Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 34 - Luntur


__ADS_3

Sejuknya udara dipagi hari, ditambah dengan tiupan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Duduk didekat jendela, merasakan semuanya dengan menutup mata. Menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, merasakan embun pagi yang menyentuh kulit. 


Cukup lama dia melamun, memikirkan apa yang sudah terjadi tidaklah benar. Rambut yang terurai panjang hingga sepinggang, menyisir dan mengepangnya. 


Di dalam kamar, dia melepas hijab yang selalu terpasang. Terkadang melepaskan ikat rambut dan membiarkannya tergerai, rambut hitam, panjang, dan juga lebat karena dirawat dengan sangat baik. Selesai mengepang, Suci menggunakan kerudung panjang hingga sepinggang, tak lupa dengan gamis yang sudah melekat di tubuhnya. Kesunyian pagi yang masih terasa, semua orang lebih memilih untuk melanjutkan tidur, tapi tidak baginya yang tidak terbiasa setelah sholat subuh. 


Hingga terbesit di pikiran mengenai nasi kangkang yang dibuat oleh Siska, sangat penasaran mengenai hasilnya. Suci memutuskan untuk keluar kamar dan menuju dapur, mengintip di sela-sela pintu. "Untung saja aku sudah menggantinya," pikirnya di dalam hati.


Seseorang menepuk bahunya membuat Suci tersentak kaget, takut jika dia ketahuan sudah mengintip aktivitas yang dilakukan Siska. Dengan cepat dia menoleh dan bisa tersenyum lega saat melihat ibu mertua nya, memberikan isyarat untuk menanyai apa yang dilakukan menantunya. 


Suci meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, menunjuk Siska yang tengah menyajikan makanan untuk Zufar. Tini melihatnya dan segera menarik tangan sang menantu, membawa pergi takut akan ketahuan. 


"Apa yang kamu lihat?" bisik Tini menuju kolam renang.


"Dugaan Mama dan Mirza itu berdasar, Siska mengotori makanan mas Zufar." Lapor Suci yang sangat khawatir.


"Kapan dia membuatnya?" 


"Aku melihatnya di saat semua orang tertidur."


"Astaghfirullah'aladzim, begitu liciknya dia menghalalkan segala cara untuk tujuan pribadinya."

__ADS_1


"Tapi Mama tenang saja, aku sudah mengganti nasi itu dengan yang baru. Kita lihat bagaimana reaksi dari mas Zufar nantinya," terangnya. 


"Kamu yang tegar ya Sayang, kita hadapi pelakor itu sama-sama. Jangan menyerah, dan insya allah Zufar akan kembali mencintaimu." Tini memeluk menantunya dengan erat, keputusan untuk menginap di sana sudah tepat. Dia tidak ingin jika wanita yang baik akhlak seperti Suci terlepas untuk kedua kalinya, walaupun wanita itu tak menjadi istri Mirza. 


"Insyaallah, Ma." Suci tersenyum dan membalas pelukan hangat itu.


Mereka melepaskan pelukan, dan saling tersenyum haru. "Masih ada orang yang menerima keberadaanku," batinnya. 


Suci mengarahkan pandangannya pada pria yang menatap ke arah mereka, tersenyum menyambutnya. Sementara di sisi lain ada Siska yang juga melemparkan senyuman khasnya. Dia merentangkan kedua tangan untuk menyambut pelukan pagi dengan sang suami, melirik kakak madunya dan menatapnya rendah. "Aku pastikan wanita itu terbakar melihat kemesraanku dengan mas Zufar," gumamnya di dalam hati.


Zufar tersenyum menghampiri istrinya, terus berjalan melewati Siska yang sudah merentangkan kedua tangannya. "Aku sangat merindukanmu," ucapnya yang menghamburkan pelukan.


"Aku tidak melihatnya," sela Tini yang pergi meninggalkan tempat itu, menutup kedua mata agar tidak mengganggu keromantisan Suci dn juga Zufar.


Sedangkan Siska sangat terkejut, mengingat suaminya yang melewati dirinya. "Mengapa mas Zufar melewatiku? Apa dia tidak memakan nasi itu atau membuangnya?" batinnya. "Mas, aku berada di sini. Mengapa kamu hanya memeluk mbak Suci, dan bukannya aku?" 


"Karena dia juga istriku, jangan protes apapun lagi." 


Suci tersenyum karena suaminya kembali, ternyata dugaannya sangat benar. Memanggil ustadz, berharap Siska segera bertaubat dan menjauh dari ilmu sesat. "Hari ini jadwal ku ke dokter."


"Hem, itu bagus. Aku akan menemanimu ke dokter!"

__ADS_1


"Aku ikut," sela Siska yang unjuk diri.


"Eh, bukankah jadwalmu masih seminggu lagi?" Zufar menoleh seraya menautkan kedua alisnya, masih mengingat jadwal dari wanita itu. 


"Iya, tapi aku ingin di periksa sekarang. Aku hamil juga anak kamu, Mas." 


Zufar menghela nafas dan menganggukkan kepala. "Baiklah, kalian berdua bersiaplah." 


****


Zaid datang ke yayasan untuk menemui Rasidha, menghampiri gadis kecil itu dan menyamakan tingginya. "Aku ingin ke Indonesia, dan tidak akan kembali kesini lagi. Aku sangat mencemaskanmu di sini, untuk itulah aku ingin membawamu pergi bersamaku. Bagaimana? Kau setuju?" 


Rasidha terlihat sedih, namun dia tersenyum saat mendengar Indonesia. "I-ibu?" ucapnya yang gagap, mengucapkan kata untuk pertama kalinya membuat Zaid alias Simon meneteskan airmata. 


"Nak, kamu berbicara? Ayo, ulangi lagi!" desaknya yang tak percaya. 


"Ibu Suci," ucapnya yang menangis.


Zaid segera memeluk Rasidha dan memeluknya dengan sangat erat, gadis kecil itu akhirnya mengeluarkan suara membuatnya sangat bahagia. Beban dan rasa bersalah sedikit berkurang, kali pertama dia menangis. "Aku tidak percaya ini, Suci membawa keajaiban untukmu. Kita akan ke Indonesia dan menemuinya!" 


Dengan cepat Rasidha menganggukkan kepala, berlari menuju penginapan dan mengemasi pakaiannya.

__ADS_1


__ADS_2