Doni akan menuju kemari, hanya ingin menandatangani beberapa berkas yang tidak bisa diwakilkan." Ungkap Zufar yang tersenyum menutupi kebohongannya.
Sedangkan Suci mengerutkan kening, karena tak mengerti mengapa pria dan sebagai asisten suaminya itu datang ke rumah malam-malam. "Mengapa dia datang ke rumah kita, apa tidak ada hari esok?" tanyanya dengan penuh curiga.
Sebenarnya Zufar sangat gugup, tetapi dia tidak ingin jika wanita di hadapannya mengetahui hal itu. "Ini mendadak dan juga terdesak, masalah kantor benar-benar sedikit menyulitkanku. Tidur saja dulu, nanti aku menyusul!"
Suci hanya menganggukkan kepala mematuhi ucapan dan perkataan dari suaminya. tak lama terdengar suara bel pintu. "Sepertinya itu asisten Doni, aku akan membuka pintu terlebih dulu dan baru tidur di kamar," ungkapnya.
"Tidak perlu! Aku akan meminta pelayan untuk membukakan pintu, sebaiknya kamu masuk ke kamar. Pasti sangat kelelahan, setelah seharian menghabiskan waktu bersamaku."
Suci sedikit curiga, ada kejanggalan yang terasa di hati. Namun dia tidak ingin berpikiran negatif kepada suaminya, menaruh harapan dan juga kepercayaan kepada pria itu. "Baiklah, jika butuh bantuan segera hubungi aku!"
__ADS_1
"Tentu saja, beristirahatlah. Ini tidak akan lama."
Zufar menghela nafas dengan lega, berhasil membuat alasan logis agar sang istri tidak mencurigai nya. "Maafkan aku yang tidak jujur padamu, hanya terpaksa karena ketidakberdayaanku," liriknya dengan raut wajah yang sedih.