
Pertemuan yang terjadi di rumah sakit membuat semua orang terharu, apalagi Suci yang ternyata mempunyai kakak kandung yang selama ini ada di dekatnya. Perjalanan yang begitu berliku dia rasakan di saat awal menikah, dan begitu banyak ujian lainnya yang harus bisa dilewati dengan ikhlas.
Zaid menghampiri semua orang yang tengah bergembira itu, berdehem dengan keras agar Suci dan Doni bisa menjauh, dan tidak berdekatan seperti itu membuat darahnya hampir mendidih dia melirik asisten Doni dengan tetapan sengit. Pria itu bagaikan lawannya yang harus dia tumbangkan.
"Bukankah Islam mengajarkan jika perempuan dan laki-laki tidak boleh berdempetan seperti ini?" cetusnya yang menatap Suci dan Doni secara bergantian.
"Apa ada masalah denganmu?" Doni menatap pria bermata biru dengan sarkas, dia tahu maksud dan tujuan dari pria itu yang menyukai adiknya.
"Aku hanya memperingatkan saja, dan itu terserah kalian." Sahutnya dengan santai.
Suci tersenyum sembari tersenyum. "Dia bukan orang lain, dia kakak kandungku." Jelasnya yang membuat Zaid malu.
"Eh, bukankah kamu tidak punya kakak?"
"Dia adikku, aku tahu kamu menyukainya dan bahkan memutuskan untuk menjadi mualaf."
"Kamu mengawasiku?" Zaid sangat terkejut dengan pria di depannya, dia cukup kagum mengenai kualitas diri Doni.
"Anggap saja aku mengetahuinya."
__ADS_1
"Apa? Dia menyukaiku?" tanya Suci yang terkejut menatap pria yang masih mengenakan sorban.
"Hem, cara dia menatapmu. Aku tahu segalanya, dia mencintaimu." Ucap Doni yang menjawab pertanyaan dari adiknya.
Zaid sangat malu dengan apa yang dikatakan oleh Doni, di satu sisi pernyataan cintanya tercium oleh pria itu.
"Ayolah Kak, disini masih anak di bawah umur." Tutur Suci yang memperingati Doni.
"Apa Ibu menyukai Ayah? Aku ingin Ibu dan ayah bersama," pinta Rasidha yang sedikit memahami ucapan para orang dewasa.
Hal itu membuat Suci dan Zaid bersemu merah, karena mereka mendapatkan desakan dan juga tekanan untuk hidup bersama. Suasana di dalam bangsal membuat mereka bersemangat untuk mendukung hubungan keduanya.
Zaid berjalan menghampiri Suci, dia cukup gugup karena ini pertama kali terjadi padanya. "Aku tidak bisa merangkai kata-kata untuk mengungkap cintaku saat pertama kali bertemu. Perasaan yang semakin membesar di saat pertemuan temuan kedua kita di Palestina, bahkan takdir seakan menuntun kita untuk bertemu lagi di Indonesia. "Aku ingin ta'aruf denganmu, dan mengkhitbahmu. Aku ingin mempersuntingmu, demi anak angkat kita. Maukah kamu menikah denganku?" ucapnya yang memperlihatkan kotak kecil yang berisi cincin yang sudah lama dia persiapkan.
"Bagaimana Nak? Apa kamu menerima lamaran dari Zaid?" umi Kalsum menyentuh pundak Suci, menyerahkan keputusan kepada anaknya itu.
Suci sangat terkejut dengan lamaran yang begitu mendadak, memperhatikan semua orang yang hadir. Terutama kepada Rasidha yang begitu mendambakan kehidupan dengan keluarga kecil mereka. Dia menarik nafas dalam dan mengeluarkan secara perlahan. "Bismillahirohmanirohim, aku menerima lamaran ini dan bersedia taaruf denganmu."
"Alhamdulillah," sahut semua orang yang tersenyum bahagia.
__ADS_1
Zaid ingin menyematkan cincin berlian di jari manis Suci, namun hal itu dicegat oleh Doni. Karena dia tidak mengijinkan pria lain untuk menyematkan nya. "Biar aku saja."
Zaid sebenarnya kesal, namun tak berdaya mengingat pria yang mencegahnya merupakan menjadi kakak iparnya. "Sabar," gumamnya di dalam hati sembari mengelus dada, sementara yang lainnya tertawa.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya umi Kalsum dengan spontan, sangat bersemangat menunggu hari H pernikahan sakral.
"Itu tidak bisa dilakukan dengan cepat Umi," jawab Doni membuat umi Kalsum mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Karena calon menantu Umi belum di sunat." Bisik Doni.
"Astaghfirullah…ya Allah. Berikan hamba ketabahan untuk menghadapi sikap calon kakak ipar. Aamiin." batin Zaid yang berdoa.
Sementara Suci tersenyum dengan kebahagiaan yang terpancar pada semua orang. Dia sangat berharap, jika kehidupan berumah tangga dengan mantan komandan militer Israel bisa sejalan dengannya, menciptakan sakinah mawaddah dan warohmah.
"Hore…ibu Suci akan tinggal denganku," sorak Rasidha yang mendapatkan kebahagiaannya.
Suci dan Zaid menutupi rahasia besar mengenai orang tua Rasidha, dan akan menutup rapat. Mereka hanya menginginkan untuk masa depan, tanpa harus melihat di masa lalu.
__ADS_1
SEKIAN..