Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 43 - Dimana Rasidha ku?


__ADS_3

Zufar sangat bahagia, bahkan senyum di wajahnya terpancar di ruangan kerjanya. Memainkan pulpen sambil memikirkan kerja sama dengan perusahaan SA Group, bahkan dia sangat beruntung bertemu dengan pimpinan dari perusahaan itu secara langsung. 


Terdengar ketukan pintu, mengalihkan perhatiannya ke asal suara. Melirik sang asisten agar membuka pintu, dengan cepat kaki tangan itu menjalankan sesuai perintah. Terlihat seorang wanita yang berpakaian syar'i, tersenyum sekilas dengan asisten Doni. "Mas Zufarnya ada?" 


"Ada Nona."


"Siapa yang datang?" celetuk Zufar sembari memutarkan kursinya, tersenyum mengembang saat menatap wajah cantik sang istri. "Jangan berdiri saja, ayo duduklah!" titahnya sembari menghampiri Suci, dan membantunya. Dia melirik sang asisten dengan tajam, karena pria itu tak becus. "Apa kau tidak tahu jika wanita cantik ini adalah istriku, seharusnya kau menyambut dan membiarkannya masuk, bukan membiarkannya menunggu di luar." Hardiknya yang memberikan tatapan isyarat kepada sang asisten, agar meninggalkannya bersama dengan sang istri.


"Sudah aku bilang, jangan terlalu capek dan juga repot mengantarkan makanan. Jaga kesehatanmu, demi baby boy kita." Celetuk Zufar sembari tersenyum mengelus perut rata suaminya. 


Senyum Suci memudar, Zufar tidak tahu betama menyakitkan jika pria itu masih saja membandingkan anak yang berkaitan dengan jenis kelamin. Hati kecilnya begitu terluka, bagaimana jika anaknya nanti perempuan? Apakah sang suami tidak menerima bayi itu? Namun, dia hanya diam saja. 


"Mengapa kamu diam? Apa vitaminnya juga sudah diminum?" tanya Zufar yang sangat antusias dan bersemangat. 


Segera tangan meraih rantang kecil yang berisi masakan yang di buat khusus untuk sang suami, rela mengantarkan ke kantor. Dia membuka tutup yang menyebabkan uap menyebar mengenai hidung, makanan yang sangat lezat tersaji di depan mata. "Harusnya kamu tidak perlu memasak, banyak pelayan yang bisa membantumu. Paling tidak aku bisa membelinya di luar, itu tidak akan membuatmu repot."


Suci berusaha untuk tersenyum. "Tidak apa-apa Mas, aku masih sanggup memasak untukmu."


"Hem." Zufar segera melahap makanan yang sangat lezat, memanjakan lidah di saat perut keroncongan. Selama delapan tahun menikah, dia jarang membeli atau memesan makanan di luar. Bahkan, dia mengingat dn menghafatlnya dengan sangat baik, bagaimana setiap masakan dari istri sholehahnya. Walaupun dia harus memilih piring dengan masakan orang lain, hanya menutup mata dan mencicipi sedikit dia pasti tahu benar masakan Suci.


"Bagaimana Mas?" 


"Seperti biasanya, sangat lezat."


Suci tersenyum, senang mendengar ucapan Zufar yang menyukai masakannya. "Oh ya, aku menggunakan begitu banyak uang." Dia mengeluarkan kartu atm yang pernah di berikan oleh sang suami, rasa penyesalan sedikit mempengaruhinya.

__ADS_1


"Mengapa di kembalikan?" tanya Zufar yang mengangkat sebelah alisnya.


"Aku takut jadi istri yang boros."


Zufar meneguk air yang berada di dalam gelas, membantu agar nasi cepat masuk ke dalam. "Hanya itu?"


"Hem."


Zufar terkekeh, mengingat penghasilannya yang sangat besar. Bahkan uang di dalam kartu atm belum ada apa-apanya, menyukai kepribadian istrinya yang sederhana. Segera mengeluarkan dompet dari saku celana, terlihat begitu banyaknya kartu yang tersusun disana. Dia mengambil tiga buah kartu, dan menyerahkannya pada Suci. "Ambillah semua itu, kamu istriku dan berhak dengan uang itu."


Suci malah melongo, berniat untuk mengembalikannya, malah bertambah tiga kartu dengan nominal yang besar yang tersimpan di dalam. "Mas!"


"Iya Sayang, simpan saja."


Sebenarnya Suci enggan untuk mengambilnya, tapi perkataan sang suami membuatnya kembali berpikir dan mengambilnya. "Ini kebanyakan."


"Hem, baiklah." Suci kembali melihat empat kartu di tangannya, bingung untuk apa dia akan mempergunakannya.


Selesai makan, Suci berpamitan pada suaminya untuk ke toko yang hampir selesai di dekorasi. 


Di dalam mobil, Suci hanya termenung sambil melihat suasana di luar jendela mobil. "Mas Zufar merupakan pria idaman yang baik, hanya satu kesalahannya yang tidak peka dan tidak memahami perasaanku." Batinnya.


Terlintas di otak untuk menelepon sahabatnya yang masih menjadi relawan di palestina, sangat merindukan wanita yang sudah dianggap saudara. 


"Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, Suci?"


"Iya, ini aku. Bagaimana kabarmu?" 


"Aku baik, dan bagaimana denganmu?" 


"Alhamdulillah, aku baik. Aku sangat merindukanmu dan juga Rasidha, bagaimana kabar gadis kecil itu?" 


"Dia tidak ada di sini?"


"A-apa maksudmu?" 


"Tuan Zaid mengadopsinya dan membawanya pergi dari sini, aku sangat kehilangan Rasidha. Tapi, sayangnya aku tidak bisa menghubungi ataupun mengetahui kabarnya."


"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku?"


"Begitu banyak pekerjaan disini, dan aku melupakannya. Maafkan aku!"


"Apa kamu tahu dimana mereka berada?" 


"Aku tidak tahu alamat pastinya, hanya saja mereka pergi ke Indonesia."


"Baiklah, aku akan menghubungimu nanti."


Suci segera memutuskan sambungan telepon, sangat mencemaskan keberadaan Rasidha yang sangat dirindukan. Entah merasa senang mendengar kata Indonesia atau sedih karena cukup sulit menemukan keberadaan mereka. 

__ADS_1


"Dimana Rasidha ku?" gumamnya yang sedih.


__ADS_2