
Zaid ingin menghampiri asisten Doni yang berada di Kairo, tetapi panggilan yang ada di ponselnya menghentikannya itu. Karena anaknya menghubungi dan mengatakan jika Suci telah sadarkan diri, dia segera pergi ke rumah sakit menjenguk wanita yang menjadi separuh jiwanya.
Zaid mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh menuju ke rumah sakit, untuk menjenguk keadaan Suci yang sudah siuman. Dia berlari dan masuk ke dalam bangsal, melihat dua orang wanita yang mengelilingi wanita yang tidur di atas brankar. Tapi sebelum itu, dia telah menutupi wajahnya menggunakan sorban agar tidak ada yang tahu.
Suci dan Zaid saling menatap satu sama lain, namun dengan cepat mereka menunjukkan pandangan agar tidak menimbulkan fitnah. "Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik, ada yang ingin aku bicarakan padamu." Ucap Suci yang melirik Nadia, memberikan isyarat agar keluar dari ruangan membawa Rasidha, tapi tidak menutup pintu.
Zaid sangat gugup, dia ingin menjelaskan segalanya, tidak tahu apa yang akan dimulainya untuk membuka pembicaraan diantara mereka. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk menipumu ataupun Rasidha. Tidak menyangka jika kamu tahu tentangku dari mulut orang lain, sebenarnya aku ingin mengatakannya dan menunggu waktu yang tepat. Sekarang semuanya malah terbongkar seperti ini," ucapnya pelan yang masih berdiri dengan jarak.
"Aku tahu, asisten mu sudah memberitahu ku dan menjelaskan segalanya."
"Hanya kamu yang mengetahui wajahku selain Felix dan juga asisten Ben, aku tidak ingin kamu memberitahu Rasidha. Biarkan aku yang menjelaskannya dan menunggu hari itu tiba, bukan sekarang." Terang Zaid.
"Siapa aku? Aku tidak pantas mencampuri urusanmu dan tidak mempermasalahkannya. Aku bersikap berlebihan, aku minta maaf." Ucap Suci dengan tulus.
"Aku juga sudah memaafkanmu."
"Aku pikir kamu marah padaku," ujar Suci yang mengalihkan pandangannya sembarang arah.
"Tidak, aku menghilang ingin mencari pembenaran dari agama islam. Aku menuntut ilmu di pesantren mengenai dasar-dasar islam, dan sekarang aku sudah memeluk keyakinan itu." Zaid tersenyum di balik sorbannya, hidayah yang didapat saat putri angkatnya melantunkan ayat suci Al-Qur'an.
"Masya Allah, aku sungguh terkesan dengan keteguhan hatimu. Semoga tetap istiqomah dalam menjalankan perintah Allah, aku turut bahagia mendengarnya." Puji Suci yang tersenyum lebar.
"Jangan memanggilku Simon, aku lebih nyaman kamu memanggilku dengan nama Zaid."
__ADS_1
"Baiklah, sesuai permintaanmu. Tidak baik berlama-lama berduaan di tempat ini, panggil saja Nadia dan juga Rasidha."
"Hem, aku akan keluar dari sini. Jaga dirimu!"
"Hem."
Zaid segera keluar dari ruang itu dan kembali menghubungi asisten Ben yang masih memantau kecelakaan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, tuan."
"Bagaimana? Sudah mendapatkan tubuh mayatnya?"
"Pastikan jika itu tersangka, aku tidak ingin mengambil resiko yang lebih besar dari kelalaianmu."
"Baik, tuan."
****
Sementara di sisi lain, Umi Kalsum membawa putrinya untuk kembali ke Indonesia. Mereka merasa bersalah dan bahkan tidak tahu kabar dan penderitaan yang dialami oleh Suci. Asisten Doni membantu dua orang yang telah berjasa, mencurahkan kasih sayang kepada adiknya, Intan.
Umi Kalsum menyesal dengan perbuatannya yang tidak mengerti hati Suci yang sesuci salju, dan malah menyalahkannya.
"Apa keadaan Suci baik-baik saja?" tanya umi Kalsum yang mendongakkan kepala menatap asisten Doni.
__ADS_1
"Umi Tidak perlu cemas, Suci sudah melewati masa kritisnya, dan aku sangat yakin jika sekarang dia sudah sadarkan diri. Dua puluh delapan tahun, selama itu pula aku kehilangan adikku. Dan selama hampir sembilan tahun dia ada di dekatku, tapi aku tidak menyadarinya. Ungkap asisten Doni yang tidak sabar ingin menemui adiknya.
Asisten Doni telah memesan tiket untuk tiga orang, tentu saja mengambil penerbangan pertama. Dia tidak ingin menunda hal baik lagi, dan ingin memeluk adiknya.
Keesokan harinya, Suci masih ditemani oleh Rasidha yang sigap dan bahkan sengaja ambil cuti libur di taman kanak-kanak. "Ayo, masih tersisa sedikit lagi. Ibu harus makan!"
"Tidak, Ibu sudah kenyang dan tidak sanggup untuk menampung semuanya."
"Buka mulut ibu, aku akan menyuapimu, Bu." Bujuk Rasidha.
"Jangan dipaksa, atau ibu akan muntah."
"Tapi__."
"Wah, sepertinya Rasidha merawat Ibu Suci dengan sungguh-sungguh ya," goda Zaid yang masuk ke dalam setelah mengucapkan salam, membawa beberapa kantong kue dan juga buah segar yang diberi oleh Melati.
Melati sangat terkejut dengan kabar kecelakaan yang dialami oleh sahabatnya, keadaanlah yang tidak mengizinkan dia pergi dan hanya bisa menitipkannya pada Zaid.
"Aku mencium aroma kue," tutur Rasidha yang mengejar dan meraih paper bag, dia meraihnya dari tangan sang Ayah dan hendak menyuapi Suci. "Ibu yang pertama memakannya."
"Tidak, Ibu sudah kenyang. Makan saja!"
"Baiklah."
Mereka bercengkrama dengan hangat, hingga terdengar suara yang sangat dirindukan oleh Suci.
__ADS_1