Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 61 - Bos vs asisten


__ADS_3

Zufar sangat kesal jika di kerjai oleh bawahannya sendiri, kali pertama di saat dia sakit di manfaatkan oleh asisten Doni. "Apa kamu sudah bosan hidup, hah?" sarkasnya kembali melempar bantal kecil di sofa yang berhasil ditangkap oleh bawahannya.


"Kali ini Tuan tidak bisa melemparku," tutur asisten Doni yang sangat senang, sedangkan Zufar mengumpat pria itu.


"Ck, kamu hanya memanfaatkan situasi ku yang lemah." Ucap Zufar yang berusaha untuk sabar. 


Asisten Doni menahan tawa, dia tahu jika atasannya itu pasti mematuhi istrinya. "Dulu Tuan selalu menyulitkan aku, apa salahnya aku bersikap seperti tadi." Sahutnya dengan enteng.


Zufar yang tidak bisa menerima kejahilan asistennya, mengambil berkas yang masih tergeletak di atas meja. Hendak melayangkan berkas menargetkan kepala sang bawahan, ingin membalas pria itu dengan dua lagi pukulan saja. 


"Ehem, Mas mau apakan berkas itu?" tanya Suci yang menatap suaminya dengan menyipitkan kedua mata. 


Pupus sudah harapan dari Zufar yang ingin membalas, aksi dan niatnya telah diketahui sang istri. "Sayang, kamu di sini?" dia segera meletakkan berkas itu diatas meja seperti semula.


"Apa yang Mas lakukan dengan berkas itu?" tanya Suci yang sekali lagi membuat Zufar gugup.


"Tentu saja ingin memukulku dengan berkas itu, apa Nona tidak tahu? Tuan Zufar selalu saya menyiksaku, padahal aku tidak ada masalah apapun dengannya." Asisten Doni semakin tertarik untuk menyudutkan atasan yang selalu saja menyulitkan hidupnya saat di kantor, apa salahnya jika dia membalas di hadapan sang istri bos? Itulah yang ada di benaknya.


"Berani sekali kamu menjelekkanku!" tukas Zufar yang melirik asistennya dengan tajam.


"Nona bisa melihatnya sendiri, aku bawahan yang selalu di dzolimi. Beginilah nasib bawahan yang hanya patuh akan perintah," asisten Doni memasang raut wajah memelas, akting yang sangat bagus dan pengambilan sudut masalah yang pas. 


"Mas," panggil Suci dengan lembut, wajah yang tersenyum membuatnya sedikit merinding. 

__ADS_1


"Aku sangat lapar, buatkan aku makanan." Dengan cepat Zufar mengalihkan topik pembicaraan.


"Baiklah, akan aku buatkan. Apa asisten Doni juga mau aku masakkan?" tawar Suci yang tersenyum sekilas.


"Wah, kebetulan aku la__."


"Tidak perlu! Sebelum berkunjung kemari, dia sudah makan." Sela Zufar yang tak ingin jika sang istri membuatkan makanan untuk pria lain.


"Hah, begitu. Baiklah, aku ke dapur dulu!"


"Hem," sahut Zufar menganggukkan kepala, sedangkan asisten Doni yang mengelus perut. 


"Dasar bos lucknut, padahal aku belum makan." Gerutu asisten Doni di dalam hati.


"Berhentilah mengumpat ku!" kesal Zufar.


"Dasar bodoh, kamu menemaniku sudah bertahun-tahun dan tentu saja mengetahui sifatmu luar dan dalam." Jelas Zufar yang hanya di anggukkan kepala oleh asisten Doni.


"Ada hal yang ingin aku katakan, Tuan."


"Katakan saja, aku akan mendengarnya!" 


"Tuan Mirza kembali berulah, mengacaukan perusahaan!"

__ADS_1


"Anak itu selalu membuatku naik darah, aku yang akan mengurusnya nanti."


"Hem."


****


Rasidha sangat bahagia, bahkan senyum di wajah cantiknya tidak pudar sedikitpun. Membaca kartu nama yang diberikan oleh wanita cantik juga berhijab, wajah yang mirip dengan ibu kandungnya. "Ibu Suci mempunyai kemiripan dengan ibu, andai ibuku masih disini dan kami masih bersama, pasti sangat menyenangkan." Wajah yang cemberut dan sedih mengenang nasib kedua orang tuanya yang dibunuh oleh salah satu tentara Israel.


Sepasang mata memperhatikan itu dari sela pintu, melirik nampan yang berisi segelas susu dia urungkan saat mendengar kesedihan dari gadis kecil. Simon yang berubah penampilan mengenakan sorban jika di hadapan semua orang, kecuali asisten Ben. Timbul di pikirannya mengenai kesalahan yang pernah membunuh kedua orang tua anak angkatnya, bahkan tak sadar air mata ikut menetes. "Karena kekejamanku, kedua orang tua Rasidha meninggal." Batinnya sembari membuka sebelah telapak tangannya. 


Memperhatikan telapak tangan yang menjadi saksi bisu kekejamannya yang menembak, menyiksa, membantai, dan juga membunuh orang tak bersalah. 


"Ayah!" panggil gadis di dalam kamar yang telah menyeka air mata, Zaid alias Simon datang menghampiri putri angkatnya dengan raut wajah senyum, menutupi kesedihan yang sangat dia sesali. 


"Minumlah susunya selagi hangat," Zaid memberikan segelas susu kepada gadis kecil yang segera meraih dan meminumnya hingga habis.


"Sudah aku habiskan," sahut Rasidha yang tersenyum.


"Maafkan Ayah yang jarang punya waktu untuk Rasidha," Zaid mengelus lembut kepala putrinya dan tersenyum.


"Tidak masalah, aku tidak apa-apa."


Zaid melirik kartu nama yang ada di tangan putrinya. "Itu milik siapa?" tanyanya yang penasaran. 

__ADS_1


"Ini kartu nama milik ibu Suci, dia memberikannya sebelum pergi." Jelas Rasidha yang sangat antusias.


Zaid melihat kartu nama dan mengetahui lokasi juga nomor ponsel Suci, membuatnya tersenyum tipis.


__ADS_2